Event, Personal, Ulasan

Jurnal perjalanan ke makassar

Makassar, September 2010
Dimulai dari pagi itu, dimana aku bangun pagi dan mandi lalu berangkat menuju bandara. Pesawat menuju Makassar pagi itu di delay beberapa puluh menit. Aku menunggu dengan sabar sambil menlanjutkan pengerjaan freelance project aku yang aku bawa.
Ketika aku masuk pesawat, aku sangat terkejut melihat bapak mantan wakil presiden, Jusuf Kalla, di seat paling depan, aku sempat berpikir untuk menyapa dan bersalaman, tapi sayangnya beliau sedang menelpon (bukannya di pesawat tidak boleh menelpon ?, well mungkin saja itu karena pesawat belum jalan) dan aku pun berjalan terus menuju seat aku 6E. disebelah seat ku ada seorang lelaki berusia sekitar 32 tahun, memakai pakaian hitam. Kelihatan seperti seragam. Dia salah mengira 6D dan 6F. seat nya adalah 6F. ketika dia pindah, aku melihat sebuah walkie talkie yang dibawanya, aku langsung bisa menebak kalau dia adalah pengawal bapak Jusuf Kalla. Oh ya, kalau ada yang belum tahu, bapak Jusuf Kalla berasal dari Makassar, jadi sudah wajar kalau dia pulang ke kampungnya untuk berlebaran. Dan jika ada yang belum tahu juga, kampong aku bukan di Makassar tapi di Palu. Tapi tahun ini kami merayakannya di Makassar, karena memang banyak juga saudara di sana.
Kembali ke bapak pengawal tadi, dia mengiyakan ketika kutanya kalau dia adalah pengawal bapak JK (begitu beliau di kenal), namun, tipikal pengawal, dia berusaha tidak menjawab pertanyaan lain yang mulai menjurus. Padahal aku penasaran.
Jam 1 lebih aku sampai di bandara Sultan Hasanuddin. Lebih modern dari yang kukira. Mungkin sedikit lebih modern dari pada  bandara soekarno hatta, maksud ku, kelihatan lebih baru, Karena masih berambisi bersalaman dengan bapak Jusuf Kalla, aku mencoba keluar pesawat berdekatan dengannya. Tapi masih gagal juga rupanya. Diluar pesawat media sudah menanti untuk meliput kedatangannya. Begitu juga dengan beberapa orang orang dengan seragam PNS. Aku tidak ingin tahu siapa mereka. Hehe. Jadi, yang terbaik yang bisa kulakukan adalah tetap di belakang bapak JK, agar bisa masuk dalam kamera wartawan. Hehe
Akhirnya aku naik bis damri menuju tempat tinggal saudara ku, karena untuk suatu alasan, penjemput ku seperti nya tidak datang. Tidak masalah, aku suka menjelajahi tempat baru. Sayangnya di tengah jalan, hujan lebat. Dan aku harus memikirkan strategi untuk turun di tempat yang bisa berteduh, sekaligus melindungi bawaan ku Asade dan Kounan (laptop dan kamera ku). Yah akhirnya aku sampai juga di rumah tante Hapsa.
Rumahnya kelihatan hangat, dan tidak begitu ada hal yang aku harus keluhkan. Aku langsung mengganti baju, dan duduk ngobrol dengan sepupu-sepuupu ku Rini dan Reni.  Tante muni dan keluarga nya datang 2 jam setelah aku sampai. Mereka rombongan dari Palu, dan mereka naik mobil ke Makassar. Tau lama perjalanan mereka ? jam 3 siang dari palu, jam 4 sore sampai di Makassar. Luar biasa kan, 25 jam. Padahal di peta, kelihatannya tidak sejauh itu. tapi kelihatannya jalanannya melewati bukit dan gunung. Semacam itu lah.
Buka puasa selasa sore, dibuka dengan pisang ijo. Wah ini menu baru bagi ku. Lumayan. Malam itu kami ke Mie Titi. Mie kering yang disiram kuah, dan ditambah bakso, sayur, ayam. Setelah itu kami menuju rumah saudara kami di daerah Gowa.
Ngobrol dan ngobrol, kegiatan yang sudah wajib bagi orang Indonesia. Kira kira jam 11 kami sampai kembali di rumah. Aku langsung tidur.
DAY 2
Rabu pagi aku ke warnet untuk membuka email ku dan memberitahu teman teman CS di Makassar, kalau aku sudah di Makassar. Mungkin saja aku bisa berkenalan dengan teman baru. Pagi itu saudara-saudara ku pergi ke pasar, dan bengkel, dan lain lain. Karena aku tidak terlalu tertarik, aku tinggal dirumah dan mengerjakan project ku bersama Asade. Tentu saja diselingi dengan Counter Strike atau Film Film. Aku tidak pernah bisa bekerja non-stop.
Siang itu seseorang bernama Rifa menelpon, dia salah satu CS Makassar. Berita bagus kan, kami langsung membuat rencana untuk hangout. Satu jam setelah telpon dari Rifa, Imam, juga salah satu CS yang ada di Makassar, sms ke nomor hp ku.
Tapi sore itu hujan lagi, dan aku tidak bisa keluar. Jadi buka puasa hari rabu adalah di rumah lagi. Aku sudah lupa apa menu sore itu, tapi cukup enak juga. Seseatu yang aku tidak makan di Jakarta juga. Oh aku ingat, cumi cumi dengan rasa yang enak. Setelah makan malam , aku berangkat menuju rumah Rifa. Dia memberiku alamat dan petunjuk kesana. Aku berjalan kaki.
Seharusnya tidak terlalu lama untuk sampai, tapi karena malam plus aku orang baru disana plus petunjuk yang diberikan tante hapsa kurang bagus, aku sempat salah jalan. Berlawanan arah bagaimanapun membuat ku lumayan pintar. Akhirnya 1 jam aku berjalan dan sampai di rumah Riffa. Celana pendek putih ku sudah kotor di bagian belakang karena becekan. Huh. Aku suka jalan kaki tapi tidak di jalan yang becek.
Rifa orang yang baik. Dia dan teman-temannya menyambut. Salah seorang dari mereka bahkan membuatkan kopi. Kami menghabiskan setengah toples kue Monde. Hehe. Dan sepertinya karena satu jam jalan kaki, setelah minum kopi, aku jadi ngantuk sekali. Aku pun pamit untuk pulang. Aku terpaksa memesan taksi, karena malam, hujan, plus aku sudah sangat ngantuk.
Aku langsung lupa segala nya ketika bertemu kasur.
DAY 3
Kamis ini kami hampir terlambat sahur. Tapi akhirnya aku makan juga. Aku lupa apa setelah sahur aku tidur atau melanjutkan kerja ku. Tapi pagi itu kami bersama sama keluar. Mereka ke pasar lagi dan beberapa tujuan lain, aku ingin melanjutkan kerja ku, jadi aku perlu tempat dengan meja dan colokan. Aku ke kantor Rifa. Berkenalan dengan teman teman kantor nya. mereka orang yang lucu. Aku mengetik dan mengetik, dan ngobrol dan ngobrol.
Sore itu CS lain yang juga kerja di tempat Rifa bekerja, datang ke kantor. Namanya Irma. Seperti Rifa, dia juga orang yang menyenangkan.
Setelah kira-kira jam 4.30, kami menuju pantai Losari. Salah satu pantai yang menjadi landmark Makassar. Aku mengambil beberapa foto yang bagus disana.
Lalu Irma dan Solene datang bergabung dengan aku dan Rifa. Kami mengambil beberapa foto bersama-sama. me at losariSolene berasal dari Prancis. Dia tinggal dan bekerja di Surabaya sejak 2 bulan lalu. Seorang guru bahasa prancis. Kami sempat membuat rencana untuk pergi ke Bira, salah satu pantai di Sulawesi Selatan, 4 jam dari Makassar. Dan yang membuat ku sangat ingin pergi adalah karena disana kami bisa snorkeling. Ya, aku sangat suka snorkeling. Suatu hari aku harus berciuman dengan bintang laut. Atau foto memeluk karang.
Rifa harus pergi, dan tinggal kami bertiga. Kami lalu pergi ke suatu restoran, aku buka puasa disana. Puasa hari terakhir.
Oh ya, di meja yang sama kami bertemu 2 pemuda local, dan salah satu dari mereka lancar berbahasa inggris, tapi ia sedikit sombong. Aku kurang nyaman dengan orang yang suka membicarakan kehebatan mereka.
Lalu mereka berdua harus pergi, aku pun berjalan menyusuri pantai selama beberapa menit. Karena Asade dan Kounan bersama ku, aku sedikit khawatir, jadi ku telpon om ku dan minta di jemput. Karena macet, dia bilang susah untuk menjemput. Tidak masalah, aku berjalan ke tempat mereka makan malam. Setelah dari restaurant Sop Saudara itu, kami menuju suatu daerah yang aku lupa namanya, untuk menemui saudara lainnya. Seperti biasa, kami ngobrol dan ngobrol sampai jam 11.
Isi obrolan selama beberapa hari ini hanya berkisar di 1-2 topik. Kelihatannya masalah yang cukup berat untuk pihak yang terlibat. Sedikit bisa menjadi pelajaran ku juga.
Kami sampai di rumah jam 12. Dan aku menulis sebentar sebelum tidur.
DAY 4
Pagi ini kami sholat Ied berjamaah. Bangun di subuh hari setelah tadi malam tidur jam 2 tentu saja membuat ku sedikit malas bangun (bukan sedikit sih sebenarnya hehe) tapi ya tentu saja dipaksa, ini kan salah satu dari 2 sholat yang hanya dikerjakan setahun sekali.
Cuaca pagi itu lumayan baik (baca:tidak hujan). Kami dapat tempat di jalan raya, menggelar Koran dan shajadah untuk alat sholat. Setelah sholat seharusnya ada acara mendengarkan ceramah, toh memang sudah wajib mendengar ceramah. Tapi yang terjadi malah tidak demikian. Orang-orang mulai meninggalkan tempat sholat setelah berdoa setelah sholat, walaupun di jauh sana khotib mulai membaca khotbah. Aku yang tadinya ingin tetap duduk dan mendengar pun jadi tidak bisa mendengar dan harus meninggalkan tempat ku, karena orang-orang yang mulai pulang melewati jalan. Aku bisa saja terinjak oleh orang-orang yang berjalan dan tidak melihatku duduk disana. Betul betul aneh. Dan satu hal lagi yang bikin aku sedih, mereka membiarkan Koran-koran yang dijadikan alas itu, berserakan disana. Kan mereka yang pakai, kenapa bukan mereka yang membersihkan. Untukku, itu sama saja membuang air besar, tapi menyuruh orang lain yang menyiram. Tidak sopan.
Kupunguti saja Koran sebanyak yang aku mampu bawa ditanganku. Orang-orang melihat ku dengan heran karena Cuma aku yang membawa Koran-koran itu. aku memasang muka yang mengandung maksud “INI SAMPAH LO GW YANG BAWA, CONG”
Kami pun naik mobil om hengki dan meninggalkan tempat sholat. Kembali kerumah, sudah ada Coto Makassar, Burasa, ketupat, opor ayam, dan kue kue lebaran. Ahhh nikmatnya. Ini hari pertama tidak puasa setelah 30 hari yang lalu aku berpuasa. Bebas makan. Orang barbar bermunculan mengambil makanan. Namun, kami saling mengingatkan, kalau di setiap rumah yang akan kami datangi hari ini, kami juga akan makan. Hehe
Sekitar pukul 11 pagi itu, kami mulai berangkat menuju rumah saudara yang pertama. Aku yang sebelumnya kurang mengenal keluarga di Makassar, mulai menghapal satu persatu tempat setiap orang di silsilah keluarga.
Dari rumah pertama ke rumah kedua kami terkena kemacetan yang lumayan. Ya benar, di Makassar juga ada macet, khususnya hari lebaran seperti ini. Woho. Untung aku jarang mengemudi mobil, jadi ketika saat itu aku mengemudi, aku masih bersemangat (karena jarang-jarang). Hehe
Rumah kedua lumayan lama kami berdiam disana. Di rumah itu aku makan untuk yang ke 4 kali nya. 1 dirumah tante hapsa (tempat ku menginap), ke dua di rumah Vicki, ke tiga dan empat di rumah tante Ros. Makanan disana enak. Aku sempat tidur sebentar juga.
Jam berapa kami pergi ? sekitar jam 5 sore. Menjelang magrib. Kami ke tante nurmin. Disana aku makan lagi. (sudah kubilang, barbar bukan). Sholat magrib, dan ngobrol ngobrol ini itu. tante ini rupanya sepupu langsung dari mama ku, tapi dari sisi kakek, aku selama ini hanya hapal yang dari sisi nenek. Dia orang yang baik sekali.
Lalu jam 8 kami pergi menuju rumah kak Garna. Kakak yang satu ini hanya beda 4 tahun dengan ku (benar tidak ya) tapi sekarang ia sudah punya 4 anak. Wahhhh. Sebelum hari ini, aku hanya pernah bertemu dengan anak pertamanya, Dita. Sekarang sudah ada Chiki, Chiko, dan Alfatih. Kue coklat dirumah kak Garna enak banget. Hehe dan Alfatih juga super lucu !
Lalu kami pulang, aku lupa jam tapi lebih dari jam 10 malam. Dan sampai dirumah aku tidak ingat apa-apa lagi kecuali kasur. Tidur ku nyenyak malam itu.
DAY 5
Pagi itu aku bangun lumayan pagi. Sholat subuh dan mengetik di pagi hari. Lumayan seru juga. Aku sempat berkeliling daerah Sukaria (tempat ku tinggal) tapi tidak lama karena bukan daerah yang seru. Aku kurang ingat tapi kurasa aku sempat tertidur sebentar. Jam 10 aku pergi ke warnet untuk online selama beberapa jam. Membuka email, membalas beberapa email, dan ucapan lebaran.  Sekitar jam 1 aku pulang karena perut ku sudah lapar.
Setelah makan aku hanya nonton dvd karena diluar hujan, padahal aku ingin sekali keluar dan menjelajah kota. Huh. Ketika sudah lumayan sore, untung saja hujannya berhenti. Aku langsung menggunakan kesempatan itu untuk keluar. Ini hari terakhirku, dan aku tidak mau dirumah saja.
Aku mulai dengan meminta di drop di daerah Sentral. Jam 4 aku sampai disana. Aku berkeliling di pasar itu, tapi tidak ada barang yang begitu menarik perhatian ku. Asade laptop ku, kutinggal dirumah. Aku hanya pergi dengan Kounan si kamera ku. Aku harus mengambil foto2 yang bagus hari ini.
Setelah sentral, aku sampai di MTC, Makassar trade centre, mall yang kelihatannya besar. Tapi kios kios didalamnya kebanyakan kecil. Mungkin seperti ITC kalau di Jakarta. aku mampir di toko batik dan membeli beberapa barang menarik.
Lalu aku mulai berjalan, di dekat MTC ada lapangan bola karebosi, aku mengambil beberapa foto disana. Termasuk 1 foto bulb yang aku lumayan suka. Setelah karebosi, aku mau ke Losari. Lumayan foto malam disana pasti bagus. Seperti nya tidak dekat juga dari sana, tapi sepertinya aku tau arah jalan kesana. Jadi aku mulai jalan.
Di jalan, ada orang aneh yang menanyakan “Dek, gimana pendaftaran masuk kampus itu ya?”, kata seorang bapak yang duduk sendiri di pinggir jalan. aku 80% yakin dia bermaksud tidak baik, kalian tau, modus-modus hipnotis atau semacam itu. lagipula topic yang ia buka aneh sekali. Aku bilang aku tidak tahu, dan langsung pergi setelah menatap nya tegas. Setelah beberapa ratus meter. Aku menoleh, dan dia mengikuti ku. Jadi ku berhenti sebentar, dan melihat kearah nya dengan wajah “hey, gw uda tau lo mau ngejar gw”.
Dan kelihatannya berhasil, dia tidak lagi mengikuti. Dan jalan yang kuambil benar, aku sampai di Losari. Hal pertama yang kulakukan adalah ke Pier. Restoran pinggir pantai yang punya setting bagus untuk ambil foto. Kupesan pempek berharga 8 ribu. Dan ini yang lucu, aku kepedasan, dan memesan aqua botol berharga 10 ribu. Apa aku yang dibohongi ? tapi aku minta struk nya, dan memang segitu. Atau karena memang restoran itu satu tempat dengan hotel Makassar Golden Hotel.
Whatever. Itu terakhir kalinya aku beli minuman di sana. Tapi ya lumayan, aku dapat beberapa foto bagus. Dari sudut restoran itu.
Setelah dari sana, aku menyusur pantai pelan pelan. Melihat sekeliling kalau kalau ada object yang bagus untuk difoto. Aku berhenti beberapa menit kemudian ketika melihat gerobak tukang Pisang Epe. Aku makan lagi (namanya juga explore + hunting + kuliner) hehe pisang epe enak banget. Pisang pake keju (kebetulan yang kupesan waktu itu rasa keju) dengan saus manis seperti kuah. Nyam !
Setelah pisang epe, aku jalan ke tengah pantai losari. Aku bertemu kembali dengan anak yang menawari naik perahu bebek waktu aku kesana sore hari (hari kamis). Karena kebetulan aku juga ingin, dan tidak mahal. 5 ribu untuk 1 putaran (5 menit) yah aku ambil saja. Aku juga bisa memfoto dari atas perahu bebek itu.
Setelah perahu bebek, aku melihat beberapa kembang api dipasang. Jadi aku pikir pasti akan ada banyak kembang api malam ini, jadi aku mencari tempat duduk yang nyaman, untuk menunggu kembang api untuk ku foto.
Dan kebetulan sekali, Sarabba (minuman jahe kesukaan ku) yang katanya tidak ada di Losari, tiba tiba muncul di bawa penjual Sarabba keliling. Aku tidak berpikir dua kali untuk memesan. Beberapa kembang api muncul, dan aku sedikit kesulitan mencari focus untuk langit malam hari (focus kamera manual). Tapi akhirnya dapat juga beberapa, walaupun lampu di losari berlebihan sehingga sulit mendapat angle yang bagus.
Beberapa anak pengamen mengampiri ku dan mulai bernyanyi. Tapi gitar itu suaranya jelek sekali. Aku meminjamnya dan langsung menyetem nya. hampir saja aku menemani mereka ngamen, akungnya aku sedang standby menunggu kembang api. Hehe
Setelah lumayan capek, aku pun pulang. Sampai dirumah aku sekali lagi tidak ingat apa apa kecuali kasur dan mimpi ku malam itu. hehe
DAY 6
Pagi ini aku pulang. Bangun pagi langsung mandi dan siap-siap. Sampai di airport  tidak terlambat. Semua lancar. Hanya saja, di pesawat aku tidak bisa tidur dengan baik. Mungkin karena pagi ya. Aku sempat mengambil beberapa foto juga dari atas pesawat. Beberapa diantaranya bagus loh. Jam 9 pagi aku sudah di bandara soekarno-hatta Jakarta.
Terima kasih Makassar dan keluarga ku disana, untuk pengalamannya. Semoga nanti aku ada kesempatan untuk kesana lagi. Oya, Sunglass kesukaan ku ketinggalan. Argh ! tapi biar saja. Tidak mahal kok.