Jalan Jalan, Ulasan

SEAT1 (southeast asia trip satu) .. part seven

Day 12 : The Angkor Wat of Siam Reap

Seharusnya pagi ini saya bangun jam 4 pagi dan bersiap untuk Sunrise di Angkor Wat, beberapa artikel mengatakan sunrise disana sambil bersepeda, menu yang spesial. Ahh saya ingin sekali. Sayangnya jam menunjukkan pukul 8.00 am ketika saya bangun. ARGH!

me and my bike
me and my bike

Berusaha menerima kenyataan pahit, saya mandi dan berkemas. Mengemas tas ransel kecil hitam saya, dan berusaha membuatnya seringan mungkin. Lalu bergegas kelantai bawah dan mengambil sepeda yang kemarin sudah saya booking. Mereka me-markirnya di samping guesthouse. Tour sepeda dimulai !

Angkor Biking Begin !

 

Pagi ini lumayan bagus matahari dan cuacanya. Sepedanya juga lumayan. Map kota dan Angkor Wat juga sudah ada. Hari ini saya akan tour keliling Angkor Wat dengan sepeda. Oye !

Beberapa supir tuk tuk kemarin meyakinkan saya untuk menggunakan tuk tuk saja kelilingnya, karena disamping jarak ke Angkor Wat yang jauh dari kota, di dalam komplek Angkor juga besar sekali untuk dikelilingi. Percobaan meyakinkan mereka gagal untuk orang yang suka bersepeda seperti saya.

Melewati 2 lampu merah, saya sampai di jalanan lurus. Melewati beberapa pasar dadakan tradisional, saya mampir karena sedikit lapar. Saya makan sepotong roti dan membeli air mineral. Seperti dugaan saya, di tempat seperti ini lebih murah harga keduanya.

Saya mengayuh lagi. Pemandangan di jalan menuju ke Angkor Wat bagus deh. Pohon di kiri kanan dan meneduhkan jalan dari sinar matahari. Tidak banyak kendaraan yang lewat, dan banyak penduduk lokal yang bersepeda maupun sedang membawa barang dagangan. Saya menyapa semua penduduk lokal yang saya temui. Sempat juga ada satu penduduk yang mangga nya terjatuh dari motornya, saya mengambilkan untuknya.

Ada 2 bule cowo bersepeda melewati saya. Mereka juga menuju Angkor Wat pastinya. Tidak beberapa lama kemudian, saya melihat mereka berhenti di pos. saya menghampiri juga untuk mendengar apa yang mereka bicarakan dengan penjaga pos nya.

welcome to angkor
welcome to angkor

Kami salah masuk ! dasar. Jalan ini rupanya bukan jalan masuk dan untuk ke Angkor Wat, harus masuk melalui jalur satu nya lagi yang ada booth penjualan tiket. Jadi terpaksa kami bertiga harus putar balik dan mengayuh lagi. Smangatttt!!

Sekitar 10 menit kemudian saya sampai di booth tiket dan membeli tiket. Sedikit tidak rela sebenarnya membayar USD20 untuk tiket masuk komplek candi. Saya bukan terlalu peminat candi. Tapi yah, saya pengen juga lihat komplek candi terbesar di dunia ini, yang pernah menjadi satu dari tujuh keajaiban dunia. Beberapa candi pernah menjadi tempat shooting beberapa fillm terkenal.

Saya membeli satu tiket untuk satu hari (karena mereka punya banyak jenis tiket. 2 hari, 3 hari, bahkan ada yang 3 minggu). Setelah mendapatkan kartu masuk yang ada foto saya nya (tadi di foto dan di print di tiket), mungkin untuk verifikasi identitas, saya mengayuh sepeda menuju Angkor Wat.

Melewati jalan utama yang benar, lebih banyak turis turis dan kendaraan yang lewat. Dan beberapa menit kemudian, saya sampai di tikungan dan pos penjaga yang tadi saya salah masuk, mengangkat tangan kepada penjaganya yang membalas dengan senyum.

Angkor Wat and it’s top

Tepat setelah tikungan itu adalah Angkor Wat. Candi yang pertama adalah yang paling terkenal. Wah. Saya melihat beberapa sepeda di parkir di sisi kiri, di kunci mengikat ke sebuah pagar-tali. Saya mengikutinya. Beberapa penjual datang dan langsung menawarkan untuk membeli topi. Ya memang sedikit panas hari ini. Tapi saya dengan halus menolak. Salah satu dari penjual itu mengatakan, parkir disini gratis tapi harus membeli sesuatu. Saya tertawa saja. Dan langsung jalan saja.

Angkor Wat diawali dengan sebuah jembatan besar yang melintasi danau dibawahnya. Karena panas, saya tidak berhenti. Jalan menuju pintu masuk nya. Saya melihat lihat dinding candi. Salah satu hal yang saya suka dari candi adalah dinding dan mural mural nya. Hebat.

beyond the door
beyond the door

Lalu berjalan lagi ke dalam. Dan sampai di lapangan terbuka. Hanya ada 2 bangunan kecil disana. Di kiri dan kanan jalan. Guide rombongan di depan saya bercerita dan terdengar oleh saya, bahwa dua bangunan kecil ini adalah perpustakaan pada masa dulu ketika Angkor Wat masih merupakan sebuah kota. Mendengar perpustakaan, saya langsung belok dan memutuskan masuk ke sana. Hehe

Perpustakaan nya kosong rupanya. Ya iyalah, itu kan dulu. Saya sempat membayangkan seperti apa perpustakaan ini pada jaman dulu, sekitar tahun 1200-an. Apa masih diatas kertas ya nulisnya. Beberapa menit kemudian saya keluar dan berjalan menuju bangunan utama Angkor Wat.

Di dalam bangunan utama, saya mengelilingi bangunan itu dulu sebentar, melihat ukiran ukiran dindingnya. Kemudian menuju ke bagian tengah, dimana ada satu candi yang tinggi sekali, dan tangga keatasnya sangat curam sehingga mereka harus menempatkan tiang untuk pegangan. Saya yang takut tinggi ini pun berhasil naik dan melihat kebawah. Mungkin sekitar 20 meter ya, dari tanah. Atau sekitar lantai 7 suatu gedung kantor. Atau mungkin lebih.

walking up
walking up

Diatasnya sih ga begitu ada apa apa. Seperti biasa saja. Hanya view nya yang bagus. Saya mengitari puncaknya sekitar 10 menit, lalu turun lagi. Seperti biasa, turun lebih susah dari pada naik, karena harus melihat kebawah. Hoek.

Sampai di bawah ada yang unik, ada para penari tradisional yang kelihatannya sedang latihan atau rehearsal. Memakai kostum tradisional. Saya sempat menjepret mereka dengan HP saya.

Ya benar, hp saya. Salah satu kesalahan saya, bawa Kounan (kamera DSLR saya) tapi battre nya habis ! semalam lupa di charge. Bodoh bodoh bodoh. Anyway, udah cukup nyeselnya. Lanjut lagi kita jalan. Saya menuju keluar Angkor Wat, seperti nya sudah cukup di candi yang ini. Masih banyak candi lainnya. Jam sudah menunjukkan jam 10 lebih. Dan saya sudah lapar sekali.

Di jalan menuju keluar, saya melewati jalan pinggiran, tidak lewat jalan tengah seperti ketika saya masuk tadi. Di sebelah kanan ini, ada satu area yang banyak pohon. Saya suka pohon. Dan apa yang lebih menarik lagi adalah suara kumbang di pohon pohon itu. Suaranya nyaring sekali. Saya harus sedikit berteriak supaya bisa mendengar suara saya sendiri. Di bawah nyanyian kumbang kumbang itu, saya berdiri sebentar dan menikmati waktu. Sempat mengeluarkan hp saya dan merekam nya. Enaaaaak—

the lake of angkor wat
the lake of angkor wat

Beberapa menit kemudiian saya sudah di jembatan depan lagi. Kali ini saya berhenti karena melihat danau yang begitu tenang di tambah sebuah kapal kecil yang sedang merapat di rumput. Seandainya Kounan tidak kehanisan battre. Zzzz

Mengambil sepeda saya, bertemu dengan mba mba yang tadi nyuruh beli topi lagi. Saya bercanda kali ini, saya bilang kalau saya tidak kepanasan, jadi tidak perlu topi. Hehe saya kembali mengayuh sepeda. Kira kira 10 menit kemudian saya tidak tahan laparnya. Akhirnya mampir di satu warung di pinggir jalan.

Mereka punya nasi goreng dan mie,  jadi saya memesan nasi goreng. Lebih kenyang kan. Hehe sambil melihat si mba itu masak, saya ngobrol ngobrol dengan ibu nya dan juga adik nya. Adik nya itu manis banget. Oya, saya mungkin belum bilang ya. Sejak saya tiba di Cambodia, sering banget liat cewe cantik. Cewe lokal ya. Vietta dari warung makan tadi malam juga cantik. Wah wah. Dan yang lebih penting lagi, mereka ramah ramah.

Bayon ! but i miss the turn….

Kira kira 40 menit disana, sambil makan, ngobrol, dan menurunkan makanan, juga menggambar rute bersepeda setelah ini. Kelihatannya saya hanya bisa mengelilingi sepertiga dari komplek ini, mengingat besarnya komplek. Hoho. Tapi udah oke juga kok. Setelah pamit, saya kembali mengayuh. Ayoooo !

bayon
bayon

Lalu 20 menit kemudian sampai di Bayon. Wah ini candi yang saya suka. Karena bangunannya berbentuk wajah. 4 wajah buddha. Wajah yang besar. Wow keren. Tapi karena candi itu kecil, saya hanya 10 menit di dalamnya. Lanjuuuuuttt—

Saya melihat ke peta, seharusnya saya akan melewati Angkor Thom, candi dengan area yang paling besar di map ini. Saya membayangkan candi yang 4 kali lebih besar dari Angkor Wat. Saya melihat pintu masuknya. Di pintu masuk itu ada patung patung berjejer di kiri dan kanan jalan. Wow.

Tapi di dalam pintu masuk, hanya jalan biasa. Saya masih jalan terus. 15 menit setelah itu juga masih belum melihat suatu yang besar. Hanya ada beberapa candi kecil, saya tidak mampir karena menghemat waktu, dan mampir di candi candi utama saja. Beberapa menit kemudian, saya sampai di pertigaan. Di pertigaan itu adan satu candi kecil di sebelah kiri. Saya tidak mampir karena itu kecil. Memilih jalan lurus, saya terus mengayuh. Sampai saya lihat suatu pintu yang mirip dengan pintu masuk tadi, tapi patung patung nya ada di luar pintu. Apa ini pintu keluar Angkor Thom ?

Lanjut terus, udah nanggung, pikir saya. Jadi saya terus saja mengayuh. Mungkin sekitar 20 menit lagi. Sampai satu titik saya capek dan merasa ngantuk sekali (efek abis makan). Sempat melewati beberapa pondok. Ada beberapa petani dan tukang kebun sepertinya, sedang tidur disana. Ahh saya ingin juga, tapi karena saya membawa serta Kounan dan Yvemm, saya tidak mau ambil resiko tidur di tempat yang ada orang lain. Apalagi setelah pengalaman Ko Phiphi dimana tas saya sempat hilang (baca jurnal part 3)

Untung saja beberapa puluh meter setelah pondok itu, ada satu pondok yang kosong. Asik ! saya cepat cepat turun sepeda, mengunci nya, dan berbaring. Ahhhhhhhh enakkk. Kayanya saya sempat tidur 15 menit. Tas saya tindih separuh. Demi keamanan. Hehe.

Ketika saya bangun, ada anak kecil bersepeda yang memelankan sepedanya ketika melihat saya. matanya seperti anak melihat bule, saya sempat bingung, padahal kan saya mirip dengan orang orang sini juga. Bukti nya beberapa kali sudah di ajak berbicara Cambodia oleh orang lokal. Hehe

‘Knyom Chmua Satu’. btw I reached Preah Khan (its far though)

Saya bangun dan kembali mengayuh sepeda. Kami bersepeda bersama. Saya mengucapkan halo dan menanya siapa namanya. Dia tidak bisa bahasa inggris sama sekali rupanya. Walau begitu, saya berhasil memberitahu nama saya. Knyom Chmua Satu. nama saya Satu. dia bilang namanya juga, tapi saya lupa. Kami tidak begitu lama bersepeda bareng. Saya berhenti di suatu candi, yang kelihatannya tidak begitu besar. Dari pintu masuknya, candi nya tidak kelihatan. Saya hanya tau itu ada candi, karena ada tempat makan diuarnya, dan juga pos penjaga.

siat, the cambodian girl
siat, the cambodian girl

Saya masuk dan menyapa penjaga, memperlihatkan tiket saya, lalu jalan masuk. Disini ada hal unik. Ada 1 anak cewe, sekitar kelas 3-4 sd yang menghampiri dan menawarkan jualannya. Tapi sedikit memelas, dan memaksa saya membeli nya. dia menjual souvenir,  seperti gelang, kartu pos, dan magnet kulkas. Dari harga $2, dia menurunkan jadi $1.50, lalu $1, saya padahal tidak menawar. Saya bilang saya tidak perlu souvenir.

Dia tetap memelas. Karena tidak tega, akhirnya saya beli postcard seharga $1, untuk 10 kartupos. Lumayan lah buat temen temen di jakarta. Abis beli saya tanya namanya. Namanya Siat. Lucu juga namanya. Ehhh baru aja dia pergi, datang 2 lagi temannya. Memelas juga. Arrrgggghh…

Saya ‘dirampok’ $1 lagi untuk 2 buah magnet kulkas. Huff. Lalu jalan lagi ke dalam candi. Oh ya, saya juga tadi bertanya pada penjaga di depan, apa nama candi ini, dan namanya adalah : Preah Khan. Saya melihat Phreah Khan di peta saya. dan benar dugaan saya, ini sudah jauh melewati Angkor Thom. Di utaranya komplek. Huaaaaa.

Tapi di sisi lain, saya senang juga, karena berhasil mengayuh lebih dari setengah lebar komplek. Lalu saya masuk ke candi ini. Ukurannya sedang lah. Dan ukirannya, patung patungnya,tidak terlalu berbeda dengan candi lainnya. Saya tidak terlalu terkesan.

handstand-ing angkor
handstand-ing angkor

Tapi yang oke, disini tidak begitu banyak pengunjung. Saya melihat kesempatan ini untuk mengambil foto diri saya sendiri. Yosh!

Sudah biasa menyetel kamera Hp menggunakan self-timer, saya mulai bergaya. Alhasil, saya dapat foto keren salto di Preah Kahn. Oye ! hehehe. Maaf ya Candi candi, kalau gaya nya tidak sopan. Hehe

Setengah jam saya disana, lalu keluar. Di jalan keluar, ketemu Siat lagi dan berhasil mengambil foto nya. tapi dia minta saya beli lagi. Saya cepat cepat kabur. Hehe mampir di warung depan untuk membeli coca cola dingin. Ahh segar. Melihat mereka punya Hammock, saya bertanya apa bisa istirahat disana sebentar, mereka bilang boleh boleh saja. Yess!

Saya istirahat sebentar. Sambil ngobrol ngobrol dengan beberapa penjual. Hal yang cukup menarik disini, salah satu anak kecil yang mendekati saya dan memicingkan mata, lalu berkata “you are handsome boy”. Hahaha. Saya rasa saya akan datang lagi ke Angkor Wat kalau begini caranya. Hehehehe

Setelah pamit, saya mengayuh sepeda lagi ke arah balik. Saya perlu belok di pertigaan di Angkor Thom tadi, untuk dapat ke beberapa kuil utama di daerah sana, yang juga merupakan rute saya. kali ini tapi saya berstamina lebih baik, karena sudah minum coca cola dan sudah dibilang ganteng sama anak kecil, dimana anak kecil lebih polos dan cenderung tidak berbohong.mantap.

tenth of doors
tenth of doors

Maka saya mengayuh cepat sepeda ini, sambil memasang earphone di kuping dan menyetel keras lagu 30 Second to Mars kesukaan saya. saya bernyanyi sambil bersepeda. Indahnya dunia *lebay* hehe

Lagi enak enak nyanyi nyanyi, saya harus mengentikan musiknya, karena saya melewati rombongan anak kecil bersepeda. Kira kira 13 tahun-an. Ngobrol dengan penduduk lokal lebih menyenangkan daripada denger lagu. Dan kebetulan anak ini baik sekali. Dia keliatan antusias juga bertanya tentang saya. walaupun bahasa inggris nya tidak begitu baik. Kami juga berkenalan, sayang sekali saya lupa namanya (lagi). Dia bilang dia dan teman teman sedang menuju suatu candi untuk berdoa. Good boy!

10 menit kemudian kami sampai di pertigaan, dan kami mengucapkan sampai jumpa. Saya mengambil ke kiri, ke arah timur. Dan tidak sampai 10 menit kemudian, saya menemukan 2 candi di kiri dan kanan saya. namanya Chau Say Thevoda (yg di kanan), dan Thommarom (yg di kiri). Saya mulai dengan yang di sebelah kanan.

A biking friend, and climbing the steep temple stairs

Candi nya kecil dan tidak begitu ada apa apa. Saya cuma melihat 2 orang turis selain saya. jadi cuma 3 menit disana dan langsung keluar. Di dekat sepeda saya, datang 1 bule, sekitar umur 40an, udah bapak-bapak. Saya memberi salam karena dia berjalan ke arah candi yang kiri. Jadi barengan.

Di Thommarrom, sedang disiapkan semacam altar dan panggung, kelihatannya nanti malam atau besok akan ada suatu acara. Candi nya sendiri tidak begitu besar, dan karena ada orang orang yang memasang panggung itu, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sepeda.

Teman baru saya namanya Steve, dia Australian dan British. Sekarang tinggal di Australia bersama istri dan anak nya. dia punya satu anak perempuan, dan dia udah kangen banget katanya. Kebetulan Steve juga mempunya track sepedaan yang sama. Jadi kami menggoes bareng.

Ngobrol sambil naik sepeda ternyata lebih enak. Yah daripada sendiri yah. Sekitar 15 menit kemudian kami sampai di candi berikut nya, Ta Keo. Didalam kami menemukan sesuatu yang unik di candi ini. Candi nya tinggi sekali, dengan tangga yang sangat curam. Sekitar 3 level untuk sampai ke puncak. Dan tidak sama dengan di Angkor Wat, dimana mereka menyediakan tiang untuk pegangan, di Ta Keo tidak ada tiang. Kami harus berpegang pelan pelan pada tepian batu. Pelan pelan sekali kami naik. Sebagai orang yang takut ketinggian, saya sendiri heran kenapa saya berani naik.

smiling statue
smiling statue

Di tangga kami bertemu dengan 3 orang perempuan asia, kira-kira berumur 30an, sedang naik dengan kecepatan lebih pelan, jadi kami melewati mereka. Sampai diatas, kami menuju puncak, dan akhirnya duduk diatas dan melihat sekeliling. Steve dan saya membicarakan masa lalu komplek Angkor Wat ini.

Angkor Wat dibangun pada abad ke12-dan 13. Jadi sekitar tahun 1100-1200 an. Kami masih belum tau siapa yang membangun, tapi komplek ini dulu nya adalah kota. Ada sebuah kerajaan di komplek ini. Dan didalamnya ada 100ribu penduduk. Kami mengagumi pembangunan semua candi candi ini dalam waktu 30 tahun saja. Khususnya Ta Keo ini, dimana bangunan ini kan tinggi.

Sekitar 15 menit kami duduk disana, dan akhirnya turun pelan pelan. Ada guide yang memberi saran, untuk turun sebaiknya jalan mundur, agar lebih mudah. Ide yang bagus. Taktik itu sukses membuat saya turun tanpa masalah yang berarti. Kami pun melanjutkan perjalanan sepeda kami. Osh !

Di jalan, saya bertanya, apa kerja nya di Australia. Dia bercerita banyak. Dia bilang dia adalah supir taksi. Dan di sana, supir taksi penghasilannya lumayan. Dan karena dia sudah suka dengan taksi, dia berencana membeli beberapa taksi untuk dijadikan usaha. Cerita berikutnya membuat saya tertarik. Dia bilang kalau dia suka membayar pajak. Dia suka segala sesuatu tentang administrasi. Pengaturan pajak menjadi pembangunan negara, konsep penghasilan besar = pajak besar, dia suka itu. Sesuatu yang baru saya dengar. Karena saya sendiri tidak terlalu suka dengan pajak, khususnya ketika itu selalu di selewengkan seperti yang terjadi di Indonesia.

Ta Phrom, the tomb raider temple

15 menit kemudian kami sampai di Ta Phrom. Candi ini juga merupakan salah satu candi utama. Karena 2 alasan. 1) karena Tomb Raider pertama pernah shooting disini. Dengan Angelina Jolie sebagai pemerannya. 2) karena struktur bangunannya yang menyatu dengan beberapa pohon besar.

entrance of Angkor Thom
entrance of Angkor Thom

Kami berjalan masuk ke dalam dan melihat banyak turis di dalamnya. Bangunan candi di Ta Phrom ini sudah hampir runtuh. Sekitar separuh nya sudah runtuh. Pasti di karenakan akar pohon-pohon ini. Tapi bagusnya, pemerintah Cambodia di dukung oleh teknologi asing seperti Jerman, Prancis, dan Jepang, membangun semula candi candi yang sudah runtuh. Dibangun kembali dengan metode tertentu sehingga nilai history nya tetap ada. Karena disamakan persis seperti sebelum runtuh.

Kami berhenti di satu bangunan yang ada pohon besar di atasnya. Wah akar akar pohon sudah memeluk separuh bangunan. Tidak heran kalau bangunan ini runtuh. Lalu kami jalan lagi dan melihat satu panggung kecil memang di khususkan untuk pengunjung yang ingin foto dengan background candi berpohon ini. Pada saat ini, battre hp saya sudah mati jadi tidak ada foto yang dihasilkan disini. Hrrrr….

Ta Phrom lumayan besar. Dan didalamnya juga sedikit membingungkan karena seperti labirin. 20 menit mengitari, kami hampir mengitari satu kali lagi, untung saya cepat sadar dan mengingatkan kalau kita sudah lewat jalan ini. Setelah itu kami menuju jalan keluar. Kami berdua tidak henti henti nya memuji para pendiri candi candi ini. Karena bisa membuat struktur yang sehebat ini pada zaman mereka.

Hari sudah mulai sore, dan kami sudah hampir sampai di candi terakhir di rute kami, yaitu Banteay Kdel. Sepeda kami kayuh dengan santai sambil mengecek map, memastikan saya tidak salah jalan lagi seperti tadi pagi. Dan setelah kira kira 20 menit mengayuh, kami sampai di pertigaan Sras Srang. Kalau lurus kami akan ke lingkar luar komplek ini, sedangkan waktu sudah menunjukkan jam 4 sore. Kami harus bergegas pulang. Kami mengambil belok kanan, ke arah selatan.

angkor wat wall pattern
angkor wat wall pattern

Tepat setelah pertigaan itu adalah lokasi Banteay Kdel. Seperti Preah Khan, candinya tidak terlihat dari luar, dan harus sedikit berjalan ke dalam. Saya dan Steve masuk dan sampai di dalam 3 menit kemudian. Tidak ada yang spesial di candi ini, namun hal menariknya adalah kami bertemu dengan salah satu penjual ukiran kayu. Kemudian dia bercerita banyak tentang pembangunan  Angkor Wat ini. Dia bilang bahwa semua ini dibangun oleh para budak, di bawah pimpinan raja Jayavarman VI. Steve menyimpulkan hal ini serupa dengan pembangunan piramid di Egypt, dimana bangunan itu juga dibangun oleh para budak. Saya menyelutuk “wah ini yang namanya power of the lower level” . kami suka phrase itu. Power of the lower level.

Kami puas mendengar penjelasan si penjual ukiran kayu. Setelah mengucapkan terima kasih, kami berjalan keluar. Dia baik sekali karena tidak meminta imbalan apapun seperti penjual lain yang selama ini saya temui di Siam Reap.

Sebelum pintu keluar, ada beberapa warung kecil yang menjual minuman dan juga souvenir. Steve menawarkan untuk mampir dan mencoba kelapa muda. Saya setuju banget. Kami menawar beberapa kali sebelum mendapatkan harga yang bagus. Kami minum sambil duduk di kursi. Melihat lukisan lukisan yang di jual, bagus bagus sekali. Dan juga berbicara dengan anak anak kecil yang menjual souvenir.

Hal unik disini adalah, saya baru tau fakta bahwa beberapa anak penjual souvenir ini pintar berbagai bahasa. Contohnya anak perempuan di depan saya ini. Dia bisa bahasa jerman, jepang, prancis, inggris, dan cambodia. Wah sudah 5 bahasa ! walaupun semuanya masih basic level, tapi iyalah, itu sudah lebih oke dari saya. hehe salut untuk mereka.

Chasing the sunset !

Kami sempat bertanya jam brapa sunset dimulai dan dimana tempat paling bagus untuk melihatnya. Penjual disana menjawab sekitar 15 menit lagi sudah waktu nya sunset, dan tempat nya adalah di Pre Rup. Kami melihat peta, dan sayang sekali Pre Rup ada di timur. Artinya melawan rute kami. Mempertimbangkan jalanan yang gelap setelah sunset, dan jauh nya pintu gerbang dari Pre Rup, saya dan Steve memutuskan untuk melihat sunset di Angkor Wat saja. Dekat dengan pintu gerbang.

Jarak kesana kira kira 8 km. sekitar 25 menit kalau santai. Jadi kami sedikit ngebut. Jalanan sudah mulai sepi karena beberapa turis pasti juga sudah duduk manis di suatu tempat untuk melihat sunset.

Kami berhasil sampai tepat pada waktu nya. masuk lewat pintu belakang Angkor Wat, kami memarkir sepeda di dalam (penjaga nya sudah tidak ada. Karena semua candi harusnya tutup jam 5 sore). Masih mengayuh di daerah Angkor Wat, kami sudah disuguhkan matahari orange bulat di langit. Ahhh.

the three queens
the three queens

Akhirnya jam 5.20pm kami sudah duduk di candi di Angkor Wat, bersama beberapa turis lainnya dan melihat sunset. La la la la mau sunset dance tapi udah kecapean.

Duduk disana hanya sekitar 10 menit, karena matahari sudah hilang dibalik awan sebelum sampai di garis horison. Turis lainnya pun pulang. Sempat ada satu waria melewati kami dan dia tersenyum genit ke arah steve. Hehe saya mengejek Steve supaya menumpangkan waria itu kerumah.

Selesai sudah tour sepeda kami. Sekarang waktu nya pulang. Kami mengayuh sepeda ke arah kota kembali. Dan obrolan kami kali ini menarik. Yaitu konsep ‘The Secret’, dia sudah pernah mencoba sedikit trik dan berhasil. Dari sana, obrolan kami juga belok ke arah bacaan. Rupanya bacaan kami tidak jauh beda, dia juga baca The Alchemist, dan buku Paulo Coelho lainnya. Juga buku buku Khaled Hossaini. Tapi tetap saja keliatan dia baca lebih banyak daripada saya.

Jalanan sudah mulai gelap. Kami sedang membicarakan Istri dari tokoh utama the Alchemist ketika tiba tiba ban sepeda Steve meletus. Bocor. Untungnya di sepeda saya ada boncengannya, jadi dia bisa nebeng sambil memegang sepeda nya. walaupun cukup berat juga jadi nya saya mengayuh, ditambah uda kecapean setelah bersepeda dari jam 8 pagi, tapi akhirnya kami bisa sampai di hotel masing masing, yang ternyata hanya bersebelahan.

sampai di kamar ternyata Yohei juga sudah di kamar. Dia juga baru pulang. Dia keliling Angkor Wat dengan ojek, karena dia bilang dia tidak kuat kalo naik sepeda. Saya langsung mandi, ahhh segarnyaaa.

Setelah mandi saya beristirahat sebentar. Memberi waktu pada kaki saya untuk tidak bekerja. Sambil berbicara dengan Yohei mengenai Angkor Wat dan tempat tempat yang dia kunjungi. Dia mengunjungi lebih banyak rupanya, wajar ya, dia kan naik motor. Setelah istirahat, saya juga mengajak Yohei untuk makan bareng saya dan Steve. Jam 8 tepat kata Steve mau datang ke hotel saya.

Jam 8.10 saya dan Yohei keluar dari hotel, dan tidak melihat Steve di luar. Kami berasumsi dia masih di hotel, tapi ketika kami bertanya ke hotelnya, di bilang dia sudah keluar. Jadi kami langsung saja ke food court berdua.

Rencana nya mau makan di warung Vietta, tapi rupanya malam ini dia tutup. Kami makan di kedai sebelahnya. Pelayan nya 2 anak cowo. Kocak mereka. Yang kecil selalu berkata pada bule bule “I like you necklace” hehe, mungkin biar dikasih kali ya.

Malam itu saya makan Khmer Soup, menu lokal Cambodia. Dan rasanya enak banget. Sedikit asam pedas, tapi lebih kental dari Tom Yam Thailand. Nyam !

Setelah makan, saya mampir di travel agent untuk membeli tiket menuju HoChiMin City, Vietnam, besok malam. Setelah bertanya di beberapa tempat, saya mengambil yang paling murah, dan membeli nya. jadi ini malam terakhir saya di Siam Reap.

Sesudah membeli tiket, kami berjalan pulang. Badan pegal, lebih baik jika tidur cepat ya. Untung saya dan Steve sudah bertukar email, jadi nanti saja saya email dia.

Sebelum sampai hotel, kami bertemu dengan Sascha, cowo Slovenia sekitar umur 28an. Yang sehotel dengan kami. Tidak ngobrol terlalu banyak. kami Sampai di kasur dan terlelap sekitar jam 11 malam.

Selamat malam !