Cerita Pendek, Writing

Chasing sanity

chasing sanity
chasing sanity
Menghentikan langkahnya, Angga tertegun dengan apa yang dilihatnya. Disuatu sudut sana, sedang berjalan matahari yang menjelma menjadi manusia. Andini. perempuan yang walaupun sudah 3 tahun lalu menolaknya dan berhenti berhubungan dengannya, tapi selalu ada di mimpinya. mimpi yang terlalu sering hingga terasa baru mimpi ketika terbangun darinya.
Mata Andini kemudian menemukan arahnya ke mata Angga, namun segera disudahinya. Andini sedikit berlari menuruni eskalator yang sedang dipijaknya. Terkejut karena tidak seperti mimpi biasanya, dimana mereka berdua sedang bersama dengan bahagia, Angga berlari mengejar, sebelum Andini hilang dari pandangan. “Kali ini bukan mimpi”, katanya pada dirinya sendiri sambil melompati beberapa pembatas jalan di bangunan yang seperti mall itu.
Sesekali Andini kembali melihat ke arahnya, mencoba menebak berapa lama lagi waktu yang ia punya sebelum Angga akan benar benar sampai didekatnya. Matanya mengisyaratkan ketidakinginan untuk bersama, Seperti berkata “Enyahlah”. Angga mendorong beberapa orang, dan mulai berlari sekencang yang ia bisa. Andini berbelok beberapa kali, namun tetap tidak lebih cepat dari kecepatan Angga.
Berkeringat deras, Angga tiba didepan Andini yang akhirnya berhenti karena sadar lari bukan pilihan. Ekspresi wajahnya belum berubah juga. Mata mereka beradu, mata yang terlihat nyata. “ini bukan mimpi” katanya berulang ulang, sambil mengatur nafas. Angga melihat mata yang dulu sering dilihatnya dari pagi hingga senja. Sudah 3 tahun, mata itu membuat degupan yang sama didada Angga.
Setelah satu kedipan mata saja, Andini sudah menghilang lagi. ketika Angga baru saja akan bertanya hal yang dari dulu ia ingin tanya ketika akhirnya ia bisa bertemu lagi, “Kamu sehat sehat saja kan?”
kemudian gelap sesaat. dan terang kembali.
kali ini ia berada di ruangannya. di atas kasur putihnya. berpeluh.
dan sadar, kalau ia perlahan semakin jauh dari kewarasan.