Kepedulian, Personal

Cicak bernyali buaya

Cicak yang membuaya
Kita sudah mendengar beberapa hari terakhir ini tentang perkelahian KPK melawan POLRI, atau yang di analogikan CICAK DAN BUAYA. Pada beberapa bulan lalu, ketika sorotan publik masih sedikit, beberapa hari ini melonjak drastis ketika di Mahkamah Konstitusi (MK) sebuah rekaman hasil sadapan Anggodo Widjojo oleh KPK.
Sebelum dilanjutkan, penulis akan terus terang bahwa penulis adalah PENDUKUNG CICAK DAN PENDUKUNG KEADILAN DAN PENDUKUNG RAKYAT. Jadi tulisan ini adalah Tulisan PRO CICAK.
Sebagaimana kita ketahui, susunan dan details kasus ini sudah setiap hari kita dengar beserta updatenya. Kalau kemarin pagi (kamis pagi) saya mendengar di radio bahwa Tim Pencari Fakta (TPF) atau Tim 8 mengisyaratkan untuk Presiden agar mencopot Kapolri dan Jaksa, yang juga dikatakan bahwa ini adalah KESEMPATAN EMAS bagi presiden untuk membuktikan kalau beliau mendukung pemberantasan korupsi. Namun, sudah lebih dari 24 jam dari kmarin pagi, dan belum terlihat aksi presiden selain press conference dan pernyataan bahwa beliau mendukung pemberantasan korupsi, dan itu ialah agenda nya yang terpenting. Ini respon saya : “Pak, kami perlu aksi, bukan puisi.”
Karena, lihatlah, keadilan kini sudah diperjual belikan. Dimana rasa malu pejabat-pejabat tinggi tersebut terhadap Tuhan? Tidakkah mereka tahu kalau semua perbuatan ada balasannya? Tidakkah mereka tahu kalau anak-anak mereka makan dari uang rakyat, itu akan menghasilkan gen-gen kotor yang akan membuat MORAL mereka menjadi buruk rupa?
Lalu pagi ini, saya mendengar kembali perkembangan kasus tersebut. Kini, Kapolri BHD (inisialnya) dan Susno (Kabareskrim) mendatangi panggilan komisi III DPR dan menangis disana. Dan berucap seolah-olah polisi yang sekarang dikriminalisasi. Dimana Common Sense mereka ? yang kemarin di nonaktifkan itu 2 Ketua KPK, dan sempat ditahan. Bahkan Bibit sempat berulang tahun ditahanan. Dan sekarang Kapolri dan Kabareskrim yang meminta belas kasihan ? yang benar saja. Oh iya, saya baru ingat, kemarin Anggodo juga meminta rakyat mengasihani keluarganya, bahwa ia juga manusia biasa. WHAT THE F !?
Keadilan lah yang harus di kasihani karena ia tidak lagi menjadi hal yang dihormati, tapi malah dilempar lempar dan diinjak oleh UANG.
Komisi III DPR bertepuk tangan ketika Susno bersumpah tidak menerima uang suap dan menangis. Apa apaan itu ? DPR tidak bertepuk tangan ketika 12 Mahasiswa berMogok Makan di depan gedung KPK sampai sekarang tinggal 2 orang. Yang lain ada yang pingsan. SAYA DAN LUBUK HATI SAYA BERTEPUK TANGAN KERAS UNTUK MEREKA. KEADILAN JUGA BERTEPUK TANGAN. DPR yang seharusnya wakil rakyat, apa mereka mewakili kekecewaan rakyat terhadap POLRI ? tidak. Mereka bertepuk tangan terhadapnya.
Susno tentang istilah cicak dan buaya pada kecanggihan alat penyadap KPK dan Polri.
Seperti saya baca di detik.com, Susno menjelaskan bahwa Kecanggihan alat penyadap KPK masih jauh dibawah alat penyadap POLRI. Dia menganalogikan kalau alat penyadap KPK adalah cicak, maka alat penyadap Polri adalah buaya. Ini respon saya : “sekarang gini aja deh, bukti nya saat ini, alat KPK menghasilkan sadapan yang membuktikan kejahatan. Kejahatan besar. Sedangkan alat Polri ? tidak pernah menghasilkan sesuatu yang secanggih ini. Jadi dimana cicak dan buaya nya ? ”
Anggodo juga belum ditetapkan sebagai tersangka, bukti sudah ada didepan mata. Sedangkan Bibit dan Chandra langsung di non aktifkan serta merta beberapa waktu lalu. Polri bilang sedang memformulasikan pidananya.
Sudahlah, saya sebagai rakyat biasa hanya berharap Keadilan akan kembali berdiri tegak. Hanya bisa berusaha lewat dukungan ke teman2 yang berdemo, dan berdoa kepada Allah SWT. Sebab saya yakin, Indonesia akan jauh lebih baik jika keadilan adalah landasan segala hukum.
Terima kasih, semoga bermanfaat.
Satu CL