Kepedulian, Personal, Writing

Concept of need

Ini tulisan tentang memberikan ke sesuatu yang memerlukan.
Pernah berpuasa ? jika anda muslim , pasti pernah, dan kalau non muslim pun mungkin pernah. Point yang bisa diambil dari puasa, adalah menahan lapar, haus dan lain lain. Kita semua mungkin sudah tahu. Tapi kali ini kita memfokuskan kepada rasa lapar. Lapar yang ditahan sejak pagi, harus menunggu sampai maghrib. Dan ketika sudah masuk jam 5, saat saat menuju buka puasa datang. Dan akhirnya makanan pun masuk ke perut dan kita akan terasa sangat senang.
Pernah terjatuh dan terluka ? sebagian orang juga pasti pernah mengalami hal ini. Contoh kita jatuh dari sepeda, lutut berdarah, lalu diobati dengan betadine dan obat merah. Diolesi obat dibagian yang terluka, sedikit sakit tapi pada akhirnya sembuh dan kita pun senang kembali.
Apa hubungan dua kasus atas dengan judul tulisan ini ? kalau kita ambil garis persamaan, kita akan mendapat satu kesimpulan, bahwa sesuatu yang diberikan kepada sesuatu yang memerlukan itu akan mengobati, membuat jadi baik, membahagiakan. Pada kasus 1, perut kita yang memang sudah perlu makan, diberi makan. Semua jadi baik. Seandainya kita makan sewaktu perut kita kenyang, mungkin nikmat nya tidak akan sama dengan sewaktu kita lapar. Betul tidak ? lalu pada kasus 2, luka yang memang juga perlu disembuhkan, mendapat olesan betadine. Seandainya lagi, olesan itu dioleskan ke bagian yang tidak luka, tentu saja tidak akan berpengaruh apa apa.
Lalu apa kaitan hal ini dengan kehidupan kita ?
Sekarang kita berkaca, kita mungkin sudah sadar dengan kesimpulan diatas. Tapi apa kita mengaplikasi kan nya ? jawab jujur bukan ke saya, tapi pada hati anda sendiri.
Kita sudah bisa puas dengan pakaian yang kita miliki, tapi masih saja membeli membeli dan membeli lebih banyak pakaian, tidak jarang dengan harga yang juga lebih mahal dari yang biasa.
Kita sudah bisa puas dengan 1 mobil kijang keluarga, tapi masih merengek minta dibelikan mobil civic sendiri agar bisa jalan jalan dengan teman, dan menghabiskan lebih banyak uang lagi (dibandingkan dengan sebelum punya mobil sendiri)
Kita sudah bisa puas dengan makan seharga 20ribu, tapi lebih sering makan di mall bergengsi dan menghabiskan paling sedikit 40ribu hanya untuk semangkuk ice cream.
Itu sama saja dengan tidak mengerti nilai moral yang saya bicarakan.
Seandainya pakaian pakaian mahal kita tadi dibelikan untuk anak-anak miskin dan lansia yang kurang mampu yang baju baru diganti setelah 3 hari. Baju ganti nya pun sudah lusuh, kalau pun sudah dicuci, tapi jarang ada yang kering sekali karena rumah selalu bocor.
Seandainya mobil sendiri yang hanya untuk kita ditukarkan sebuah angkutan umum yang digunakan untuk mengantar anak-anak miskin yang sehari hari mereka ke sekolah berjalan kaki karena ayah ibu mereka tidak bisa memberikan ongkos jalan. Tidak sedikit yang tidak punya orang tua.
Seandainya ice cream seharga 40 ribu itu ditukar kembali dengan uang 40 ribu, mungkin dapat membantu lebih dari 5 anak-anak miskin untuk makan siang mereka. Yang gizi nya lebih baik dari makanan ala kadarnya yang mungkin Cuma 1 hari sekali dirumah rumah mereka.
Karena sesungguh nya uang 10 ribu bagi kita dan bagi mereka itu sangat jauh perbedaannya. Jadi sekarang kita sama-sama sudah tau kan , siapa yang lebih memerlukan ?
Lalu kenapa kita masih saja selalu membuang uang untuk memperkaya orang yang sudah kaya ? (pemilik toko toko baju mahal, pemilik restoran franchise yang mendunia, pemilik toko kopi yang sangat jauh dengan kopi yang alami)
Berpikir sebelum berbicara, kali ini, coba berpikir juga sebelum kita membelanjakan uang kita.
Semoga bermanfaat.
Oleh Satu Cahaya Langit