Jalan Jalan, Ulasan

SEAT1 (southeast asia trip satu) .. part eight

Day 13 : Last day at Siam Reap

Karena semalam saya lelah sekali, saya bangun siang sekali hari ini. Sekitar jam 10. Memang pagi hari nya sudah sempat bangun, tapi saya tidur lagi. Hehe

Yohei sudah bangun dari jam 8 dan sudah sempat jalan diluar. Dia pulang jam 10 lewat dan membangunkan saya. mengingatkan kalau kami harus check out pagi ini. Karena saya tidak akan melanjutkan menginap, dan harus pergi malam ini ke Saigon (HoChiMin City dan Saigon adalah sama). Sementara Yohei akan tinggal satu malam lagi disini. Jadi dia akan pindah ke kamar yang lebih kecil. Single room.

Setelah check out, dan tukar kamar, kami meletakkan barang barang di kamar baru Yohei. Kurang lebih sama, hanya ukuran saja yang lebih kecil. Setelah itu kami makan siang bersama di sebuah warung nasi kecil. Makanannya lumayan murah disini. Setelah makan kami kembali ke hotel.

Day of do nothing 🙂

Karena kemarin saya sudah menghabiskan banyak tenaga, saya memutuskan untuk beristirahat hari ini, apalagi malam ini harus pergi ke Saigon, perjalanan bis akan memakan waktu lebih dari 8 jam. Saya minta izin Yohei untuk beristirahat di kamar nya. jadi saya mengetik, online, dan menonton film saja di kamar. Sampai sore. Sementara Yohei keluar untuk cari cari info tentang suatu tempat yang ia mau kunjungi, tapi saya lupa nama tempatnya.

the local snack
the local snack

Sekitar jam 3 siang Yohei kembali, dan ikut menonton dvd yang saya sedang putar. Tapi lalu dia tertidur. Saya juga. Hehe. Pukul 5 sore kami bangun dan melihat keluar, langit sedang kuning! Cuaca yang sempurna untuk jalan sore. Akhirnya kami keluar dan berjalan di sekitar kota. Melewati sungai dan pasar yang lain. Melihat orang orang bermain takraw. Dan ketika matahari sudah terbenam, Yohei bilang kalau dia lapar, jadi kami mampir di foodcourt. Tapi saya tidak makan. Karena jam 11 malam ini saya akan pergi dengan bis, jadi lebih baik saya makan satu jam sebelumnya. Saya hanya memesan fruit salad. Enak loh ! nyam !

Setelah makan, kami kembali ke hotel. Saya harus mandi dan beres beres untuk pergi malam ini. Setelah beres, saya main komputer aja sambil menunggu jam 10 malam. Saya menunggu di cafe hotel. Sambil ngobrol ngobrol dengan E, Visa, dan juga Toom, para staff hotel yang dalam 3 hari ini sudah baik banget. Ada Sascha juga yang nemenin saya sebentar di kafe.

Dan ketika jam sudah menunjukkan pukul 22.00, saya pergi. Pamit kepada semua orang, termasuk Yohei, saya pergi menuju travel agent tadi. Memastikan bahwa saya punya cukup waktu untuk makan malam. Lumayan ada 1 jam lebih untuk makan malam. Saya mampir ke warung yang tadi malam saya makan dengan Yohei. Si pelayan nya datang dan mengenali wajah saya.

the mirrorred bridge
the mirrorred bridge

Makan nasi goreng dan jus alpukat, saya ditemani si pelayan tadi, karena tidak begitu banyak tamu yang makan disana. Kami lumayan banyak ngobrol. Sempat juga bertukar lagu. Dia memberikan saya lagu Cambodia dan Vietnam, saya memberi nya lagu Sandy Sandhoro – Malam Biru dari hp saya. Dia suka tuh. Hehe

Sudah jam 11, saya pamit lalu bergegas ke travel agent tadi. Yang lalu mengantar saya ke terminal bis, dan akhirnya saya naik kedalam bis yang menuju Saigon ini. Jam sudah menunjukkan jam 11.30pm sekarang. Dan di sebelah saya, ada satu anak muda cowo, yang bertato dan berambut rasta, tapi dia keliatan seperti asian. Belakangan saya tau dia adalah Japanese. Wah wah. Untuk trip ini, sudah lebih dari 4 orang jepang saya temui. Hehe

Bis jalan jam 12 tepat. Dan saya pun tidur. Ngantukkkk.

Selamat malam !

Day 14 : good afternoon, Saigon

Hoahmm..ini hari ke sekian saya tidur malam di bis. Cara yang bagus menghemat uang menginap di hotel. Saya tidur full 5 jam. Jarak dari Siam Reap ke Phnom Penh sekitar hampir 5 jam.

Beberapa penumpang turun karena memang tujuan mereka adalah Phnom Penh. Saya dan beberapa penumpang lain yang bertujuan ke Saigon, menunggu untuk bertemu si supir atau kondektur bis, tapi mereka sedang sibuk di bagasi, menurunkan barang barang. Satu bule cewe berdiri di depan saya dan kelihatan mencari si supir juga, saya menyapa nya. akhirnya kami sama sama ke luar dan bertanya pada si kondektur yang sedang menurunkan bagasi.

Ternyata ini destinasi terakhir bis ini. Kami yang mau ke Saigon harus turun dan pindah ke bis yang lain. Akhirnya kami semua menurunkan barang. Si bule cewe berambut pendek tadi ternyata bersama rombongannya. Cewe semua sekitar 6 orang. Dan salah satu dari mereka terlihat seperti artis hollywood. Hohoho.

Bersama mereka, saya jalan menuju counter perusahaan travel yang punya bis kami tadi, dan menukar tiket kami dari Phnom Penh menuju Saigon. Counter itu terletak di jalan besar, kami melihat sungai sekitar 15 meter ke arah barat. Phnom Penh pagi hari bagus juga. Baru mulai ada angkutan umum, matahari juga baru saja naik. Kami menunggu van untuk menjemput kami.

a park in saigon
a park in saigon

Sekitar 20 menit kami menunggu, van datang menjemput dan kami di transfer ke stasiun bis utama sekitar 10 menit kemudian. Semua rombongan kami naik ke bis berwarna putih hijau itu. Si rombongan cewe duduk di deretan kursi belakang. Karena saya naik belakangan, sekilas melihat di belakang sudah penuh, maka saya duduk di kursi kosong pertama yang saya lihat. Di barisan ke tiga dari depan, di sisi kanan bis. Di sebelah seorang bule cowo muda yang sedang memakai earphone.

Bis pun jalan. Saya membaca sedikit doa. Dan mencoba membayangkan sesuatu yang menarik untuk menemani selama perjalanan ini. 5 menit setelah bis jalan, ada satu asisten bis, mirip seperti pramugara bis mungkin ya, memberi penjelasan tentang perjalanan ini. Katanya, ini akan memakan waktu sekitar 6-7 jam. Dan akan melewati border, dan akan sampai di jantung kota Saigon. Dia menjelaskan dengan baik, kurang lebih 5 menit. Lalu dia mulai mengambil passport semua orang satu per satu. nanti akan saya jelaskan metode imigrasi nya, yang ternyata lebih praktis daripada sendiri sendiri.

New travelmate : justin bieber from Germany ^_^

Melirik ke bule cowo disebelah saya. dia masih asyik sendiri. Tipe yang seperti ini biasanya tidak mau diajak ngobrol ya. Jadi saya mencoba tidur.

Sampai 1 jam kemudian, pramugara itu membagikan kartu imigrasi Vietnam, dan kami mulai mengisi nya. disinilah awal perkenalan dengan next travelmate saya : si bule cowo sebelah.

Dia bertanya tanggal pada saya. tipikal hal yang dilupakan traveller : tanggal dan hari apa sekarang. Beberapa hari ini saya tertukar tanggal dan hari. Tapi hari ini saya ingat. Setelah menjawab itu dan mengisi kartu imigrasi ini, kami mulai berbicara. Bicara bicara dan bicara lagi. Ternyata dia orang yang cukup asik.

Tom panggilannya. Dia masih berumur 21 tahun. Berasal dari Jerman, dan ini bulan ke 6 nya travelling. Dia masih ada 2 bulan lagi. Selama 6 bulan ini, dia sudah ke Australia dan New Zealand, lalu ke Amerika tengah dan selatan, lalu 2 bulan ini di Asia Tenggara. 2 bulan sisanya dia mau menuju China. Dilihat sekilas, dia mirip Justin Bieber versi tinggi. Main attraction bagi dia adalah Diving dan Hiking. Si Tom juga baru 3 minggu jadian sama cewe Cambodia. Menurut dia, Cambodia adalah negara dimana semua cewe nya cantik cantik. Wah wah. Hehe

Kami berbagi banyak cerita. Travelling dia, travelling saya, Bali, Jakarta. Kami juga sama sama suka nonton film. Dan dia cerita kalo dia baru beli hardisk external 1 TeraByte, dan 200GB adalah film film. Saya langsung ngiler tapi berusaha tetep cool dan cari cara supaya bisa copy itu film film ke Kasasti (hardisk external saya) hehe

a museum in saigon
a museum in saigon

Sebelum bis naik ke ferry, kami sempat membeli waffel di tukang jualan di luar bis. Dan pada jam ke 2, kami sampai di tempat makan. Makan nasi pake ayam dengan harga yang lebih mahal daripada di Siam Reap. Grrhhh..

Dan 30 menit setelah tempat makan itu, kami sampai di border Cambodia. Disini lancar lancar saja. Terima kasih kepada sistem passport barengan itu. Jadi si pramugara turun lebih dulu, memberi passport kepada imigrasi, kemudian di chop semua, dan dipanggil namanya satu persatu untuk mengambil. Begitu juga di imigrasi Vietnam. Kami tidak perlu bertatap muka secara dekat dengan petugas imigrasi yang dimana mana sama (baca: galak) itu.

Sekarang jam 11 dan kami masih 2 jam lagi sampai di Saigon. Karena saya bawa Yvemm di tas kecil, dan ada film di hardisk Tom, kami menonton Vampire Suck dan satu judul film lainnya. Lumayan menghibur. Paling tidak selama kami sampai di Saigon. Karena perjalanan dari border Vietnam sampai ke Saigon tidak begitu berbeda dengan jalan jalan yang sudah saya lewati kemarin.

Jam 1 lebih kami sampai di Saigon. Wow kota besar. Kira kira seperti Bangkok atau Jakarta suasananya. Kendaraan juga menggunakan lajur kanan seperti di Cambodia. Dan seperti di tempat lain juga di Asia Tenggara, ketika keluar bis, banyak orang menghampiri dan menawarkan taksi, atau penginapan.

Saya melihat Tom sudah berbicara dengan satu wanita yang kira kira umurnya 30an. Pendek dan kelihatannya dia menawarkan hotel juga. Saya menghampiri mereka. Dan ternyata deal nya tidak begitu buruk juga. Saya dan Tom yang tadinya belum ada kesepakatan untuk sharing room, setuju untuk sharing room. Dipandu si mba mba tadi, kami berjalan menuju guesthouse mereka. Mba mba itu ramah sekali. Dan seperti biasa juga, inggris nya pas pas an. Hanya sebatas percakapan soal hotel dan pariwisata saja. Hehe

Kami sempat ragu ketika jalan nya melalui gang gang kecil. Tapi ternyata tadi hanya jalan pintas, walaupun memang guest house nya di dalam gang, tapi tidak terlalu jauh dari jalan raya. Oya, area tempat kami berada ini adalah District 1 (D1), area kota yang merupakan tourist centre juga. Seperti Khao San ya mungkin. Tapi tetap Khao San jauh lebih happening.

Guesthoust ini milik keluarga rupanya. Yang mana biasanya lebih baik, karena mereka lebih sopan dan bersih daripada yang di jalankan oleh staff suatu perusahaan. Kami disambut oleh satu cewe yang masih muda, kayanya anak yang punya, dan juga ibu nya. si anak cewe memperkenalkan diri. Namanya Trang. Diantara mereka semua, Trang paling bagus bahasa inggrisnya. Tapi tetap saja kadang masih suka bingung mendengar pertanyaan saya ataupun Tom.

ben tanh market
ben tanh market

Kamar nya lebih bagus daripada perkiraan kami. Luas, seperti hotel bintang 2, dengan kamar mandi dan ada hotwater nya juga. Plus, ada free wi-fi. Perfect.

Saigon Walk !

Kami meletakkan barang. Ada 2 tempat tidur, saya memilih yang dekat dengan jendela. Setelah meregangkan otot sebentar, kami langsung keluar. Untuk mengelilingi kota ini. Untungnya Tom jenis yang sama dengan saya : suka berjalan kaki. Kami pamit pada Trang dan ibu nya. tidak lupa meminjam map pada mereka. Mereka memberikan map besar yang sangat bagus.

Saya dan Tom menggambar draf rute, lalu mulai berjalan. Tom bilang dia lapar, jadi kami mampir di sebuah bakery. Dia membeli roti yang saya lupa jenis dan bentuk nya. kami berjalan lagi di trotoar jalan. Melewati banyak tukang ojek yang menawarkan kami untuk keliling kota dengan mereka. Kami malah bertanya info info tentang object wisata dan rute rute di kota ini. Haha Tom sih yang nanya, saya ngga nanya karena tau itu hanya akan bikin mereka kesel, karena kami ga akan naik ojek mereka juga gitu ya. Tom keliatannya cuek aja. Seorang bule cewe melewati kami saat kami sedang bertanya di mana Ben Tanh market pada si tukang ojek, lalu si bule cewe berhenti dan bilang “Ben Tanh market deket banget dari sini, mudah mudahan kalian ga di boongin sama tukang ojek ini”, katanya.

Kami berterima kasih sama si cewe, dan bilang kami ngga di bohongin kok, lagian kami jalan kaki 🙂 5 menit kemudian, kami berjalan di taman. Taman nya lumayan bagus. Seperti taman di monas, dimana banyak orang berolahaga. Dari taman itu kami melihat Ben Tanh market di kejauhan. Kami menyebrang jalan.

Beberapa artikel yang saya baca tentang vietnam dan Saigon sebelum saya datang, menyebutkan bahwa motor motor di Saigon buruk sekali dalam melintasi jalan. Kecepatan tinggi dan semrawut. Beberapa bue juga bilang susah sekali menyebrang jalan di Saigon.

Kenyataan nya tidak seburuk yang mereka katakan. Saya dan Tom mudah saja menyebrang. Walaupun kami menyebrang di saat lampu hijau, motor motor itu pintar dalam menghindari penyebrang jalan. Dan tidak terlalu cepat juga sih mereka. Tapi ya itu, jumlah motor banyak sekali !

Saya juga sedikit kaget setelah mengetahui kalau kadar polusi di Saigon tidak begitu buruk. Lebih baik dari Bangkok, dan otomatis lebih baik juga dari Jakarta. Hm…

notredame church
notredame church

Sampai di Ben Tanh market, kami masuk ke pasar yang kira kira mirip pasar tanah abang itu. Ada jualan baju baju, makanan, dan juga souvenir disana. Kami hanya lewat dan tidak membeli apa pun. Kami berdua sama sama kere dan tidak berminat menambah berat backpack kami. Kami pun meneruskan jalan ke arah utara.

15 menit kemudian kami sampai di satu musium perang. Ketika akan masuk, kami kecewa karena ternyata ada biaya tiket masuk. Disini saya tau fakta menarik tentang Tom. Dia selalu ingin masuk gratis, makan murah, dan lain lain, dia menekan pengeluarannya seminim mungkin. Antara pelit dan hemat lah. hehe

Kami menerobos masuk dan pura pura tidak tahu ada kounter tiket. Ketika dipanggil kami pura pura tidak mendengar. Haha menarik. Dan ketika sampai di depan replika helikopter, satu satpam mendatangi kami. Kami basa basi “oh bayar ya ternyata, kami cuma mau foto helikopter ini, bla bla bla “, ternyata berhasil. Kami dibiarkan dengan janji akan keluar setelah memotret helikopter ini. Tom dan saya berpose di helikopter. Jepret!

Kami tidak keluar sehabis motret helikopter. Malah masuk ke dalam gedung utama dan melihat sedikit. Penjagaan nya tidak ketat. Hehehe ya walaupun didalam tidak terlalu banyak yang kami bisal iat, hal hal membosankan untuk saya. untuk Tom juga. Kami keluar tidak sampai 5 menit setelah kami masuk.

fit together
fit together

Menuju utara, kami melewati satu taman kecil lagi. Dimana taman ini unik sekali, karena banyak peralatan fitness disana. Kelihatannya pemerintah menjadikan taman ini sebagai pusat kebugaran gratis untuk umum. Wah hebat. Kami melihat beberapa orang sedang berolahraga. Salah satu nya seorang ibu yang sedang berolagraga di alat pengayun kaki. Dia memanggil kami.

“boleh minta tolong isikan gelas plastik ini dengan air?” katanya. Untuk cuci tangan katanya. Dia berbicara dengan bahasa inggris. Saya mengambil gelas dari nya dan mengisi dengan air di keran taman. Setelah memberi pada nya, kami bertiga ngobrol banyak banget.

Ibu ini ramah. Dia juga ngobrol dengan kami karena dia ingin melatih bahasa inggris nya. dia les bahasa inggris untuk mengisi waktu nya. walaupun bahasa inggrisnya masih belum fasih, tapi dia lebih baik dari Trang. Kami bahkan sempat membuat lelucon ketika dia bilang saya mirip orang Cambodia, saya lanjutkan, saya bilang sebenarnya saya Khmer Rouge (pasukan Khmer. Para gerilyawan perang Cambodia). Kami tertawa untuk hal lain juga. Ibu itu bercerita bahwa keponakannya ada yang sedang kuliah di Norwegia. Dia bilang keponakannya itu sangat cantik, dan menjadi model juga di Norwegia. Saya dan Tom jadi ingin melihat seperti apa keponakan si tante ini.

Setelah kira kira 1 jam ngobrol, si ibu pulang dan kami meneruskan perjalanan. Tom tampak puas karena sudah ngobrol dengan ibu tadi. Kami ke arah utara dan menemukan sesuatu yang seperti istana negara. Palace apa gitu namanya. Lagi lagi biaya masuk, kami gagal untuk menerobos karena tentara yang menjaga pintu gerbangnya. Yah, tidak begitu menarik juga sepertinya. Kami menuju arah timur sekarang.

Melewati taman lagi. Yang penuh pohon tinggi. Saya senang sekali dengan taman. Saya senang dengan pemerintah yang perhatian seperti ini.

5 menit kemudian kami sampai di gereja Nottredame. Bangunan gereja yang besar dan tinggi. Atap berwarna putih dan dinding bata berwarna merah. Nikmat sekali memotretnya. Kami berjalan ke arah depan gereja. Disana banyak turis juga sedang memotret bangunan ini, berikut sebuah patung bunda maria di depan gereja.

post office building
post office building

Untung kali ini tidak ada biaya masuk. Kami masuk sebentar hanya untuk melewati nya sesaat. Altar nya hanya boleh dimasuki orang yang mau berdoa. Saya bertanya apakah Tom seorang yang agamanya baik. Dia bilang dia hanya ke gereja 2 kali setahun. Saya menertawakannya dan dia mengejek balik.

Di samping Gereja ada satu bangunan dengan struktur lama yang masih beroperasi sebagai kantor pos. didalam nya bersih dan rapih rupanya. Kami melihat beberapa turis membeli kartupos, menulisnya, dan mengirim nya. wah ide yang bagus, tapi kami tidak begitu tertarik melakukan ini. Kami keluar dari kantor pos.

Sandals breaks and a zoo free entry

Sekarang berjalan ke arah selatan. Dan disini terjadi hal yang menyebalkan, sendal saya putus ! ingat tidak saya tulis tentang sendal hotel yang putus terinjak di Siam Reap, kemudian dibelikan gantinya oleh Yohei, sendal jepit tradisional yang bagus. Padahal baru beberapa hari. Tapi putus! Grrrrh.

Daripada hanya berjalan dengan 1 sendal, saya menaruh dua dua nya di tas. Tom menyuruh saya membuang nya saja, tapi saya suka motif nya. dan mungkin nanti akan menjahit nya saja. Dia kelihatan kesal nasihatnya tidak dituruti. Hehe.

tran hung dao
tran hung dao

Spot berikutnya adalah satu bundaran dengan patung sebuah perwira sedang menunggang kuda. Kami menduga ini adalah Ho Chi Minh. Untuk yang belum tau, Ho Chi Minh adalah satu pahlawan yang berhasil membuat Vietnam mengalahkan Amerika. (tolong koreksi jika saya salah ya).

Di sebeah timur patung itu ada sebuah sungai. Tapi sayang sungai itu tidak bersih, karena banyak kapal tanker di sekitarnya. Kami jadi tidak berselera untuk melihat sungai itu. Kami meneruskan perjalanan ke arah utara.

Melewati daerah sekolah. Dimulai dengan Saigon University, dan sekolah sekolah menengah dan dasar. Bagus juga pemerintah kota menempatkan banyak sekolah di satu daerah. Banyak orang orang yang melihat aneh karena saya tidak memakai sandal. Untung saya orangnya cuek. Kalau tidak ketemu warung tempat membeli sendal, saya tidak keberatan tidak bersendal sampai pulang nanti. Di hotel ada 1 lagi sendal Eiger saya.

Kami menemukan museum lainnya yang kelihatannya sudah tutup karena sudah sore. Sudah jam 4.30pm pada saat itu. Tapi untuk masuk ke halamannya sih bisa. Dan di halamannya itu banyak model model pesawat dan helikopter. Ada juga mural yang bergambar orang orang sedang rapat. Munkin para petinggi Vietnam jaman perang dulu ya.

setelah kami keluar lagi, 100 meter dari sana kami ketemu kebun binatang. Sekali lagikami menjalankan taktik backpacker kere, langsung slonong boi, alias nyelonong masuk. Oh untung sekali, kebetulan memang kebun binatang sudah tutup. Kounter tiket nya kosong, dan meja pemeriksa tiket juga sudah tidak ada orang. Kami bersorak. Sekaligus senang karena alasan lain : mereka punya Rhinoceros disini. Badak.

Kami berjalan ke arah kanan ketika menemukan simpang. Dan hewan pertama yang kami lihat adalah burung. Burung dengan paruh besar berwarna kuning. Saya jelek sekali soal nama nama hewan dan tumbuhan. Maaf ya.

white tiger
white tiger

Lalu kami menemukan harimau loreng. Dan saat melihat harimau itu, ada suara auman singa tidak jauh dari kami. Dan ternyata ada kandang singa di belakang kandang harimau loreng itu. Besar sekali singa nya. dia mengaum-ngaum seakan sedang lapar. Dia juga bolak balik berjalan. Tom mendorong dorong saya kearah singa. Saya menendang kaki nya. hehe

Dari singa kami mencari cari badak tapi ternyata susah ditemukan. Kami malah menemukan ostrich, burung unta yang besar sekali. Sekitar 2 kali tinggi saya, mungkin lebih. Wah wah. Kali ini saya mendorong Tom agar dia di patuk burung onta.

Akhirnya setelah bertanya, kami menemukan Badaknya, tapi sayang sekali sudah ditutup kandangnya. Kami hanya melihat dari jauh. Yah lumayan daripada tidak sama sekali. Hehe setelah dari badak, kami menemukan Harimau putih. Salah satu dari dua harimau itu kelihatan sedang berpose. Haha

Dari harimau putih kami jalan lagi. Lalu menemukan burung pemakan bangkai, dan juga Hipopotamus, atau Kuda Nil. Kuda nil nya besar sekali. Sedang bermalas malasan di dalam kolam. Kami melihat kepalanya saja. Yang kadang menyemburkan air dari hidungnya. Hehe lucu.

Lalu kandang kambing kambing kecil, lalu gajah, lalu rusa dan Ox (banteng ya), babi hutan, dan terakhir kami ketemu jerapah. Jerapah keren. Dan pada saati kami sudah di jerapah, penjaga menghampiri kami dan menyuruh kami pulang, karena mereka akan segera mengunci kebun binatang ini. Kami keluar, berterima kasih kepada kebun binatang karena sudah membolehkan kami masuk gratis. Lalu kami meneruskan perjalanan.

Pada saat ini sudah magrib. Tom bilang kaki nya sudah pegel banget, saya juga bilang telapak kaki saya sakit karena tidak bersendal. Kami mengarah pulang. Karena gelap, tidak mudah membaca peta dan mengidentifikasi landmark di jalanan. Saya belum bilang ya, di Saigon banyak sekali persimpangan.

saigon slow shutter
saigon slow shutter

Kami berhasil menemukan gereja Notredame sekitar 15 menit kemudian. Dari sana, sudah sedikit mudah untuk pulang. Dan 20 menit berikutnya kami sampai rumah. Saya dan Tom berebut siapa yang mandi duluan. Sayang nya saya kalah suit, dia mandi duluan. Tidak kehabisan akal, saya meminjam kamar mandi lantai bawah pada Trang.

Segar nyaaaaaaa ! setelah kaki sakit dan pegal berjalan lebih dari 4 jam. Tapi setidaknya sekarang kami sudah sedikit tau kota Saigon. Hehe

Setelah mandi, kami beristirahat sebentar sebelum pergi makan malam. Kira kira 1 jam kami berbaring di kasur. Saya mengetik, Tom memutar lagu. Kami memikirkan rencana untuk makan malam. Kami tertarik untuk mencoba menu lokal sini : Ban Xeo. Nanti saya ceritakan apa itu Ban Xeo.

Sekitar jam 8.30pm kami keluar lagi untuk makan malam. Sebelum makan, kami harus memastikan beberapa hal. Booking untuk Trip ke Cu Chi tunnel besok. Dan tiket bis trip Tom yang berikutnya, yaitu ke bagian utara Vietnam, yaitu Hanoi.

Kami beli tiket untuk trip Cu Chi tunnel dulu. Di satu hotel bernama Madame Cuc. Tom pengen banget trip nya dari hotel ini, karena temannya pergi dengan trip dari hotel ini, dan mendapat guide yang bagus sekali : veteran dari perang vietnam. Hebat. Saya ikutan bersemangat.

Setelah dapat tiket untuk besok, kami ke travel agent. Tom menanyakan banyak tentang tiket bis nya ke Hoi An, tempatnya berhenti sebelum ke Hanoi. Fakta yang mengejutkan saya, bahwa dari Saigon ke Hoi An memakan waktu 20 jam bis !  padahal kelihatannya hanya sekitar 10 jam. Wah wah. Apalagi ke hanoi ya, pikir saya. setelah saya tanya, si mba travel agent menjawab, naik bis ke Hanoi dari Saigon, memakan waktu 2 hari 1 malam FULL. Yak, saya tidak akan pernah naik bis dari Saigon ke Hanoi, pikir saya. hehe

Akhirnya Tom membeli tiket ke Da Lat, satu kota kecil, sekitar 6 jam dari Saigon, dia akan singgah setiap 6-8 jam. Begitu terdengar lebih baik bagi saya.

Ban Xeo hunt

Kami sudah menandakan restoran banxeo yang enak di peta kami. Tapi kami sempat tersesat sedikit menuju tempat itu. Alhasil ketika sampai di tempat itu, sudah jam 9.30pm. tempatnya sudah mau tutup, tapi masih bisa untungnya.

ban xeo
ban xeo

Karena menu nya lokal, kami sebenarnya berharap tempat makan sederhana pinggir jalan. Tapi rupanya yang ditunjukkan oleh mba mba travel agent adalah restoran. Yah, karena sudah terlanjur dan mau mencoba banxeo, kami langsung masuk dan memesan.

Disini terjadi 2 hal yang menyebalkan. Saya memesan Banxeo yang berisi udang, Tom memesan yang Ban Xeo standar, berisi daging babi. Ketika yang datang duluan diambil oleh Tom, dia langsung makan. Ketika yang kedua datang, hampir saya makan. Saya mengecheck isinya dan ternyata tertukar ! untung sekali saya belum makan. Grrrhhh!!

Hal kedua adalah, si Tom menyuruh saya, “udah makan aja. Anggap bukan daging babi. Biasa aja. Lagian sekali sekali ini”, saya tidak menjawab dan langsung menukar BanXeo kami. Saya kurang suka terhadap orang yang tidak me-respect orang lain. Tapi kemudian saya bisa tenang lagi, dia kan baru 21 tahun. Saya harus mengerti.

Ban Xeo adalah seperti pancakes tapi garing. Yang di isi dengan sayuran dan ada beberapa daging (bisa diganti udang juga). Yang menarik adalah cara makannya. Tidak serta merta dimakan seperti burger. Tapi harus begini : ambil daun kol besar untuk alas dan penutup. Isi antara alas dan penutup itu dengan roti crispy nya, dan kemudian isi dengan sayuran, dan udang, setelah itu digulung seperti dadar gulung, dan di cocol ke saos nya. lalu dimakan. NYAM ! lezat !

Yang oke lagi adalah ice tea nya. atau teh es. Tawar dan berwarna bening seperti green tea, tapi somehow, rasa tawarnya itu enak. Saya susah mendeskripsi kan. Seperti es teh tawar tapi lebih oke. Gitu aja kali ya.

Setelah ban Xeo, kami pulang ke hotel. Tom meminjam komputer Trang untuk online dan memesan tiket dan mengecheck rute dan objek wisata perjalanannya ke Hanoi. Saya langsung ke kamar. Dan 5 menit setelah berbaring, saya sudah tertidur. Pasti karena jalan kaki hari ini.

Selamat Malam !