Jalan Jalan

Catatan dari Penang (part 2-end)

quicklink : part 1 | part 2 | photo gallery

The east end

karena papan penunjuk mengatakan Pantai Keruchut lewat jalan lurus, saya jalan lurus. mungkin saya akan bertemu dengan monyet yang katanya jinak itu. saya harap si Mitchel tidak bercanda. bisa saja dia sekarang sedang tertawa tawa membayangkan saya mendatangi monyet yang katanya jinak, lalu monyet itu mencakar saya dan saya kena rabies. tuh saya mulai berkhayal yang tidak tidak lagi.

suara monyet nya makin menjauh, saya tidak menjumpai mereka. kembali melewati jalan jalan kecil, jembatan, dan pondok pondok yang mirip dengan yang sudah saya lewati. jalanan terkadang naik, bertangga. kadang juga ada jalan yang tertutup pohon yang jatuh, sehingga saya harus sedikit merunduk. beberapa pohon memiliki label yang bertuliskan jenis pohon tersebut.

30 menit kemudian, saya menemukan satu jalan yang seperti lorong. karena ditutupi pohon tebal di kiri kanan, bahkan bagian atasnya, seperti terowongan. saya sempat berhenti di tengah tengah nya. sedikit menakutkan. hehehe

kerachut bridge
kerachut bridge

kemudian saya bertemu satu lagi persimpangan. lurus dan belok kiri. kiri ke area perkemahan, dan lurus ke Pantai Kerachut, Teluk Kampi, dan Tasik (sungai) Meromiktik. lalu jalanan mulai menyempit, dan di kiri saya, jika tidak ada pepohonan pasti akan terlihat seperti jurang. karena kebawah kira kira 10 meter. di depan, jalannya mulai menurun, dan memutar seperti spiral. saya mulai mendengar laut di kejauhan. akhirnya.

10 menit kemudian saya melewati satu jembatan yang di sebelah akhirnya ada pantai kerachut. jembatan pantai kerachut namanya. jembatan gantung tapi kokoh. saya mengambil beberapa foto disana. dari jembatan tersebut, saya bisa meihat satu danau besar di sebelah kiri saya. seperti yang saya duga, setelah jembatan, ada papan informasi tentang danau tersebut. danau meromitik. yaitu danau percampuran air asin dan air tawar. setelah selesai membaca, saya berjalan ke pantai kerachut.

pantai kerachut terlihat seperti pantai pulau bangka. tidak bisa begitu di renangi, karena sedikit keruh. tapi pasir nya bagus. dan banyak batu besar yang terhantam ombak ombak. saya menemukan seekor kepiting juga, tapi sayangnya sudah mati. tapi tetap saya foto sebagai oleh oleh. hehe

setelah beberapa pose berfoto selesai diambil, saya menggelar kain yang saya bawa. lalu mulai beristirahat siang. ah nikmatnya berbaring di pasir sambil mendengarkan suara ombak. dan yang membuatnya sempurna adalah, pada saat itu, pantai itu kosong. hanya saya sendiri.

saya tertidur sekitar 20 menit lebih. ketika duduk, saya melihat rombongan lain datang dari kejauhan. lebih dari 20 orang. kelihatannya mereka akan berkemah disini. saya berdiri lalu berjalan ke ujung pantai. melihat satu papan penanda jalur penyu. rupanya penyu juga datang ke pantai ini.

handstand
handstand

lalu ada anak muda mendatangi saya, dia sedang survey rupanya. saya menjawab beberapa pertanyaannya, tentang  pendapat saya mengenai hutan lindung nasional ini.

ada juga kapal yang datang ke dermaga pantai kerachut (cara kedua utk datang kesini adalah dengan naik kapal) . saya sembat ngobrol-ngobrol juga dengan awak kapalnya.

lalu saya sampai di ujung pantai. sebenarnya masih ada jalan kecil menuju teluk kampi. namun, karena jarak nya masih sekitar 3km, dan arah sana buntu, dan mungkin saya tak akan sempat sisi lain hutan ini jika kesana. jadi saya memutuskan untuk tidak ke teluk kampi. agar bisa ke sisi lain. dimana ada Monkey Beach, dan Mercusuar.

saya berbalik arah, melewati jembatan dan jalan menaik, menyusuri jalan jalan yang sudah saya lewati tadi. karena sudah istirahat, saya berjalan lebih cepat dari sebelumnya.

10 menit kemudian saya berpapasan dengan kelompok yang seperti nya anak anak pramuka. kelihatan seperti anak SMA. ketuanya bertanya pada saya, “ apa pantai nya masih jauh ? “ , benar juga pikir saya, anak anak SMA itu kelihatan sudah mulai lelah. “ tidak jauh lagi, Cuma 10 menit, pasti sudah sampai “ kata saya. Sedikit bangga juga. hehe

5 menit setelah melewati anak anak pramuka itu, saya melihat beberapa sampah snack dijalan, saya tidak melihat sampah ini ketika saya pergi. huh pasti anak anak pramuka tadi. saya memungut nya dan memasukkan ke kantung belakang celana saya, tempat biasa saya meletakkan sampah sampah.

to monkey beach

saya melihat peta, untuk sampai ke monkey beach, yang terletak di utara hutan ini, ada 2 jalan, persimpangan tempat saya takut akan suara monyet, atau simpang pertama pasir pandak. jelas, yang kedua lebih jauh dari tempat sekarang saya berada.

melewati pondok pondok dan sungai sungai kecil. jalan yang seperti terowongan, sekitar 1 jam kemudian saya sampai di persimpangan yang saya tuju. saya mengambil jalan ke kiri. dan mulai antusias karena jalan ini belum saya lewati.

di jalan ini, pohon pohonnya rata rata tinggi. saya sempat berhenti di satu semak, yang tumbuhannya berbentuk menarik. pada ujungnya spiralling seperti keong. saya sempat memotretnya. sempat juga takut menyentuh, siapa tahu ada racunnya, hehe. tapi akhinya saya sentuh juga. Hehe

the path
the path

kembali berjalan sambil menikmati alam. Hal menarik berikut nya adalah sungai kecil di kanan jalan. bunyi nya, dan ada satu bagian sungai yang seperti air terjun kecil, dan tepat disinari matahari, membuat saya mampir dan ingin membasahi kaki saya dengan air disitu. Saya beristirahat sebentar. Lalu saya sadari si daun spiral ada juga di dekat sungai ini.

5 menit kemudian saya sudah siap berjalan lagi, kembali menggunakan jalan yang tadi. Kali ini ada jalan yang tergenang air dari aliran sungai tadi, tapi ada beberapa batang

kayu besar di tumpuk diatas genangan itu, mungkin diletakkan oleh penjaga hutan ini,  sebagai pijakan untuk tamu yang ingin lewat.

10 menit setelah itu, saya sampai di suatu lahan besar, dan terdapat beberapa pondok pondok dan juga semacam fasilitas outbond. Ada jembatan gantung antara pepohonan, dan beberapa tempat duduk kayu. Namun tidak ada orang disana. Saya melihat lihat untuk mencari informasi. Rupanya ini adalah tempat mulai nya suatu jembatan gantung, yang nanti nya akan tembus di pantai. Semacam shortcut. Menarik juga, sayangnya pintu masuk ke jembatan gantung itu tutup, plus, ternyata harus bayar.

Setelah duduk sebentar dan minum, saya melanjutkan perjalanan. 10 menit dari spot tadi, saya sampai di area perkemahan. Dari mana saya tahu itu tempat kemah ? karena ada papan infonya. Hehe tidak melihat sesiapa yang berkemah disana. Kembali berjalan melewati spot ini, dan sampai di suatu persimpangan lagi. Kali ini namanya Jembatan Sungai Tukun. Simpang kanan dan lurus ini berupa jembatan. Bagus bentuknya dan kelihatan masih kokoh. Dari peta, saya bisa melihat, kalau ke kanan akan kembali ke jembatan sungai pandak, atau ke arah pintu masuk taman nasional. Dan lurus mengarah ke Monkey Beach. Setelah menyempatkan berfoto di jembatan, dengan pose tertentu, saya jalan lagi.

Trek kali ini berbeda dengan sebelumnya, kali ini saya jalan di jalan sempit, tanpa bisa melihat pohon besar. Sebelah kiri saya adalah tanah menaik, dan sebelah kanan saya adalah semak semak yang dibelakangnya langsung ada laut. Jadi sambil jalan, dengan jelas saya bisa mendengar desiran ombak. Enak.

Karena jalanannya bukan tanah yang mendatar, pemerintah membangun jalanan kayu di trek ini. Lebih nyaman dan mudah. Tapi sekaligus tidak mengurangi unsur adventure nya, sesekali, treknya tidak memungkinkan untuk dibangun jalan, karena terlalu curam, dan banyak batu besar. Sambil melompati batu batu tersebut, saya mengintip di luar semak semak di bagian kanan. Awan sedang cantik cantiknya rupanya.

bebatuan yang bagus
bebatuan yang bagus

Sekitar 20 menit berjalan, saya menjumpai celah disemak sebelah kanan, dan kelihatan banyak batu besar di tepi laut. Tanpa berpikir, saya langsung merosot ke kanan dan perlahan berjalan ke batu batu tersebut. Ahh menarik, ombak menghantam bebatuan beberapa langkah dari saya. Saya duduk di tempat yang tepat untuk menikmati awan, ombak, dan landscape. Di kejauhan kelihatan lengkungan Gurney. Karena sebelumnya sudah mencoba mengambil foto dengan timer handphone, saya berhasil mendapat satu foto diri sendiri yang oke. Hehe

10 menit disana, saya lanjut lagi. Sambil menghitung hitung waktu, kelihatannya mungkin untuk kembali sebelum sore. di jalan saya melihat papan penunjuk mengatakan monkey beach sudah dekat. Yess!

Akhirnya sampai di monkey beach. Disana lumayan ada beberapa orang terlihat. 3 orang bule sedang berjemur, beberapa orang lokal sedang bermain air dengan anak anak mereka. Saya sendiri, mencari spot yang teduh, membentangkan sarung bali saya, dan mulai berbaring. Ahhh enakkk.

Di monkey beach ada satu dermaga panjang dan satu bangunan yang seperti bangunan pemerintahan. Di dermaga terlihat beberapa orang yang datang dengan speedboat. Kebanyakan seperti anak anak kuliah. Dan bangunan pemerintah nya seperti tempat research dan pusat penjagaan taman nasional. Itu kalau saya tidak salah ingat ya. Hehe

Dinamakan monkey beach tentunya ada monyet nya ya. saya sempat takut kalau kalau mereka datang ketika saya tertidur. Tapi untungnya tidak, mereka terlihat di sisi yang lebih jauh dari pantai ini. Oiya, pantai ini lumayan panjang, mungkin sekitar 600 meter panjangnya.

No matter what, im going up

saya merasa haus sekali. Ketika bertanya pada orang lokal, mereka menyuruh saya mengambil air dari air keran. Karena tidak ada yang menjual aqua disini. Saya sempat mikir mikir, lalu memutuskan untuk meminum air keran. Rasanya tidak begitu buruk.

monkey beach
monkey beach

lumayan lelah, kalau dilihat lihat, jam sekarang sudah jam 2.30 dan saya sudah mulai jalan dari jam 8. Saya melihat peta, ada spot terakhir yang harus saya kunjungi, Mercusuar Muka Head. Dari monkey beach, masih sekitar beberapa kilometer lagi, DAN treknya semua tanjakkan. Saya menyanggupi tantangan dari bagian diri saya yang lain. Berkemas, dan mulai berjalan.

Melewati beberapa monyet yang sedang bermain, mereka menjauh ketika saya lewat. Saya mencoba bicara pada mereka “enak ya lagi pada main bareng”, tapi saya tidak merasa itu aneh, malah sepertinya bagus. hehe oke, tangga mulai kelihatan.  Di anak tangga awal, saya melihat satu bule cowo sekitar 24 tahun yang baru mulai naik. Saya bertanya tanya apa saya akan bisa melewati dia di tangga ini.

Jawabannya sudah kelihatan jelas 30 menit kemudian. Dia sudah tidak kelihatan, jauh didepan (atau diatas) sedangkan saya sudah beristirahat kedua kalinya. Tangga ini 2kali lebih berat daripada trek bebatuan. Atau mungkin karena saya sudah lelah. Huff huff. Melihat keringat di tangan saya, seperti air pada buah apel yang baru dicuci. Sayang nya tidak ada apel disini. Saya mengepal tangan dan mulai berjalan lagi.

Jalan lebih cepat, agar lebih cepat sampai. 15 menit kemudian, saya berpikir kalau mercusuar sudah dekat, tapi ternyata belum. Karena pohon pohon tinggi, langit tidak kelihatan. Beberapa kali saya berpapasan dengan orang yang baru turun dari mercusuar.  Semuanya bule.

“ apa mercusuar nya masih jauh ? “ tanya saya dalam bahasa inggris pada satu orang bapak yang berjalan dengan anaknya

“ tidak jauh lagi. Tangga ini menantang sekali ya “ kata dia

Wah saya lega. Ternyata saya tidak terlalu payah karena kelelahan disini. Bule bule juga capek. Saya mulai berjalan sambil bernyanyi.

Dan 15 menit kemudian, pohon tinggi sudah tidak ada, dengan jelas saya bisa melihat mercusuar itu makin mendekat. Saya makin semangat. Dan 5 menit kemudian, saya tiba di pintu masuknya. ARGH. Langsung saya membuka kaos saya. Dan mengambil nafas panjang. Akhirnya tanah yang datar (halaman mercusuar). Huff huff.

Meletakkan tas yang saya bawa, dan berjalan ke depan dan belakang. mengipas ngipas dengan telapak tangan, agar badan saya terkena sedikit angin. Benar benar trek yang keren, sampe capek nya poll gini.

Melihat keatas, wah mercusuar nya untung tidak begitu tinggi. Sekitar 25 meter saja. Mungkin karena letaknya yang sudah di dataran tinggi begini, 1 jam naik dari pantai tadi, bayangkan saja. Saya yang takut ketinggian ini, kelihatannya bisa menaiki nya.

Ketika akan masuk, saya melihat buku tamu di pintu. Tanpa berpikir, saya langsung mengisinya. “Satu Cahaya Langit from Jakarta, was here. The trek is really cool. “ dengan bangga saya membaca nya kembali. Hehe

Si bule yang tadi di depan saya, keluar dari mercusuar, ketika saya akan masuk. Saya memberi salam dengan anggukan, dan dibalasnya. Saya menaiki tangga tangga kecil di mercusuar. Untung nya lagi, mercusuar ini tipe nya yang seperti benteng, tangga nya di dalam, dan dinding nya kokoh. Saya menaiki tangga tanpa sedikit pun rasa takut.

Nah, rasa takutnya mulai muncul ketika saya sudah di pintu keluar. Angin berhembus lebih kencang. Saya mengkalkulasi tinggi pagar pembatas dengan badan saya. Seperti nya cukup aman. Saya memaksa diri keluar dan memegang pagar. Saya memegangnya dengan sangat kuat lho. Hehe

Setelah beradaptasi dengan keadaan. Irama jantung mulai membaik. Dan saya bisa menikmati pemandangan sekitar. Wah di arah barat ini, saya bisa melihat pantai Keruchut yang tadi pagi saya datangi. Lalu banyak hutan. Dan setelah mengumpulkan kekuatan, saya berhasil berjalan pelan pelan mengitari mercusuar.

Di sebelah timur ada teluk dengan pantai pantai di Batu Feringghi, dan juga Gurney pada ujung nya. hebat. Saya melihat begitu banyak tempat dari titik ini. Menarik. Sayang sekali handphone saya sudah habis baterai nya dari Monkey Beach tadi, sehingga sudah tidak ada foto yang bisa saya perlihatkan.

Setelah puas melihat lihat, saya pun turun dari mercusuar. Ketika melihat si penjaga nya, saya menyapanya. Lalu pamit. Menuruni tangga yang tadinya sulit, sekarang karena turun, jadi santai sekali. La la la. Tapi kaki saya sudah pegal juga ya.

Sampai lagi di monkey beach. Waktu sudah hampir jam 4 sore. melewati monkey beach, semak semak, dan jalan setapak, lalu sampai di Jembatan Sungai Tukun. Nah disini saya bertemu Antje. Dia baru saja mandi di kamar mandi dekat situ, memang disediakan. Dia juga rupanya baru selesai jalan jalan di hutan itu, karena capek, jadi mandi. Wah enak ya dia bawa alat alat mandi.

Kami lalu sama sama berjalan menuju pintu masuk. Waktu nya kira kira jam 4.30pm ketika saya sampai kembali di pintu masuk.

Pengalaman yang menarik, trekking yang melelahkan tapi menyenangkan, teman teman baru yang asik. Trek ini, kalau dipikir pikir, dulu juga pernah trekking menantang, pada saat ke baduy, jalan kaki selama 5 jam. Tapi itu beramai ramai, kali ini saya sendiri.

Untuk teman teman yang suka trekking, saya menyarankan untuk mencoba ini. Karena full cycle nya bisa makan seharian, jadi yah, lumayan kan. Alamnya juga bagus.

Anyway, terima kasih kota Penang, untuk taman nasional nya yang terawat, bagus, dan gratis. Untuk Mitchel dan Antje.

Semoga tulisan ini menghibur.

Oleh Satu Cahaya Langit. Di Penang, Malaysia. Nov 2010