Cerita Pendek, Kepedulian

Menyelamatkan Laut

kapal dan laut
kapal dan laut
Kapal mulai berjalan dari pelabuhan Dufadufa menuju Daruba, kota pelabuhan di Morotai. Seisi kapal bersorak gembira. Kapal kayu yang diisi 100 orang sukarelawan gabungan dari Jakarta dan Maluku bergerak pelan meninggalkan pelabuhan. Orang orang ini pergi dengan misi menyelamatkan korban gempa di kepulauan Morotai, Maluku Utara.
Kapal terlihat penuh tapi tidak terlalu sesak. Selain para relawan, ada juga penduduk lokal Morotai yang menumpang untuk ke rumahnya di Daruba. Penumpang kapal rata-rata adalah anak muda lelaki, kelihatan juga ada seorang ibu yang membawa anaknya. Seorang pemuda yang mengobrol dengan si Ibu. Sementara si anak perempuan si Ibu yang kira kira berumur 8 tahun, bermain sendiri sambil terkadang melihat aktifitas penumpang kapal.
Beberapa sudah saling mengenal karena tergabung dalam satu organisasi sosial yang sama. Misalnya saja pemuda-pemuda di bagian atas kapal. Semua terlihat tertawa dan bercanda satu sama lain. Bagian atas kapal tidak memiliki atap, dan pegangan samping hanyalah besi melintang untuk menjaga agar tidak ada jatuh kalau kalau ombak sedang besar.
“ Rudi, kamu ngapain disitu diem aja? Nahan kebelet ya “ seru salah satu pemuda, disusul tawa dari teman teman lainnya. Tawa ejekan. Rudi tetap diam dan melihat ke laut. Wajahnya memperlihatkan sedikit kegusaran. Tapi tak ada yang tahu kenapa.
Angin sedang kencang kala itu. Ombak tidak terlalu ramah. Tapi seisi kapal adalah para pemuda berani yang sudah melewati laut puluhan kali. Dan tiba tiba Rudi berdiri dengan cepat. Membuat teman teman disekitarnya terkejut dan serempak melihat kearahnya.
“ Mau kemana Rud ? “ tanya teman yang mengejeknya tadi.
Karena baru kali ini Rudi berlaku seperti itu, banyak temannya yang penasaran. Mereka diam dan melihat. Menunggu jawaban Rudi. Semua diam.
“ Menyelamatkan laut “, jawab Rudi singkat, tanpa memalingkan wajah.
Jawaban singkat dan paras serius itu tambah membuat teman temannya penasaran. Apa kiranya maksud dari jawaban Rudi itu. Tawa yang tadinya riuh, sekarang tak terdengar. Waktu seakan menjadi pelan, ketika perlahan Rudi melangkah ke tepi kapal. Ombak membuat kapal sedikit lebih miring dari biasanya. Hampir kehilangan keseimbangan, Rudi tetap mencoba ke tepi kapal. Semua orang menduga ia akan terjatuh.
Dan ia memang terjatuh. Tapi tangannya berhasil mengambil sesuatu yang ingin diambilnya. Beberapa sampah aqua gelas yang disusun menjadi satu, yang hampir tertiup angin dan jatuh ke laut.
Senyumnya mengembang sedikit. “ Untung sempat “ katanya, pada dirinya sendiri.
“ huuuuu. Kirainn apaan. Kepalamu, menyelamatkan laut “ seru salah satu temannya. Disambut banyak lagi celoteh celoteh lainnya.
Penumpang lain yang sempat melihat juga tertawa. Mereka sempat sedikit cemas karena Rudi berjalan ke arah tepi kapal.
Ketika semua menertawakannya, seorang perempuan kecil di dekat tangga bertepuk tangan senang. Matanya terbuka lebar dan senyumnya lebar. Si gadis kecil menatap Rudi. Masih dengan bertepuk tangan sekuat tenaganya, ia berjalan perlahan, menyeimbangkan dengan goyangan kapal, menuju Rudi. Melewati nya, dan mengambil sampah lainnya di kapal kapal itu.
Sampai ketika mereka berdua sudah sampai bagian paling belakang kapal, dengan tangan penuh. Mereka berdua melihat ke laut dibelakang kapal. Laut yang sudah dibelah oleh kapal, kini dihiasi sedikit perhiasan baru dari Jakarta, dari Warung warung rokok, dari perusahaan pembuat plastik, dari warung warung makan.
Penyelamatan laut tidak berhasil. Karena ada dua orang penyelamat, tapi 198 lainnya bukan.
Misi sosial penyelamatan korban gempa akan dimulai. Tapi para penyelamatnya mungkin menjadi penyebab dari terciptanya bencana lain.
Oleh SCL
* gambar diambil dari http://www.eryevolutions.co.cc/2011/04/rahasia-dalam-laut-specialversion.html