Kepedulian

Petak Umpet dan Pergeseran Budaya

tahun 2011 berbeda sekali dengan tahun 1995.  banyak kemajuan yang sudah kita lihat dan alami. banyak yang positif, seperti kemudahan komunikasi, informasi, dan fasilitas. tapi, kalau kita teliti, sepertinya kita juga kehilangan banyak hal penting.

petakumpet
petakumpet
” 40 ! kamu hitung sampai empat puluh ! ” teriak seorang anak pada anak lainnya yang kebagian jadi ‘penjaga’. lebih dari 8 anak lain berlarian berpencar ke berbagai penjuru, mencari tempat yang paling aman untuk bersembunyi. pada hitungan ke empat puluh, si ‘penjaga’ akan membuka mata dan mulai mencari temannya yang bersembunyi, satu persatu.
Petak Umpet adalah nama permainan itu. permainan yang diturunkan dari banyak generasi sebelumnya. permainan itu hanya satu dari permainan yang saya suka ketika kecil. hanya satu dari banyak permainan yang ada saat saya kecil dulu. Selain petak umpet, ada lompat karet, galaxin, petak benteng, petak patung, petang jongkok, congklak, bola bekel, ular tangga, halma, monopoli, dan banyak lagi.
Permainan tersebut, selain menghibur kami sebagai anak-anak, juga seperti olahraga, membugarkan tubuh. semua otot bekerja, bersinergi dengan tubuh dan otak. itu permainan yang baik, yang menyehatkan badan.
tahun ini 2011, dimana entah memang saya yang sudah tidak kecil lagi, atau saya memang kurang informasi, tapi sepertinya, permainan ketika saya kecil, tidak lagi dimainkan. sebagai gantinya, sepertinya gadget dan alat elektronik lebih menarik untuk anak anak. mungkin memang ada saatnya trend berganti, atau mungkin juga gadget tersebut memang lebih menarik karena berwarna, bergerak, bersuara. tapi setidaknya ada dua hal yang kita tinggalkan, yaitu budaya asli, budaya tradisional, dan satu lagi, kebiasaan bermain sambil bergerak. menurut saya, budaya permainan pada gadget, bukanlah budaya asli kita. dan menurut saya, bermain sambil bergerak itu bagus sekali lho.
hal lainnya yang kini sudah ditinggalkan juga, adalah bedtime story. atau dongeng sebelum tidur. dahulu, orang tua kita selalu menceriterakan sebuah cerita rakyat dengan pesan moral yang kental, sebelum kita tidur. hal ini, jika saya bayangkan sekarang saja, terasa sangat nyaman.
sekali lagi, mungkin saya yang kurang informasi atau semacamnya, tapi saya tidak lagi mendengar orangtua membacakan dongeng sebelum anaknya tidur.
pada pembahasan pertemuan saya dan teman teman malam ini, topiknya sedikit lebih berat daripada sebelumnya. bedtime story yang saya kira akan ringan, ternyata William, mengorek fenomena bedtime story yang mulai ditinggalkan. yang kemudian ditambahkan fakta fakta lain tentang perubahan perilaku anak, tahun saya kecil dibanding tahun sekarang.
kami mulai membahas solusi yang mungkin dilakukan. secara singkat, berikut yang kami dapat:
– semangati anak untuk membaca dan menulis. dengan membaca dan menulis, kepekaannya tentang cerita akan bertambah, dan wawasannya akan meluas.
– semangati anak untuk memainkan permainan tradisional. selain melestarikan permainan tradisional, kita juga mengajarkan generasi berikut, agar menjadi generasi yang lupa dengan sejarahnya
– mulai dari diri sendiri, jadilah contoh bagi orang sekitar. baca, tulis, mainkan permainan tradisional, mungkin saja adik adik kita, atau keponakan akan mengikuti kita
– Laskar pelangi juga salah satu kunci. sebenarnya film seperti itu yang bisa membantu kita memperbaiki generasi. film seperti ini, harus kita semangati agar terus dibuat
– Bergerak secara aktif. mungkin dengan mencari organisasi sosial yang sudah mulai menjalankan misi yang sama dengan kita, lalu ikut secara aktif, agar hasilnya semakin banyak
– Animo, kuatkan animo membaca, menulis, mendongeng, dan memainkan permainan tradisional.
kira kira itu yang kami bahas malam ini. kami juga berinisiatif untuk mencoba membuat scrapbook berisi dongeng dan cerita moral untuk anak, yang nantinya akan kami kumpulkan, untuk dibagikan, atau semacam itu.
semoga bermanfaat
satu cahaya langit