Ulasan

Negeri 5 Menara, keindahan sebuah pelajaran hidup

negeri 5 menara
negeri 5 menara

“Man Jadda Wajada”
bukan yang tajam, tapi yang sungguh2, yang akan berhasil

sebagai penonton yang belum membaca buku Negeri 5 Menara, pada awalnya saya bertanya tanya apa arti kalimat itu. teman saya, Emmy, juga tidak mau memberitahu. “nanti lihat saja sendiri”, kata nya.
Saya termasuk orang yang suka sekali dengan film, terutama film layar lebar. Walau demikian, tidak semua film akan saya tonton. Selektif, ya saya sedikit selektif dalam memilih film. Biasanya genre-genre tertentu saja yang akan saya tonton, misalnya Thriller, Comedy dan Horror. Diluar dari genre itu, saya biasanya hanya akan menonton film dengan aktor-aktor yang saya suka. Will Smith, Jim Carrey, Nicole Kidman, Mel Gibson, Mark Wahlberg, adalah beberapa dari aktor/aktris kesukaan saya.
Melihat list aktor/aktris itu, mungkin sudah langsung kelihatan kalau film-film yang saya suka adalah film luar negeri. Film dalam negeri ? sejak Ada Apa Dengan Cinta, Jalangkung, mungkin hanya Laskar Pelangi saja yang saya gemari. mungkin sebagian besar dari kita akan sependapat, karena belakangan memang industri film Indonesia mengalami sedikit degradasi. Atleast menurut saya demikian.
Negeri 5 Menara sendiri, walaupun belum membaca novelnya, saya tahu kalau novel ini menjadi best seller. Banyak diantara teman-teman saya yang membicarakannya. Ketika saya mendengar bahwa filmnya sudah siap ditayangkan, saya mencoba memberi kesempatan pada film ini untuk mengembalikan kepercayaan saya pada perfilman nusantara.

Itu pemikiran saya sampai 5 menit sebelum film dimulai. 30 menit setelah film mulai main, senyum saya mengembang, hati saya berdebar, dan relung batin saya terselimuti kegembiraan.

“Film yang hebat”, itu kalimat yang saya pilih untuk mendeskripsikan film Negeri 5 Menara ini. Faith Restored. Setidaknya, kini saya yakin kalau perfilman nusantara bisa membuat film yang hebat.
Film Negeri 5 Menara mengkisahkan perjalanan hidup seorang pemuda bernama Alif, yang dibesarkan di Padang, Sumatera Barat. sebagai pemuda yang mempunyai mimpi, ia dan Sahabatnya membuat target akan bersekolah (SMA) dan kuliah di Bandung. Namun orangtua Alif memiliki niat lain untuknya. Mereka ingin Alif bersekolah di pesantren di Ponorogo, Jawa Timur. Mengetahui ini, Alif kesal dan berusaha menolak. Sampai Ayahnya berhasil meyakinkannya, Alif pun setuju dengan terpaksa.
Sesampainya di pesantren tersebut, banyak hal menarik yang merubah pandangan Alif. Ia mendapat sahabat-sahabat baru yang baik, mendapat guru-guru yang hebat, dan yang paling penting, ia mendapat pelajaran hidup yang sangat baik.

foto bersama penulis, Ahmad Fuadi
foto bersama penulis, Ahmad Fuadi
Saya bisa menyebutkan banyak sekali hal luar biasa dan kelebihan film ini. Pertama, banyak pelajaran moral yang bisa diserap. misalnya, ketika Ayah Alif meyakinkan anaknya, “Jabat Dulu”, katanya. menjelaskan bahwa segala sesuatu itu sebaiknya tidak langsung ditolak ketika kita tidak suka, tapi ada baiknya dicoba dulu. Moral Value yang paling kontras sendiri, adalah “Man Jadda Wajada”, saat ustadz Salman memperlihatkan bahwa sekalipun pedangnya berkarat, jika sungguh-sungguh digunakan, akan bisa memotong kayu. “Bukan yang tajam, tapi yang bersungguh-sungguh, yang akan berhasil”, katanya, yang pada saat itu, saya yakin semua hati pasti bergetar, meyakini kalau kalimat itu sangat benar.
Kelebihan kedua menurut saya adalah pada Karakter Baso (Sahabat Alif di pesantren) yang sangat….inspiring, menginspirasi. Anak SMA yang walaupun terlihat lugu, namun memiliki determinasi yang sangat kuat. bercita-cita luhur (ingin menjadi penafsir Al-Qur’an yang sudah bisa menafsir Al-Qur’an ketika masih menjadi santri), berbudi baik, pintar dan juga berani. Baso tidak lancar berbahasa inggris, tapi dengan dorongan sahabat-sahabatnya, Ia berani mengikuti kompetisi pidato bahasa inggris, dan membawa pulang juara ke-2. Jika anda menonton film ini nanti, anda akan perhatikan sendiri, kalau Baso adalah sosok yang hebat. karakter seperti ini, yang menurut saya, sangat didambakan pada zaman sekarang.
Persahabatan yang kuat juga menjadi kelebihan film ini. tidak hanya solid, tapi persahabatan mereka sangat positif. saling mendukung untuk berbuat baik, saling menghibur, dan saling mengingatkan jika ada kesalahan. para anak pesantren ini berusaha keras dalam mengejar cita-citanya masing-masing.
Masih ada lagi sebenarnya, saya list saja ya kelebihan lainnya, biar lebih singkat :
– cermin anak yang baik, yaitu anak yang menuruti kemauan orangtua. walaupun kemauan itu bertentangan dengan kemauan si anak
– kesederhanaan yang ditonjolkan dengan sangat baik.
– isi film yang sarat akan budaya islami, kesopanan, dan disiplin. memperlihatkan bahwa islam itu indah, dengan segala isinya
Bagaimana dengan kekurangan ? saya hanya menemukan satu kekurangan dalam film ini : terlalu minim konflik. menurut saya, perjalanan film terlalu smooth, dan kurang akan konflik. akan lebih baik lagi, jika unsur-unsur kekecewaan lebih dimainkan, tidak hanya kebahagiaan. tapi, itu menurut saya aja lho. pendapat kan subjektif ^_^
Segitu aja review dari saya, kesimpulannya, nilai film ini adalah : 8. kamu wajib menontonnya.
btw, setelah film selesai, ternyata Billy Sandy, si pemeran Baso ada di bioskop juga. ini oleh oleh dari sana ^_^
baso dan saya
baso dan saya
maju terus perfilman nusantara.
cheers,
SCL
ps : blog ini terpilih sebagai 5 review terbaik film Negeri 5 Menara, oleh VIVAnews.com dan Million Pictures. ini link nya . terima kasih VIVAnews dan Million Pictures !