Jalan Jalan

Catatan dari Penang (part 1)

quicklink : part 1 | part 2 | photo gallery

November 2010

Pada awalnya, saya berencana mengunjungi salah satu dari 4 pantai pantai/pulau kesukaan saya, pada trip ke Malaysia kali ini. Tioman, Perhentian, Redang, mungkin salah satu dari itu. Yang membawa saya ke Malaysia adalah wisuda Sika (adik saya), namun tentu saja saya tidak datang lalu langsung pulang. 1 atau 2 pantai terdengar menyenangkan. Sayangnya kamera kesayangan saya, Kounan (ya, saya memberi nya nama), mengalami Error 99, tepat sehari setelah Sika wisuda. Saya terpaksa mengubah jadwal saya, mengambil satu sampai dua hari untuk pergi ke Penang, untuk pergi ke toko kamera dan menanyakan apa yang terjadi pada Kounan.

The change of route, penang city walk

Error 99 rupanya adalah error yang general. Dan memakan waktu paling cepat 2 minggu untuk mengetahui apa yang salah, itu pun Kounan harus dikirim ke pusat service Canon Malaysia, di Shah Alam. Jelas tidak mungkin karena 4 hari dari hari itu, saya sudah akan pulang ke Jakarta.

Alasan kamera rusak, ditambah 1 lagi alasan kuat, yaitu cuaca buruk di pesisir pantai timur, membuat saya merombak total rencana saya. dan akhirnya memutuskan untuk menjelajah pulau Penang ini. Mungkin 2 hari sudah cukup. Karena sebelumnya saya sudah sering mendatangi pulau ini. Dulu ketika masih berkuliah di UUM.

Check in di sebuah guesthouse sederhana berharga Rp45,000 per malam, saya berbaring di kasur di ruangan 3×3 itu. 1 jam kemudian terbangun, lalu mandi. Sambil mandi, kata “CityWalk” terdengar menarik. Saya akan melakukan itu setelah ini. Berjalan kaki menelusuri kota.

the white church
the white church

Mengunci tas backpack dengan rapih, membawa peralatan seadanya, mengunci kamar, saya sudah siap berangkat. Biasanya sebelum CityWalk, saya menyiapkan peta. Tapi jalan jalan Penang sudah sedikit saya hapal, jadi rasanya tidak perlu.

Saya mulai berjalan dari Chulia Street, menuju Komtar dan Prangin mall. Beberapa tahun lalu, saya juga melewati jalan jalan seperti ini. Georgetown, ibukota Penang, adalah kota dengan jalan jalan kecil dengan blok blok kecil dan banyak jalan satu arah. Mayoritas penduduknya adalah bangsa cina. Jadi sepanjang perjalanan saya melihat rumah makan cina, bengkel bengkel dengan nama cina, dan tentu nya, juga mendengar orang orang berbahasa cina.

15 menit berjalan santai, saya sampai di Komtar. Kalau tidak  salah, singkatannya adalah Komplek Tun Abdul Razak. Semacam pusat perdagangan dan bisnis. Komtar memiliki 4 bangunan besar. Salah satu nya adalah terminal bis dalam kota, lalu ada kantor pusat kementrian pembangunan (koreksi jika saya salah), dan gedung lainnya adalah Prangin Mall, salah satu Mall yang paling populer di Penang. Mall tidak begitu membuat saya tertarik, jadi saya langsung naik ke gedung lama Komtar. Menuju lantai 4, ada foodcourt yang dulu sepi, ternyata sekarang juga masih sepi. Setting di foodcourt ini lumayan menarik untuk saya, letaknya di rooftop, walaupun bukan lantai yang tertinggi, dan mungkin saya suka dengan suasana nya yang tidak ramai. Makanan nya pun murah.

Setelah mencoba teh tarik yang enak, saya beranjak turun menggunakan tangga dari sisi belakang gedung ini. Rupanya di sisi ini sudah ada extension, atau tambahan, yaitu area kafe. Satu lorong memiliki banyak kafe. Yah, seperti Jakarta juga ya, kafe kafe sedang digandrungi.

Saya berjalan ke arah barat. Melalui jalan yang belum pernah saya lalui. Melewati the One Academy, yaitu kampus design di Penang, lalu melewati Atlantis, saya tidak begitu tahu itu tempat apa, tapi seperti restoran mewah. Pada satu persimpangan, ada gereja putih yang cantik, saya menyempatkan memotret nya.

Lalu ada KFC yang bangunannya seperti rumah. Oh ya, Penang memang pusat pemerintahan inggris sewaktu inggris menjajah Malaysia, jadi keadaan bangunan bangunan di Penang banyak yang masih menggunakan bangunan asli inggris, contohnya adalah bangunan rumah KFC tadi.

Setelah 30 menit ke barat, saya mulai berjalan ke utara. Sepertinya saya tau arah ini menuju tempat apa. Menuju pesisir Gurney. Saya memang mau kesana. Melewati beberapa persimpangan, beberapa hotel, menyebrangi beberapa jalan dengan sedikit berlari. 20 menit kemudian saya tiba di Persiaran Gurney. Yay !

gurney walk
gurney walk

Gurney adalah kawasan terkenal, karena letaknya di tepi laut, dan juga banyak tempat makan yang enak disana. Beberapa residence atau apartment terkenal juga dibangun disini. Juga salah satu club terkenal yang namanya….ah saya sudah lupa, Mambo ? Jambo ? yah itulah pokoknya. Dan tentunya, ada Gurney Plaza.

Saya beristirahat sebentar di batu batu di tepi pantai. Anginnya segar. Lalu berjalan pelan pelan di trotoar yang dibangun khusus untuk pejalan kaki. Sempat berhenti di suatu rumah makan india, atau mereka menyebutnya ‘kedai mamak’, untuk selembar roti canai dan teh tarik. Nyam !

Akhirnya saya masuk ke dalam Gurney Plaza. Saya ingin melihat apa yang mereka putar di bioskop plaza itu. Ternyata tidak begitu menarik. Saya pun sudah lupa film apa yang mereka putar pada saat itu.

Jam sudah menunjukkan pukul 6.20pm. sebentar lagi senja. Maghrib di malaysia tiba pada jam 7.20pm, satu jam lebih lambat dari di Indonesia. Saya rasa sudah cukup Citywalk hari ini.

To batu feringghi, extending my stay in penang

Handphone saya berbunyi. Ada sms. Rupanya dari seorang teman Couchsurfing, yang tinggal di penang, bernama Mitchel. Cowo berkebangsaan Prancis. Dia melihat post saya kemarin, tentang saya yang sudah tiba di Penang, lalu dia menawari untuk menumpang dirumahnya. Terdengar menarik, saya langsung membereskan barang barang di guesthouse ketika sampai di sana, lalu naik bis menuju Batu Feringghi, tempat Mitchel tinggal.

Bis nya seperti bis yang ada di Kuala Lumpur, dingin dan nyaman, tapi, tetap ya, supir nya kurang ramah. plus bayarnya harus menggunakan uang pas. Saya men-stop bis di depan suatu persimpangan setelah pasar malam. Ketika saya mencari cari cowo prancis di sekitar sana, yang memanggil saya malah seorang cewe dengan rambut pirang. Namanya Antje. Dia juga tamu Mitchel, yang disuruh menjemput saya disana, karena Mitchel sedang menunggu seseorang.

the ship
the ship

Batu Feringghi adalah kawasan yang sedikit eksklusif, karena pantai nya yang bersih dan dipelihara dengan baik, dan juga banyak hotel hotel mewah. sepertinya pemerintah setempat memang menata area ini agar menjadi area turis. saya lebih banyak melihat turis asing daripada penduduk lokal. ada satu cabang The Ship, salah satu restoran seafood terkenal di Malaysia, yang terkenal dengan design bangunannya yang menyerupai kapal, dibangun di Batu Feringghi.

Mereka orang orang yang sangat ramah. Dan memiliki banyak sekali cerita menarik. Saya mendengar cerita mereka dengan seksama dan antusias. pada awalnya, saya memutuskan hanya 2 hari di Penang, dengan malam ini, sudah bertemu teman teman baru, besok bisa pulang menuju KL dan bersiap pulang ke Jakarta, walaupun tiket pesawat saya masih 3 hari lagi.

Tapi cerita Antje membuat saya lagi lagi mengubah rencana saya. Saat makan malam, dia bercerita bahwa pada pagi harinya, dia pergi ke taman nasional Penang. salah satu taman nasional terkecil didunia. taman nasional di Malaysia adalah hutan lindung. Antje bercerita bagaimana ia melewati jalan setapak, yang jauh, dan jalur trekking yang menantang, dan menjumpai beberapa pantai yang indah. ini terdengar seperti panggilan untuk saya.

saya akan kesana besok pagi. kata saya dalam hati.

besok pagi nya, saya sudah siap untuk berangkat pada jam 7.30am. hanya 1 kali naik bis, sekitar 10 menit, saya sudah sampai di taman nasional itu, yang juga adalah ujung dari area Batu Feringghi.

untuk masuk kesana, setiap orang harus mendaftarkan diri. untuk keamanan. tapi pepatah “apa sih yang gratis jaman sekarang” rupanya tidak berlaku disini. tiket masuk ke taman nasional ini adalah gratis. keren ! dari daftar hadir, saya bisa lihat sudah 2 orang yang masuk sebelum saya. keduanya bule, dilihat dari namanya.

dari gapura selamat datang, jalan nya masih ber-ubin. rapih. dan saya berjalan dengan hati riang. sekitar 3 menit kemudian, seekor biawak besar melintasi jalan di depan saya. saya berhenti, lebih baik tidak cari masalah, pikir saya. disini terjadi hal yang lucu. biawak itu melihat saya sebentar, lalu wajah nya berubah menjadi aneh untuk sesaat, lalu dia kembali berjalan ke arah semak semak, menghilang. saya baru sadar, kalau tadi adalah wajah nya yang sedang buang air besar. ya benar, dia buang air besar di depan saya dengan sengaja ! dasar ngga sopan 🙂

the beachside
the beachside

karena masih pagi, udara disana segar sekali. di sebelah kiri saya banyak pepohonan sementara di sebelah kanan ada pantai. saya melewati satu pohon rindang yang ada ayunan dibawah salah satu dahan nya. 100 meter dari sana, ada pondok kecil dengan jembatan, bernama Jembatan Pasir Pandak. ada jalan bercabang di belakangnya. berbekal map yang diberikan di pos pendaftaran tadi, saya melihat rute jalan. ke kiri seperti nya lebih jauh daripada ke kanan. jadi saya mengambil jalan ke kiri, yaitu jalan yang diujungnya ada pantai bernama Pantai Kerachut.

200 meter dari persimpangan itu, pantai nya sudah tidak terlihat. saya dikelilingi oleh pepohonan. trek nya tidak terlalu curam, hanya sekitar 5 atau 10 derajat naik. suara suara burung bergantian terdengar. saya berjalan sambil bernyanyi. lalu melihat suatu pohon yang dilewati para semut yang sedang berjalan. banyak sekali jumlah nya, mungkin ribuan. saya memperhatikan mereka sebentar.

melewati pondok yang kelihatannya disiapkan untuk pejalan kaki yang ingin beristirahat. sungai sungai kecil juga saya lewati. sempat ingin berfoto juga di batu yang besar, ternyata susah juga menyesuaikan timing dan posisi handphone, untuk memotret dengan timer. setelah beberapa kali mencoba, saya mendapat satu foto yang lumayan pas. hehe

badan saya mulai berkeringat sehat. segar sekali badan basah tapi diterpa angin segar. sekitar 40 menit kemudian, saya sampai di persimpangan berikut nya. kali ini kanan dan depan. ketika berjalan menuju persimpangan itu, saya mulai sadar, kalau saya seorang diri di hutan yang luas ini. mungkin kalau terjadi apa apa, tidak akan ada yang tahu. sesuatu seperti bertemu binatang buas, atau – ah sudah, memikirkan itu tidak begitu berguna untuk saat ini. saya segera melihat lihat sekitar. ternyata selain suara burung, ada juga suara monyet. tidak hanya bersuara, kelihatannya monyet monyet itu sedang asyik melompat dari dahan ke dahan, saya melihat pohon di kejauhan bergoyang lebih kencang dari sekedar diterpa angin.

monyet yang liar yang nakal akan jadi sesuatu yang tidak bagus, saya mengambil handpohone dan mencoba menelpon Mitchel. untungnya, kalau dari tadi sinyal susah, kali ini, saya dapat 1 bar.

“ apa monyet monyet yang suaranya saya dengar ini, aman ? “ tanya saya

Mitchel tertawa selama 7 detik. Saya sudah tahu jawabannya. “ Aman. sepertinya mereka lebih jinak daripada kamu “ kata Mitchel. lumayan melegakan.

bersambung ke part 2..(click)