Personal, Writing

A letter from …

kertas dan pulpen
kertas dan pulpen
 
Pada gathering #Wclub (writers club) 2 kamis yang lalu, kita mengambil topik “surat”. Banyak ide-ide segar tentang topik itu. Dari cerita tentang hobi nulis surat pada waktu kecil, kolom Sahabat Pena di majalah Bobo, sampe misi keren mengembalikan kejayaan kantor pos. Dibahaslah tentang gimana dulu kantor Pos menjadi salah satu media yang paling penting untuk berkomunikasi.
Nulis surat sendiri, menurut gue, punya keunikan sendiri yang ga dipunyain komunikasi jaman sekarang, seperti Email, Sms, dan lainnya. Nulis surat lebih mendekatkan kita dengan surat dan apa yang kita mau tulis, menurut gue. Ayunan tangan menggerakkan pulpen, berirama lebih baik daripada menekan beberapa tombol. Menunggu surat itu dibalas, dan sampai pada kita lagi, itu juga seni yang lainnya. Ini salah satu alasan juga kenapa jaman sekarang kesabaran lebih tipis dibanding dulu, karena semua serba cepet.
Salah satu dari kami bilang, sebaiknya kita rame-rame nulis surat lagi ke temen-temen jauh, dan saudara, untuk mengembalikan kejayaan kantor pos. Gue tertarik, dan memutuskan untuk melakukan itu juga.
Anyway, kita juga masing-masing nulis surat pada sesi itu. Dan tadinya, gue ada beberapa ide. Mau nulis untuk SBY, ah standard. Mau juga ke tokoh game kesukaan gue, misalnya Cloud, Shikamaru, dan lain lain. Tapi in the end, gue memutuskan untuk nulis sesuatu yang lain. Nih liat sendiri aja.

“ Hey Kamu,
Iya, kamu. Yang tinggal satu rumah denganku tapi seperti menetap di kota yang berjarak setidaknya 80 kilometer. Yang tiap hari dan tiap pagi tergesa-gesa berlalu lalang didepanku, tapi tidak menyapa. Mungkin karena kamu sudah besar ?
Ingat tidak dulu, 10 tahun lalu kita akrab sekali. Kamu narik aku dari meja belajar berwarna coklat, membawa ke karpet. Lalu kamu bercerita tentang banyak hal, tentang ayah ibu, tentang temanmu yang manis, juga yang jahat, katamu.
Aku ngeliat lho kamu dulu celananya kebesaran, dan jatuh terpeleset di teras. Ngeliat kamu nangis juga dimarahin mama. Abis kamu juga sih, bandel. Aku ngeliat rambut kamu dari plontos, cepak, sampai sekarang, apa itu, jenis rambut baru dari keriting ya ?
Karena ngga punya tangan, aku minta tolong pulpen untuk nulis di badanku. Supaya kamu baca. Supaya kalo kamu tau, kalo aku kangen.
Mungkin nanti ya, kalau kamu udah ga sibuk lagi ^_^
Teman lama mu,
Kertas (dan pulpen juga) “

 
SCL
image : http://2.bp.blogspot.com