Event, Kepedulian

Pintu Belajar Tambora, membangun 'pintu kemana saja'

Desa oibura dan kedatangan kami

Desa Oibura terletak di kaki gunung Tambora, gunung tertinggi di pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Desa sederhana yang sejuk, mungkin hanya ada kurang dari 40 keluarga. Rumah-rumahnya terbuat dari kayu, dan listrik hanya dinyalakan dengan genset. Itupun hanya jam 7-9 malam. Fasilitas umum yang tersedia disini, hanya satu masjid kecil yang jarang terlihat berisi, ada kantor perkebunan kopi, dan satu SD negeri.

SDN Tambora
SDN Tambora

SD negeri Oibura hanya memiliki tiga ruang kelas, walaupun SD ini mengajar kelas satu hingga kelas 1 hingga kelas 5. Itupun setiap kelasnya, kursi dan mejanya hanya bisa menampung sekitar 20-25 siswa. Yah memang siswanya pun tidak terlalu banyak, hanya 50 orang siswa  total keseluruhannya. Tenaga pengajar juga terbatas sekali disana.

Untuk mencapai desa Oibura, jalannya sangat rusak. Hanya motor dan pejalan kaki saja yang bisa melalui jalan selebar 5 meter yang berbukit dan tidak rata ini. Terlebih lagi kalau sedang hujan, licinnya akan membuat perjalanan kesana semakin sulit.

siswa siswi SDN Tambora
siswa siswi SDN Tambora

Namun terlepas dari semua keterbatasan itu, penduduk desa Oibura ramah sekali, dan siswa-siswa di SD nya, bersemangat sekali untuk sekolah. Walau harus berjalan kaki naik turun bukit dari desa sebelah, yang berjarak setidaknya 1,5 kilometer dari Oibura, mereka tetap datang ke sekolah.

Faktor ini juga lah yang membuat tim inIndonesia memutuskan untukmengulurkan tangan untuk membantu pendidikan di desa Oibura, dengan mendirikan perpustakaan. Di inisiasikan oleh Diki Irawan dan Nora Lestari, yang sebelumnya sudah pernah berkunjunga ke Oibura, project Pintu Belajar Tambora mulai kami laksanakan.

Pada Sabtu itu kami tiba di desa Oibura. 5 anggota inIndonesia, Diki Irawan, Nora Lestari, Maxie Ellia, Bram Aditya, Satu Cahaya Langit, dan 1 teman kami, Griska Gunara,  beristirahat setelah perjalanan darat 24 jam dari mataram ke desa Oibura.  Tidak lupa kami bawa bersama kami, adalah hampir 300 kilogram buku yang didapat dari para donasi, diantaranya Penerbit Erlangga, Kompas Gramedia group, komunitas 1Buku untuk Indonesia, komunitas Bima Peduli, serta dari beberapa individual.

Kami berbincang dengan warga sekitar, juga dengan pak Parno, yaitu ketua dari perkebunan di Tambora. Juga turut serta, mas Habib dari program Indonesia Mengajar, yang sedang dalam periode 1 tahun mengajar di SD oibura sebagai guru. Pada perbincangan hangat sore itu, kami berkenalan dengan warga, dan melihat tempat yang nanti nya akan dijadikan perpustakaan.

Setelah merapikan barang bawaan kami dan buku-buku yang kami bawa, kami dipersilahkan untuk beristirahat di “rumah atas”, yaitu rumah kediaman pak Parno, yang juga biasa digunakan untuk menerima tamu. Dirumah klasik yang masih kental dengan desain kolonial belanda itu, kami merasa nyaman. Walaupun pada malam hari listrik tidak menyala, kami justru menikmatinya. Karena ratusan bintang yang ada dilangit Tambora pada malam hari, makin terang menyala, dalam gelap.

Hari pertama itu, kami akhiri dengan makan malam yang disuguhkan oleh warga setempat. Hawa dingin mulai berkenalan dengan kulit kami.

Kerja bakti membuat perpustakaan

mendata buku
mendata buku

Hari kedua kami disana, kami sudah membuat beberapa daftar hal yang harus dikerjakan. Kami mulai dengan mengkoordinasi warga sekitar untuk membantu dalam pembuatan lemari kayu yang nanti digunakan untuk menyimpan buku. Warga setempat semangat untuk membantu, alat-alat sudah disiapkan. Selagi para warga desa membuat kayu yang di koordinasi oleh Diki dan mas Habib, Nora dan teman-teman mendata 300 kilogram buku yang ada, agar nanti mudah untuk dikelola. Berkardus-kardus buku kami keluarkan dan kami susun  menurut kategori kelas, dan mata pelajaran. Buku bacaan juga tidak lupa untuk kami data.

Bram dan Maxie mulai mendokumentasikan kegiatan hari ini. Beberapa siswa SD juga datang untuk sekedar melihat-lihat kegiatan kami, dan mereka juga membantu kami lho ^_^ Griska memegang papan kayu dan beberapa cat ada disekitarnya, ia akan membuat logo Erlangga yang akan kami letakkan diatas lemari buku. Kami juga membuat logo kami inIndonesia, dan menempel spanduk Komunitas 1Buku untuk Indonesia.

Kami mengerjakannya seharian. Beristirahat pada jam makan siang, para ibu-ibu menyiapkan makan siang untuk kami, juga minum-minuman pada saat kami bekerja. Sekitar jam 12 siang, satu lemari sudah jadi, dan dimasukkan kedalam ruangan perpustakaan, yang tidak lain adalah kantor perkebunan kopi sebelumnya. Ketika buku-buku yang sudah didata diletakkan dilemari itu, semangat kami jadi bertambah, melihat kalau kerja kami berbentuk, terlihat rapih, dan kelak, akan dibaca oleh penduduk dan siswa-siswi di desa ini.

Hampir pukul 6 sore, dan hari mulai gelap, kami menyelesaikan pekerjaan kami. Dua lemari besar sudah pada tempatnya, diisi oleh buku-buku. Perpustakaan ini, sudah siap didatangi oleh siapa saja yang mencari ilmu. Sekarang tinggal menunggu peresmiannya pada keesokan hari. Kami pulang ke rumah, yang letaknya sekitar 300 meter dari perpustakaan, dan jalannya agak menanjak.

Sambil makan malam, kami membicarakan rencana esok hari. Besok akan ada peresmian perpustakaan, doa bersama, dan juga belajar bersama siswa-siswa SD Oibura. Pasti menyenangkan ! setelah makan malam, kami menyelesaikan pekerjaan terakhir, yaitu membuat papan nama perpustakaan. Diki dan Maxie mengecat papan kayu besar yang berwarna biru, “Perpustakaan Umum Desa Oibura” , wah terlihat keren sekali setelah jadi.

Peresmian perpustakaan

Pada hari ketiga, kami bangun lebih pagi. Karena peresmian akan dilakukan di depan perpustakaan, yang mana adalah tanah berumput, kami harus menyiapkan tempat duduk untuk tamu-tamu yang datang.

bahu membahu
bahu membahu

Kami akan menggunakan kursi-kursi di SD Oibura, yang terletak bersebelahan dengan perpustakaan. Yang hebatnya, anak-anak SD yang datang dan berseragam merah-putih, juga ikut membantu kami mengangkat sekitar 10 kursi panjang dari ruang kelas mereka. Bahkan, gerakan mereka lebih cepat dari kami ! waaah, anak anak yang baik.

Sebelumnya, ketika subuh, Bram dan Griska, menjemput salah satu siswa yang sudah mereka kenal kemarin, yaitu Sudirman. Anak kelas 2 SD berwajah seperti ketimuran yang aktif dan ramah ini, sudah memikat hati mereka berdua sejak kemarin. Mengejutkan, mereka bercerita tentang rumah dan keluarga Sudirman, cerita yang sangat menyentuh, tentang betapa kekurangannya keluarga itu, sarapan dengan nasi dan sambal saja, tapi mereka masih bersyukur dan senang. Keadaan rumahnya yang kurang baik.

Kami bernasib baik, karena cuaca pagi ini cerah sekali, langit biru dan sinar matahari masuk dan menghangatkan kesejukan pegunungan. Acara peresmian dibuka dan dibawakan oleh mas Habib, dan dimulai dengan kata sambutan dari Ketua Project Pintu Belajar Tambora, yaitu Diki Irawan. Diki menyampaikan visi dan misi kami, inIndonesia mengenai perpustakaan ini, yaitu agar tetap dikelola oleh penduduk, dimanfaatkan dengan baik, dan kedepannya, kami akan menambah dan memonitor perpustakaan tersebut.

papan nama
papan nama

Setelah diki, giliran pak Kepala Desa yang memberikan sambutan, lalu Pak Parno, selaku kepala perkebunan di Tambora, dan yang terakhir, adalah dari pihak UPT (unit pelayanan terpadu) di Tambora. Mereka senada, dan berterima kasih pada niat baik untuk membuat perpustakaan di Oibura, dan juga mengharapkan agar kedepannya, perpustakaan ini akan sering didatangi oleh siswa dan juga penduduk desa.

Satu pun maju untuk membacakan doa untuk keberhasilan kegiatan ini, dan agar perpustakaan dapat memberikan manfaat yang maksimal. Dia juga sempat membacakan sebait puisi yang dibuatnya, berjudul “nyanyian di kaki gunung Tambora”

'pintu' kemana saja
'pintu' kemana saja

Setelah peresmian selesai, semua tim berfoto bersama dengan para tamu dan ketua desa. Lalu kami main ke SD Oibura, yang sudah ditunggu oleh siswa-siswi yang sebelumnya sudah diberitahu oleh pak guru Habib, akan acara bermain bersama di kelas.

Kami masuk ke kelas 5 terlebih dahulu. Sekitar 12 orang saja didalamnya. Kami memperkenalkan diri lalu mengajarkan sedikit tentang kegiatan menulis surat. Menjelaskan kebaikan menulis surat kepada teman yang jauh, dan lainnya. Tidak hanya itu, kami juga mengajak semua siswa untuk menulis surat langsung kepada kami. Mereka semua terlihat senang dan tertarik.

Pada bagian tanya jawab dan kuis, mereka tanpa malu malu menanyakan banyak hal tentang kami, seperti hobi, dan cita-cita kami, lalu pekerjaan kami. Yang unik dan beda, tidak seperti siswa SD pada umumnya, dimana biasanya malu-malu dalam bertanya, mereka semua terlihat tidak ragu untuk mengacungkan tangan untuk bertanya. Sesuatu yang saya anggap keberhasilan pak guru Habib dan guru-guru lainnya dalam mengajar siswa.

pak guru Maxie
pak guru Maxie

Setelah kelas 5, kami juga datang ke kelas 1 yang digabung dengan kelas 2 dan kelas 3. Yang ini lebih lucu lagi, karena ketika kami memberikan kuis tentang membaca dan mengeja “Aku Cinta Indonesia” , beberapa siswi yang maju, membaca “ A, K-u-Ku, C-i-n-Cin, T-a-Ta, Aku cinta…. Kamu ! “ spontan semua orang tertawa, karena kata terakhirnya salah dan justru jadi “aku cinta kamu” . Kami dengan bercanda, menyalahkan pak guru Habib atas kesalahan ini.

Saya duduk di salah satu kursi siswa, disebelah 2 anak perempuan. Ketika itu, Nora sedang memberikan soal perkalian. Tujuh dikali empat. Siswa kelas satu disebelah saya, terlihat berusaha keras untuk menghitungnya, lalu gagal. Lalu dia coba lagi, membuat angka tujuh dengan jarinya. Ini jadi pemandangan yang sangat…indah bagi saya. Yaitu proses bagaimana seorang anak berusaha agar bisa menjawab pertanyaan, yang padahal itu pertanyaan kelas tiga.

Setelah bermain bersama, kami membagikan buku tulis dan alat tulisnya, kepada setiap anak. Mereka berterima kasih dan mencium tangan kami ketika kami berpamitan. Beberapa anak mengajak kami bermain di Sori Sumba (sungai Sumba), yaitu sungai di dekat desa yang biasa jadi tempat main mereka. Kami menyetujuinya.

Setelah makan siang, beberapa dari kami, yaitu Satu, Griska, dan Bram menemani anak-anak itu untuk bermain di sungai. Letak sungainya kira kira 2 kilometer dari desa. Ketika sampai disana, waah ternyata sungainya jernih. Ada satu bagian dari sungai itu, yang seperti air terjun mini, sekitar 2,5 meter, dan kami bisa melompat dari bagian atasnya, kebawah. BYUR ! satu persatu, bergantian, kami dan anak-anak melompat dari atas. Segarnya air pegunungan terasa langsung di kulit kami.

teguh dan nyoman tri
teguh dan nyoman tri

Sore itu juga, kami berpamitan pada anak-anak, dan penduduk desa. Berterima kasih atas jamuannya selama 3 hari ini, kami bersalaman satu persatu. Saya juga pamit pada Teguh, salah satu anak yang sudah sangat dekat dengan saya.

“ Belajar nya harus rajin ya. biar bisa mewujudkan cita-cita. “ kata saya pada Teguh dan yang lainnya.

Saya berkata demikian sambil berdoa didalam hati. Kemudian kami mulai menuruni area pegunungan dan jalan kecil yang rusak, tapi kenangannya akan selalu membekas pada hati kami.

Kegiatan Pintu Belajar Tambora selesai sudah. Target tercapai dan misi sukses. Kini tinggal berdoa kalau ‘Pintu Kemana Saja’ sumbangan kami ini, akan banyak bermanfaatbagi mereka, dan supaya mereka bisa terus berkembang dan bahagia. Karena kita semua adalah saudara se-tanah air.

Terima kasih Oibura, telah memberi saya kesempatan membantu.

oleh Satu Cahaya Langit