Personal

sembilan belas oktober

sembilan belas oktober dua ribu tujuh.

pagi ini, sebuah panggilan telepon memecah keheningan. setelah semalam, ketika suasana makan malam bertiga, antara aku, adikku Ruri, dan kakak angkatku Kak Farah, kuterima juga panggilan yang mendiamkan semua orang. “Ayahmu masuk rumah sakit, nak. sedang koma”, kata suara di telepon itu, yaitu suara ibu tiri ku. Ku dengar dengan seksama urutan peristiwa yang Ia ceritakan. Ayah sedang makan siang di warung, lalu pada sore hari nya tiba tiba jatuh, dan mulut nya berbusa, segera dibawa kerumah sakit, sampai malam ini belum sadar. dokter bilang Ayah koma.

bang las, begitu ia disapa oleh teman temannya
bang las, begitu ia disapa oleh teman temannya

Kami bertiga terdiam. Ruri mulai menangis. Aku juga tidak bisa menahan air mata ku. Kak Farah yang tadi nya ingin temu kangen dengan kami berdua, jadi merasa sedikit canggung. Ia menenangkan kami. mengingatkan kami bahwa semua sudah kehendak Allah SWT. malam itu juga aku sholat tahajud. memohon pada Sang Pencipta, selamatkanlah Ayah. tidak begitu sering aku membasahi sajadah dengan air mata. “haruskah kami pulang ?” tanya ku pada ibu tiri ku. dia bilang tidak perlu untuk saat ini, dokter berkata keadaan akan membaik. aku mengucap syukur seketika ketika mendengarnya. Aku menelpon ibu ku juga, ia juga menunggu kelanjutan kabar nya.
” Kalian harus pulang sekarang. Ayah koma lagi ” , kata bibi Nisa, yang merupakan kakak kandung ayahku. aku mengabarkan pada Ruri yang tiba tiba langsung menangis lagi. tapi tanpa membuang waktu, aku segera membereskan barang. Kupeluk Ruri, dan kukatakan, “Harapan belum sirna. ayo kita pulang”. karena saat itu aku belum bekerja, dan uang kiriman dari keluarga besar ibu ku belum sepertinya belum cukup untuk membeli tiket, aku menelpon teman terdekatku Lia. Ibunya meminjamkan ku uang yang cukup untuk pulang. Aku dan ruri bergegas menuju Airport.
saat itu jam 12 siang. tiket paling cepat yang bisa kami dapat adalah penerbangan jam 5 sore. Aku sudah bolak balik menanyai semua operator penerbangan, tapi sayangnya hanya itu yang paling cepat. aku segera memutuskan untuk membeli nya. Aku dan Ruri menunggu di McDonald. Tak henti henti kupanjatkan doa. agar Ayah sembuh. agar segera datang sms atau telepon yang mengatakan Ayah sudah melewati maut. Ayah sudah sadar. Ayah menunggu kami datang.
Tapi sms atau telepon itu tidak datang juga. jam 3 siang, sebuah sms datang. dari Sesha, anak pertama dari bibi Nisa. ” Telah berpulang ke Rahmatullah, Lazuardi Adi Sage, pada jam 3 siang. di rumah sakit Cipto Mangunkusumo. semoga almarhum diterima di sisi-Nya. ” , isi sms itu. aku langsung mengucap Inalillahi Wa Ina Ilaihi Rojiun. untuk pertama kali nya, aku mengucapkan itu bukan untuk orang lain, tapi untuk ayahku sendiri. Dadaku sesak, jantung ku berdegup cepat sekali. Banyak rasa bergejolak di dalam diriku. rasa tidak ingin menerima kenyataan pahit ini, kenangan dengan Ayah. Aku terlalu terkejut hingga tidak bisa memikirkan bagaimana menyampaikannya pada Adikku. sesaat kemudian dia membaca raut wajahku, mengambil handphone dari tanganku, membaca nya, dan menjerit.
Aku tidak ingat apa kami mengganggu pengunjung lain di restoran itu. Aku sebagai kakak, mencoba sekuat tenaga mengontrol diriku, dan menenangkan Adikku. lebih daripada ku, Ruri sangat dekat dengan Ayah. Ayah memanjakannya sejak kecil. Dia pasti sangat kehilangan. ketika kami sudah sedikit tenang. aku mengajaknya sholat ashar. mencoba mendoakan kepergian Ayah. mencoba mengikhlaskan. mencoba mempersiapkan hati ketika harus melihat mayat Ayah.
seorang ibu menghampiri ku ketika Ia melihatku menangis pelan. aku sedang menunggu Ruri selesai sholat. aku bercerita padanya tentang Ayah. ” Sabar ya, nak. ” katanya singkat sambil mengelus pundakku.
jam 8 malam kami sampai dirumah. bendera kuning sudah kulihat dari depan komplek. untuk pertama kalinya juga, rumah yang berbendera kuning itu rumahku. disana sudah banyak orang berdatangan. Ibu ku dan Ibu tiri ku menyambutku di ruang tengah. tepat bersebelahan dengan Almarhum Ayah yang sudah dikafani. Wajah nya masih dibuka. Aku bisa melihat jasadnya tanpa menangis. kulihat ia tidur dengan tenang. ekspresi nya sama seperti ekspresi dia ketika sedang berpikir yang tidak terlalu keras. dalam sedihku, aku bersyukur Ayah hanya satu hari dirumah sakit. aku bersyukur raut wajahnya tenang. Alhamdulillah.
kami membaca yasin sampai pagi. hampir semua orang sudah pulang, hanya seorang teman bernama Agus. yang tidak berhenti ber-yasin bersamaku. pada pagi harinya, sesudah menyolati, kami memakamkan Ayah di taman makam Tanah Kusir. Ayah dimakamkan di makam Ibu nya. kedengerannya damai, seorang anak, kembali disatukan dengan ibu nya.
Aku orang pertama yang turun ke dalam liang kubur, bersiap menerima jasadnya, untuk dibaringkan di dalam kubur. sudah kupastikan air mataku berhenti dan tidak akan menetes di makam Ayah. jasad Ayah lebih berat dari yang kukira. perlahan aku berlutut untuk membaringkan jasadnya di dalam kubur. menghadapkannya ke Kiblat.
ketika kembali ke atas, tangisku tidak tertahan. salah satu teman meraihku dan menyandarkan kepalaku pada pundaknya.
3 hari ternyata cukup untuk membalikkan keceriaan menjadi kesedihan yang mendalam. sampai dua minggu setelah pemakaman, aku masih sering menangis. ketika melihat kursi kerja Ayah, membayangkan gerak gerik nya yang rutin duduk disana sambil membaca koran. atau ketika membayangkan bagaimana ia mengatakan “Ayah sih yakin, kamu pasti bisa lebih sukses dari Ayah”.

"hadapi kenyataan", salah satu nasihatnya
“hadapi kenyataan”, salah satu nasihatnya

Ayah memberi banyak nasihat yang baru sekarang aku sadari, sangat masuk akal dan berguna. salah satu yang paling aku ingat adalah ” Hadapi kenyataan “. aku masih ingat gayanya ketika menyampaikan itu. aku hanya tidak mengira harus mengatakan itu pada diriku sendiri, untuk menerima kepergian Ayah.
sembilan belas oktober dua ribu tujuh. hari dimana Ayah mengakhiri misi hidupnya. misi yang menurut aku sukses. ia sudah membesarkan kami dengan baik. mengajarkan nilai nilai positif padaku. nilai nilai yang akan terus aku alirkan pada keturunannya.
sembilan belas oktober dua ribu sebelas. dimana sejak 4 tahun lalu, aku ingin Ayah melihatku dari atas sana, melihat semua pencapaian yang kubuat. melihatku tumbuh, melihatku menjalankan amanahnya untuk membantu mereka yang kekurangan.
untuk Ayah, terimakasih telah menjadi ayah yang baik.
untuk Allah SWT, terimakasih telah memberikan dia sebagai Ayahku.
oleh scl
ditulis untuk mengenang Ayah terbaik sepanjang hidupnya
terima kasih banyak kepada : Yugi Ratih Agustina, Agus Hartono