Jalan Jalan, Personal

SEAT1 – South East Asia Trip Satu .. part two

Day 3 : day trip in KL

Saya senang karena full 5 jam selama perjalanan bus, saya dapat tidur dengan nyenyak. Artinya saya kemungkinan besar punya tenaga untuk berjalan keliling kota hari ini.
Bus sampai di jalan Imbi ketika saya bangun. Cewe cewe bule di sebelah belum bangun, bahkan setelah saya panggil namanya. Saya harus menyentuh tangan mereka. Mereka pun bangun.
Di luar masih subuh,iyalah ini kan masih jam 5 pagi. Saya diminta tolong oleh kedua cowo india untuk mencarikan taksi. Saya melambaikan tangan kepada satu taxi yang lewat. Untung sekali, supir nya adalah india juga. Mereka berbicara bahasa yang sama. Saya berkata kepada supir taksi, agar mengantar mereka ke hotel di daerah maluri. Mereka punya alamatnya. Dengan bahasa melayu loh, saya juga tidak bisa berbahasa india. Mereka pergi setelah berterima kasih.
Melihat kearah cewe cewe jerman, mereka sedang berbicara dengan supir taksi. Kelihatannya belum menanyakan arah ke hotel. setelah saya dekati, mereka sedang mencari toilet dan ATM. Saya yakin supir taksi tidak menjawab pertanyaan mereka, karena mereka kelihatan masih bingung.
Saya kembali menawarkan bantuan. Di belakang kami kebetulan ada 7eleven. Yang ada ATM nya. Mereka mengambil uang disana. Dan saya bertanya pada satpam hotel tentang toilet. Ada di dalam gedung. Ketika menunjukan arah toilet, salah satu dari cewe jerman itu bertanya kepada saya, “kamu emang ngapain di KL?” dengan nada yang sedikit tidak percaya. Mungkin mereka sedikit curiga kenapa saya membantu mereka terus. Sangat bisa dimaklumi. Saya juga akan melakukan itu kalau berada di negara asing dan ada orang yang membantu banyak.
“saya juga sedang travelling. Dulu saya pernah tinggal di KL selama 2 tahun. Jadi sedikit familiar. “ jawab saya. Kami ke toilet. Setelah itu mereka mau mengambil taksi untuk ke hotel mereka. Mereka sudah memesan satu kamar di guest house tertentu. Tidak mau untuk dicurigai lebih banyak, saya memutuskan untuk menolong hanya sampai taksi. Tapi setelah melihat alamat hotel itu, yaitu di jalan Tongkat Tong Shin bukit bintang, saya bilang pada mereka kalau itu dekat dari sini dan bisa jalan kaki. Otomatis saya menawarkan untuk mengantar.
Mereka meng-iya kan. Lalu kami pun berjalan. Saya tidak tahu pasti dimana jalan ini, tapi saya tau itu di daerah bukit bintang. Setelah bertanya, arahnya yaitu di dekat hotel Alson Genesis. Dulu saya pernah bekerja di satu bar, dan setiap pagi pulang lewat jalan itu. Mereka bertanya saya menuju kemana, saya jawab kerumah teman saya juga di daerah dekat dengan hotel mereka.
One story finished in one rain 🙂
Guesthouse mereka sedikit tidak kelihatan. Mungkin karena masih subuh. Akhirnya kami menemukannya. Saya pamit lalu berjalan menuju jalan sahabat. Rumah teman saya, Hunch. Hujan sudah mulai turun dan walaupun saya menemukan jalan sahabat, tapi saya khawatir akan basah lebih dulu sebelum menemukan rumah Hunch. Jadi saya mampir di restoran india, kami menyebutnya kedai Mamak.
Lumayan lapar juga, saya memesan maggie goreng (mie goreng) dengan teh panas. Makan dengan lahap sambil menonton siaran ESPN di tv. Mereka sedang menyiarkan pertandingan muay thai. Kickboxing mungkin, saya tidak tahu. Tapi enak juga nontonya. Tiba tiba saya dapat inspirasi untuk lanjutan cerita saya yang belum selesai, tentang Fido dan Liana. Inspirasi datang dengan cepat, jadi secepat itu juga saya menulis nya dan akhirnya selesai saat itu juga.
Selagi saya menulis, ada seorang pengemis yang datang dan minta uang untuk dia beli susu. Bapak itu kelihatannya ber-etnis india. Dia hanya membawa sebuah tas kecil dan beberapa kotak minuman. Dibanding pengemis di Jakarta, yang ini kelihatan lebih baik nasibnya. Tapi ya, tetap saja pengemis, saya kasihan. Tapi bukan gaya saya untuk memberi uang, jadi saya menawarkan agar ia memesan di warung ini, saya akan membayarnya. Tapi sayang di kedai ini tidak ada susu kotak yang ia mau. Ia tetap meminta uang, dan saya menjawab saya tidak bisa memberi uang. Lalu saya menawarkan agar ia makan saja di warung ini. Dia berpikir sebentar kemudian meng-iya kan. Beberapa staff datang dan mencoba mengusirnya. Saya bilang tidak apa apa, saya akan bayar apa yang ia pesan. Si paman memesan nasi putih dengan ayam goreng. Makan nya lahap dan cepat. Saya tidak akan berpikir kalau dia tidak lapar. Sambil makan, paman itu bercerita sesuatu tentang politik malaysia dan politik libya, saya tidak begitu memperhatikan apa yang dia katakan, karena sedang asyik menulis cerita saya. Tapi saya sedikit heran kenapa ia bisa tahu sebanyak itu tentang politik. Apa hanya mengada-ada? Terserah aja deh. Hehe.
Selesai 1 nasi, dia minta tambah satu nasi lagi kepada saya. Saya merasa senang bisa membuatnya makan banyak. Saya memesan satu nasi lagi untuknya. Sampai akhirnya dia pergi setelah makanan nya habis. Cerita saya pun sudah selesai. Hujan juga sudah mulai berhenti. Walaupun sekarang sudah jam 7. Sudah 1.5 jam saya di warung ini. Saya memutuskan untuk pergi ke Hunch sekarang.
Tidak sulit menemukan rumahnya. Terletak di flat berlantai tiga. Rumahnya di lantai dua. Karena di gembok, saya mengetuk gembok nya. Tidak ada jawaban. Saya keluar untuk menelponnya dari telpon umum. Ternyata Hunch sudah berangkat kerja ! ah sayang sekali. Saya berencana meletakkan barang saya di rumahnya agar bisa berjalan jalan di KL. Tidak terpikir kalau Hunch bekerja shift pagi. Kesalahan saya.
Baiklah, saya akan ke penitipan barang di pudu raya, kata saya pada diri sendiri. Lalu berjalan kira kira 10 menit untuk sampai ke pudu raya. Menitipkan barang saya di sebuah guesthouse. Dan saya membawa tas kecil hitam Oakley saya berjalan. Terminal bis Puduraya rupanya belum selesai juga. Mereka merenovasi nya untuk jadi lebih baik. Mungkin sejak beberapa bulan lalu. Malam ini saya akan naik bis ke Kedah, pasti dari bukit jalil.
Going around and around KL
Karena banyak yang harus saya hubungi di KL, jadi saya memutuskan untuk membeli sim card untuk Hp. Tapi pada jam segini belum ada yang buka, jadi saya memutuskan untuk mampir di warnet sampai jam buka.
Akhirnya 2 jam lebih saya lewati di warnet. Dan ketika keluar, matahari sudah menantang. Ahh hangat. Saya menuju maybank tower dan mengambil beberapa uang yang tersisa di akun Maybank saya. Setelah itu saya menuju terminal Bukit Jalil untuk membeli tiket. Di dalam LRT starline saya melihat langit KL yang bagus. Biru dan awannya gendut gendut. Saya suka sekali awan.
Di Bukit Jalil, saya membeli sebuah simcard maxis, dan juga tiket bus mara liner. Bus berangkat jam 10.30 dari terminal Bukit Jalil. Setelah tenang karena sudah mendapat tiket. Saya kembali menuju KL. Jam 11.30 saat itu, saya menelpon Dian Ayuba, sahabat saya semasa di kampus dulu. Jangan liat namanya yang seperti dia perempuan, dia laki laki loh. Sekarang ia sedang melanjutkan Master degree sambil bekerja di KL. Jam istirahatnya adalah jam 1 siang.
Saya sampai di Plaza Central, Bukit Bintang, tempat dia bekerja, pada jam 12.30pm. menunggu sebentar, akhirnya kami bertemu. Kami makan siang bersama dengan beberapa teman kantornya. Dian belum berubah. Masih seperti yang dulu. Mungkin sedikit lebih banyak berbahasa melayu saja. Hehe
Selesai makan, dia kembali masuk kerja. dan saya ada janji jam 5 sore dengan Yugi, teman lama saya. Sebenarnya berencana menunggu di bukit bintang, tapi tiba tiba teman saya yang lain, Balqhis, membalas sms saya. Saya menuju kerumahnya.
Bertemu Balqhis dan ngemil di kedai mamak didekat rumahnya. Dia juga tidak banyak berubah sejak dulu kami terakhir bertemu. Tahun berapa ya ? mungkin 2009. Kabarnya kelihatannya lebih baik dari yang dulu. Saya pamit jam 4 dan segera menuju Bukit Bintang.

the twins
the twins
Sampai di tempat janjian pada jam 5 tepat. Saya menunggu Yugi. Dia datang sekitar 10 menit setelah saya sampai. Kami ngobrol banyak di starbucks. Yugi sedikit berubah. Dia kelihatan lebih dewasa. Beberapa hal tidak berubah dari nya 🙂
Sekitar jam 7pm kami menuju Pavilion untuk makan malam. Dan jam 9pm saya pamit karena harus mengejar bus jam 10.30pm. Bukit Jalil itu jauh dari sini. Dian menelpon dan bilang dia mau mengantar saya ke Bukit Jalil. Wah baik sekali.
Karena harus mengambil backpack saya yang saya titip di guesthouse, saya cepat cepat kesana. Dan berjalan sedikit cepat. Agar tidak terlambat. LRT pada malam hari lebih sedikit dari siang hari. Bertemu Dian di LRT plaza rakyat, kami menuju bukit jalil.
Dia bercerita lebih banyak. Saya melihat kabarnya juga lebih baik dari waktu dulu. Baguslah. Kami sampai di Bukit Jalil. Dan menunggu kira kira 15 menit sambil ngobrol. Akhirnya bis nya siap, saya pamit dan naik ke bis.
Tidak melihat siapa siapa yang bisa diajak bicara di dalam bis, saya tidur saja. Ini malam kedua di bis. Lumayan menghemat pengeluaran. 7 jam akan jadi tidur yang cukup baik.
Selamat malam !

Day 4 : UUM to Hatyai, same old route

Sampai di kampus lama saya, UUM, sekitar jam 5.30am. bis berhenti di University Inn. Saya turun dan menatap sekitar sebentar. Tidak berubah ya. Saya cepat cepat ingat kalau november 2010 lalu saya baru kesini. Hehe
Marisa dan Dita, 2 adik kelas saya yang baik hati dan tidak sombong  😛 sudah menunggu di depan kantor inn. Saya sudah memberitahu Aldi, teman seangkatan saya dulu, yang sekarang meneruskan PhD di UUM, kalau saya akan datang pagi ini. Tapi di telpon dia tidak angkat. Saya tidak mau mengganggu nya.
Kami berjalan menuju Kolej TM. Menuju kamar Ray, pacar Marisa. Saya mau numpang mandi di kamarnya. Kebetulan pagi itu dia masih belajar kelompok, jadi saya tidak menggangu tidur nya.
Di kamarnya, saya langsung membuka peralatan mandi, dan mandi. Tidak lama kemudian saya sudah wangi dan sudah siap bergerak kembali. Hehe. Ini pertama kali nya saya bertemu Ray, karena dulu dia belum masuk ketika saya masih di UUM. Sepertinya dia anak yang baik.
Setelah mandi, kami menuju kolej Sime Darby. Saya dan Marisa berencana travel bareng ke Hatyai, Thailand hari ini. Dita akan mengantar kami ke border. Jadi mereka mandi dan saya menunggu mereka bersiap siap.

the walkway
the walkway
Sekitar jam 8am pagi itu, mereka siap. Mobil sewaan juga sudah ada. Emma, adik kelas yang lain, juga bilang mau ikut mengantar ke border, jadi kami menjemput dia. Saya memilih untuk jalan kaki menuju Kolej Mas, tempat emma tinggal. Sudah lama tidak berjalan di sekitar UUM.
Melewati sungai, dan beberapa jalan yang dulu saya lalui. Sepanjang jalan kenangan nih. Hehe. Saya sampai juga di Kolej mas. Kami lalu menuju perbatasan Malaysia-Thailand di Bukit Kayu Hitam.
Tidak begitu ada masalah di perbatasan Malaysia maupun Thailand. Sangat dimengerti, saya berjalan bersama para jagoan yang sudah puluhan kali melewati perbatasan ini, dan sudah tau sela nya, Emma dan Marisa. Kalau Dita saya yakin anak yang baik. :p (kalian baca ini ga sih ?)
Hatyai , ice cream and the same photo-postcard counter
Kami menukar Ringgit ke Baht. Kursnya tidak terlalu buruk. THB9.93 untuk RM1. Setelah dari sana, kami menuju satu warung makan thailand. Enak loh nasi campur nya. Topik ngobrol tiba tiba mengarah ke hal hal dewasa. Haha Emma dan Marisa banget :p haha lagi pengen ngejek mereka aja. Ngga kok, mereka anak baik.
Sesudah makan, saya dan Marisa pamit. Kami menuju van untuk ke Hatyai. Duduk di belakang, Marisa tertidur pulas. Untung dia ngga ngorok.
Van sampai di Lee Garden sekitar jam 1 siang. Kami langsung mencari hotel di sekitar sana. Seharusnya tidak terlalu mahal. Kami menemukan satu yang berposisi strategis. Dan harganya hanya THB380. Itu sekitar Rp100,000 saja. Jadi sharing kami hanya Rp50,000 per orang.
Sebelum kalian berpikir aneh aneh tentang kami berdua menginap. Stop. Dia seperti adik bagi saya, dan saya tidak menderita inses. (penyakit dimana saudara mempunyai hubungan seperti pacaran) hoho
Setelah meletakkan barang. Kami berjalan mengelilingi Hatyai. Oh sebelum jalan, kami mampir di Lee Garden plaza. Marisa sudah sejak pagi tadi membicarakan Gelato. Eskrim sekelas swensens yang menurutnya lebih enak. Setelah saya mencoba, memang enak sih, tapi tidak terlalu bisa membedakan lebih enak mana dengan Swensen’s.
setelah makan eskrim, saya mampir ke lantai 2. Sewaktu saya pertama kali ke Lee Garden, mungkin dulu, semester satu (tahun 2005), ada satu kounter di lantai 2, yang menjual foto foto hasil jepretan anak perempuan si tuan toko. Jepretan yang sangat bagus untuk anak seumur dia. Namana P.Nannar. pada saat itu, ibu nya yang ada di kounter, memberikan email anaknya. Dan kami saling membalas email selama beberapa kali pada tahun itu. Juga pada tahun tahun setelahnya. Walaupun kami belum sekali pun bertemu. Dia bilang dia kuliah di kota diluar Hatyai. Saya lupa namanya.
Kali ini pasti dia sudah besar ya. Foto fotonya masih ada dan lebih bagus dari yang dulu. Dia juga sudah punya blog dan gallery foto online. Saya tidak sempat mencatat. Tapi saya rasa akan mudah menemukan nya. Saat saya lewat kounter mereka, ada 1 anak perempuan, tapi saya rasa itu bukan dia karena kelihatan lebih muda dari seharusnya. Saya memutuskan untuk tidak bertanya, karena akan sulit menjelaskannya. Mungkin akan saya email saja nanti.
si marisa di tuk tuk
si marisa di tuk tuk
Kami mulai berjalan di kota. Tanpa tau arah yang jelas, kami tetap berjalan. Sampai akhirnya kami tau kalau ini sudah jauh. Kami sampai di Diana, satu plaza di Hatyai, dan akhirnya sampai di terminal bis. Marisa mengeluh kecapean, walaupun dia juga sebenarnya bisa sih. Hanya tidak biasa saja. Hehe
Saya cari tau tentang bis menuju Krabi untuk besok. Setelah cukup tau banyak, kami pulang ke hotel. karena masih jam 3 siang. Pasar malam belum buka.
Kami tidur dulu untuk beberapa jam. Sebelum sampai hotel, saya mampir membli simcard thailand. Saya akan perlu, karena total kunjungan saya di thailand mungkin sekitar 7 hari. Sebelum tidur, saya mengirim sms kepada Kiyoko dan Georg, teman backpacker yang juga sedang menuju Krabi.
Sekitar jam 6pm, saya dibangunkan oleh telpon dari Kiyoko. Dia rupanya sudah mengirim sms pada saya beberapa kali dan saya tertidur. Dia sedang di kounter tiket kapal ke Koh Phi Phi. Dan dia bertanya apa kami menuju Phiphi Don atau Phiphi Ley. Saya tidak begitu pasti bedanya apa, saya bahkan baru tau kalau ada 2 Phiphi. Saya menyuruh nya memberikan telpon kepada penjual tiket, karena yakin dia tau lebih banyak. Dan kebetulan bahasa inggris si penjual tiket juga lebih baik dari Kiyoko. Hehe
Phiphi Don adalah tujuan kami. Phiphi Ley rupanya bukan pulau utama tapi hanya pulau kunjungan. Telpon Kiyoko disudahi, Marisa juga terbangun oleh obrolan saya dengan Kiyoko rupanya.
30 menit setelah itu, kami sudah di KFC Lee Garden dan makan ayam KFC. Ayamnya lebih baik dari KFC malaysia, dan kira kira sama dengan KFC indonesia. Kami naik Tuktuk (angkutan umum di Thailand, sejenis oplet di Jakarta) menuju Pedthai. Dimana pasar malam diadakan setiap malam.
Sebelum masuk, saya mampir ke kounter tiket menuju Koh Phiphi. Mereka punya tiket yang tidak terlalu mahal, dan langsung menuju Koh Phiphi dari hatyai (van+ferry). Van berangkat besok pagi jam 8.30am.
Berjalan di sekeliling pasar malam. Yang juga tidak berubah dari waktu saya datang kesini dulu. Tiba tiba saja ada yang memanggil saya. Rupanya teman kampus dulu, salah satu pelajar Thailand. Tapi saya lupa namanya. Kami berbicara sebentar. Bertukar nomor. Lalu saya pamit.
si kafe bagus
si kafe bagus
Setelah puas melihat lihat di pasar malam, kami ngopi di kafe di depan pasar malam. Saya perlu online. Kafe itu bagus dekorasi nya. Di tata seperti rumah barbie. Di setiap meja ada komputer yang bisa online, dan ada wireless juga.
Setelah mengumpulkan info tentang Koh Phiphi dan Koh Lanta. Saya mempelajari bahwa Koh Lanta lebih murah daripada Koh Phiphi. Karena turis lebih banyak pergi ke Koh Phiphi. Tapi karena saya ada teman sharing, yaitu Kiyoko. Saya memutuskan untuk pergi ke Koh Phiphi.
Sekitar jam 10 malam, saya dan marisa sudah ada di kamar lagi. Tadi nya kami mau tidur sebentar sebelum malam keluar lagi dan midnite walk. Tapi kami tidak sempat bangun lagi. Mungkin lelah. Hehe
Selamat malam !