Jalan Jalan, Personal

Djogjakarta dan waisaknya : spiritual, ramah, dan langit yang dilukis

**panduan membaca : teks berikut terkadang mengandung kalimat berlebihan, harap maklum. dan penggunaan kata ‘kakak’ itu adalah disebabkan kakak Titiw yang menginspirasikan. Ceritanya kita muda terus, jadi semua dipanggil ‘kakak’. Gaya bahasa juga terlalu bebas, kadang tidak seragam dan tidak berirama. Harap maklum ya kak.

 —

Subuh separuh baya menyambut kedatangan Taksaka kami dengan hangat. Jelas saja hangat, karena temperatur di kereta itu dingin banget! sampe-sampe tidur aja susah. Gue melangkah keluar dari kereta api keren yang udah nganterin kami dari Gambir sampai stasiun Tugu ini. Perasaan pas keluar dari tempat dingin ke tempat anget itu, aahh gimanaaa gitu. Bersama gue, ada Diki Irawan, Nora Lestari, dan Andi Fachri yang punya cara unik untuk tidur di Taksaka, yaitu melantai. yes, mungkin ada baiknya dicoba sekali-sekali.

Djogjakarta dan waisaknya : spiritual, ramah, dan langit yang dilukis

trip geng ACI2011, 6-9 mei 2012

Lalu ada lagi tokoh-tokoh superhero yang sudah menyambut kami di Stasiun Tugu Djogjakarta ini, Farchan Nor Rachman misalnya, selaku superhero tuan rumah, dan organizer utama trip ini. Lalu kemudian ada Dinda Nasution dan pacarnya, Abi, eh maksudnya Aljazair, kakak Titiw Akmar, kakak Yusman Firmansyah atau biasa disebut kakak Umen, dan ada juga kakak Kiki. Semua bercanda gurau dan melepas kangen, lalu saya menyelonong ke musholla untuk sholat subuh. Nah yang perlu dicatat ketika solat subuh ini : Sajadah musholla nya wangi banget! beneran, wangi-wangi apa itu merk pewangi yang iklannya pake animasi. Bikin nyaman dan sholat gue khusuk (halah, ga ngaruh kali Tu). Setelah itu gue, kakak Diki dan kakak Nora sempat berburu foto digerbong-gerbong kereta yang sedang tidak berjalan.

becak
becak

Gerakan kami berikutnya adalah jalan kaki menuju anggota tim superhero lainnya yang sudah mendarat di kota Djogja ini. Sambil menikmati jalan pagi, saya baru sadar kalau didepan Stasiun Tugu itu adalah area Pasar Kembang yang legendaris. Strategis ya tempatnya. Skip bagian itu, lalu tidak jauh dari situ adalah Malioboro. Disuatu hotel disana, kami menemukan teman kami, Pryant Ryder alias Suprianto (belakangan mottonya adalah “Nice View”), Faisal Karim dan temannya Roni (apa Runi? Rooney?), dan juga superhero yang sampingannya sebagai penulis buku, Lalu Abdul Fattah. Cengkrama kami makin ramai tentunya. Buktinya dari sana kami langsung bergerak ke Beringharjo, pasar tradisional yang ada di ujung Malioboro.

Di jalan saya sempat bertemu dengan dua penulis terkenal di jakarta selatan, yaitu Emmy Maharani dan Alvin Agastia, tergabung dalam satu clan penulis sakti bernama “Hermes”. Saya menyapa mereka cukup lama, sampai-sampai terpisah jauh dengan kelompok. Untung saya tidak malu bertanya.

pecel pagi
pecel pagi

Kami sarapan pagi di depan pasar Beringharjo. Pecel nya seger dan enak lho! karena geng Taksaka belum makan dari tadi malam, udah aja deh kami langsung makan dengan kalap. Nah pas banget abis selesai sarapan plus cengkrama abis sarapan, pasar Beringharjo-nya buka. Insting belanja para wanita langsung memanggil, alhasil kami semua pun masuk. Disana itu seperti Tanah Abang-nya Jakarta mungkin ya, baju baju nya lebih murah dari yang dijual di Malioboro. Beberapa dari kami udah beli baju dengan semangat.

Nora dan Andi berpisah dari rombongan, lalu superhero Rosa Dahlia muncul dengan motor motor yang disewanya untuk kami. Gue memilih kakak Diki untuk dijadikan partner mengemudi (oke, emang udah dipilih dari sebelumnya sih). Kami baru aja semangat dan ceria berangkat menuju rumah Farchan, eh motornya keabisan bensin dan mogok. heartbreaking. untung masih ada tim Lalu-Titiw yang nemenin, dan isi bensin bersama.

menuju Magelang
menuju Magelang

Tadinya gue pikir rumah Farchan itu di Djogja, jadi kalo bosen gue bisa jalan kaki keliling kota dan bercanda gurau dengan bahasa jawa seadanya (sedikit berharap diajarin), eh ternyata 40km aja lho dari Djogjakarta, yaitu di Magelang. Tapi kesedihan dengan cepat menjadi bahagia kembali, karena itu daerah rumahnya BANYAK BANGET sawah-sawah hijau terbentang. Itu ya, kalo ngeliat, mata jadi seger, hati jadi hangat, luka-luka jadi sembuh (luka hati #ea). Tapi serius, itu keren. Dan yang lebih keren lagi adalah Candi Borobudur itu cuma 15 menit dari rumahnya! oh ada lagi plusnya, si mbah dan ibunya Farchan itu ramah banget, masakannya enak.

Dirumah Farchan sudah ada superhero Claudia Von Nasution, sering dipanggil Odie. Setelah beres-beres, kami kembali bercengkrama dan canda gurau. Tapi khusus sesi ini, gue ngga ikut karena ada pekerjaan yang lebih penting. Gue tidur dengan pulas. Waktu gue bangun justru yang lain lagi tidur. Diki, Lalu dan Ian asyik melantai. Dan pas banget adzan dzuhur, jadi gue ada kesempatan liat masjid. Bagus kok, besar, tempat wudhunya bersih. Nah satu yang perlu dicatat adalah, setelah adzan, shalawatnya itu kira-kira 20 menit (sepertinya itu lumayan lama, atau cuma gue aja?), baru mulai sholat dzuhur berjamaah. oh ada lagi yg perlu dicatat, si Imam ga pake mikrofon. Jadi suara dia asli aja. Walau kurang keras jadinya, tapi gue lebih suka yang gini sih.

geng waisak di tahu kupat Pelopor
geng waisak di tahu kupat Pelopor

Setelah semua superhero dan semua kakak bangun, kami langsung pergi keluar untuk hangout. tempat hangout kami kali ini adalah Tahu Kupat Pelopor. Tahu Kupat itu kuliner lokal yang terdiri dari Tahu, Lontong, dan ada kuah yang sedikit pedas seperti kuah Tahu Gejrot. Nah ini ya, gatau kami yang laper atau apa, tapi ENAKNYA DEWA. Tahunya alus banget, pedesnya pas, dan harganya Cuma 6ribu rupiah semangkok banyak gitu! pujian kaya gitu bukan dateng dari gue aja. Si Diki aja hampir mesen porsi kedua.

tahu kupat Pelopor
tahu kupat Pelopor

Nah di warung ini juga superhero Ocha (Rosa Dahlia) datang kembali bersama superhero Gilang Rausin dan temannya yang asik, Antony. Dengan vespa hitamnya yang keren, Ocha kelihatan kaya artis ibukota. Nah ada keanehan ketika kami bayar, masa Cuma Rp45,000 totalnya. itu yang makan kan lebih dari 8 orang! tapi si penjual pun bersikeras harga segitu, jadi kami dengan bahagia memberikan Rp45,000. tunggu, jangan-jangan karena dia kenal Farchan ? atau karena Farchan PNS pajak ? #asumsiberlebihan

Acara berikutnya adalah Berenang. Sebenernya pas pertama dibilang, gue kira kita akan berenang di Sungai atau apa gitu, yang alami-alami pedesaan pinggir sawah. tsahh. Eh ternyata kolam renang ala resort gitu. resort Berg View (pas pertama denger, kita kira Bird View). Emang kalo orang kreatif pasti ada aja cara bikin sesuatu yg ga sesuai harapan, jadi sesuatu yang tetep menarik ya (memuji diri sendiri. apose sih #ketularankakaktitiw). Dikolam ini juga banyak yang menarik, misalnya aja, pemandangan disekelilingnya itu sawah hijau yang kaya tadi gue bilang, bikin hati adem, dan masalah selesai. Dan udah mulai berenang, ada lagi sesuatu yang asik. Ada tunnel bawah air sepanjang kira kira 5 meter! nah ini tuh challenging banget kan. Cahaya yang minim, dan tidak adanya tempat mengambil nafas, bikin ngelewatin lorong bawah air ini jadi deg-degan asik. Sebenernya ditengah lorong ada sih tempat mengambil nafas, tapi cuma idung aja yg bisa keluar.

kolam renang
kolam renang
pemandangan sawah
pemandangan sawah

15 menit pertama belum juga ada yang berani ngelewatin. Gue sendiri, karena udah terkenal pengecut, beraninya dipinggir pinggir pintu masuk lorong itu doang, trus keatas lagi. Sampai tiba-tiba ada salah satu dari kami, sang pemberani, yang langsung masuk ke lorong, dan muncul di ujung yang lain. Semua langsung bersorak. Si pemberani tampaknya menikmati pujian pujian itu. hahaha. anyway,kemudian kakak Diki pun bisa lewat, kakak Lalu juga, dan kakak Titiw pun akhirnya berhasil melewati.

Setelah itu kami bercengkrama di dalam kolam renang. Ada juga sesi foto “Nice View” sama Ian. Superhero Dwi Putri juga datang dan ikut bergabung bersama geng Waisak. dan karena cuaca sudah hampir hujan, sekitar jam 5.30 sore kami udah jalan kembali ke rumah. Itu pun sudah sedikit terkena hujan.

Kemudian datang peserta baru yaitu kakak Maca, teman dari Kakak Odie, untuk bergabung bersama rombongan. Nora dan Andi juga datang kembali. Setelah semua lengkap, kami makan malam bersama. Dan suasana jadi riuh asik. Ditambah dengan permainan Tepok Nyamuk disertai bedak. Korban bedak bayi terbanyak sepertinya adalah kakak Lalu, kakak Ian, dan gue. #ea

Acara ditutup dengan perang badar dengan nyamuk. yang menang ? nyamuk banget. Mungkin karena sempat hujan, dan mereka bisa mencium bau darah segar anak muda penerus bangsa #halah, mereka jadi datang berbondong-bondong. Udah pake sarung dan jaket, malah muka yang digigit.

Bukti kekalahan bisa dilihat ketika bangun pada waktu subuh. Kakak Ian bengkak-bengkak jari tangannya, dan gue sendiri, kurang tidur dan lemes. bayangin aja sampe kira-kira jam 2 mungkin, tidurnya kebangun terus. Tapi yasudah, di ikhlaskan dan anggap donor darah aja kali ya.

suasana di tumpak setumb
suasana di tumpak setumb

Nah subuh ini kami rencananya akan hunting matahari terbit di Tumpak Setumbu, yaitu suatu bukit yang menghadap langsung ke matahari terbit dan ada candi borobudur dibawahnya. Hal yang indah sekali emang, KALO cuacanya bersahabat. Kami kurang beruntung kayanya, udah jalanan keatasnya licin, sampe gue hampir jatoh ketika menenteng motor keatas. Dan sunrise-nya berawan! ga kelihatan apa-apa. Candi borobudurnya pun ketutup kabut. Dan seperti sudah diduga juga, di bukit kecil itu, orangnya RUAME banget. mungkin ada sekitar 150 orang minimal. Beberapa sudah siap dengan kamera berlensa panjang dan tripodnya. Kami sih malah saling ceng-cengan seperti biasa. Andi dapat nama baru di bukit ini

Setelah matahari sudah mulai muncul, kami turun bukit dan menuju spot berikutnya, yaitu Candi Pawon. Nah perjalanan menuju kesana, kami disuguhi dengan pemandangan sawah yang cantik, wangi #lho , menawan deh pokoknya. kami sering berhenti di pinggir jalan untuk berfoto. Kadang ada sisi yang latar belakangnya ada Candi Borobudur, kadang memotret petani yang sedang mencabut padi. Buat gue pribadi ya, yang kaya gini nih yang harusnya dilakukan, dirasakan sama orang-orang kota. just saying.

petani
petani

Lalu sampai candi Pawon, candi kecil yang makin indah dengan posisinya yang membelakangi matahari terbit. Kami sempat berfoto bersama disini. Juga sesi foto dengan menggunakan vespa hitam Ocha sebagai properti. Yes, profile picture bisa ganti baru #ea

Setelah itu kami sempat melewati Candi Mendut, yang sudah mulai ramai didatangi orang yang akan berdoa, juga penonton. Terlihat banyak stasiun TV juga ada disana. Jam 7 pagi, kami udah sampai kembali di rumah. Kakak Maca sudah kembali ke Malioboro, dan ternyata kakak Diki dan Nora yang tadi pagi tidak ikut ke Setumbu, sudah jalan-jalan juga tadi pagi ke kuil……ah lupa gue namanya. Topo ? Tepok ? itu deh pokoknya.

Kami sarapan, lalu tiba jam istirahat sebelum berangkat ke prosesi panjang Waisak nanti. Tapi Nora, Diki, Odie dan Andi mau datang ke prosesi dari pagi, sambil menemani Diki yang juga harus berdoa di Candi Mendut. Jadi gue, Farchan, Gilang, Tony nganter mereka ke Candi Mendut. Nah baru jam 9 gini aja udah rame banget jalanan ke arah candi. Beberapa jalan udah ditutup untuk mobil. Setelah nganter, gue pamit dan langsung balik ke rumah. Ngantuks! Farchan, Gilang, Tony sih sempet lihat prosesi awalnya sebentar. Menurut Farchan, suasananya sangat dramatis, karena ribuan orang berdoa bersama. Sementara ada cerita lucu lain ketika mereka masuk.

Pak polisi : “ Stop stop. Mau kemana? “ (memblok rombongan Diki dkk)

Diki : “ Berdoa pak. Saya buddha (menunjukkan KTP), mereka temen-temen saya”

Pak polisi : “ Buddha juga ? “

(beberapa mengangguk)

(Nora dan Odie ngobrol bahasa cina, biar bukti makin kuat)

Jam 9 lebih gue udah dirumah, dan rumah sepi banget karena para gengster nya uda pada tidur. gue juga beberapa menit setelah sampe, udah tidur dengan manis didekat jendela. Jadi view gue itu langit yang lagi ganteng-gantengnya.

menunggu arak-arakan
menunggu arak-arakan

Suara suara orang ngobrol membangunkan tidur nyenyak gue, tapi lumayanlah, jam 12 gue bangunnya. udah terisi tenaga, ditambah makan siang yang enak, gue pasti bisa tahan sampe prosesi selesai. Jam 1:30 siang kami jalan. Melewati jalan yang sedikit memutar, karena jalan utama sudah ditutup. Justru di jalan yang ini, saya menikmati naik motor, karena jalannya alus banget. padahal lebih protokol jalan Gatot Subroto di Jakarta, tapi malah disana lebih banyak lubangnya. just saying.

Berbekal kenalan ibunya Farchan, kami dapat tempat parkir ekskusif, yaitu didalam rumah teman Ibunya. Deket banget sama Candi Borobudur. Disepanjang jalan udah rame sama orang-orang yang mau liat arak-arakan dari Candi Mendut ke Candi Borobudur. Nah sialnya, beberapa menit sebelum arak-arakan lewat didepan kami, hujan turun. Tingkat kederasannya sih sedang, tapi kan tetep aja, membubarkan kerumunan orang yang lagi nungguin arak-arakan lewat.

Untungnya hujan sedikit mereda ketika arak-arakan tiba didepan kami. Kami langsung mendadak menjadi fotografer handal yang banyak jepret jepret ke arah arak-arakan. Bagus lho, ada biksu yang menciprat-cipratkan air suci pada penonton, ada juga bule dengan pakaian umat Budha. Arak-arakannya juga lumayan panjang, mungkin sekitar setengah jam, baru sampai di ujung ekor arak-arakan.

arak-arakan
arak-arakan
biksu
biksu

Ketika arak-arakan sudah masuk ke dalam Candi Borobudur, kami pun masuk untuk melihat prosesi selanjutnya. Lagi-lagi, baru saja kami masuk ke area Candi, hujan mengguyur lagi, dan kami harus berteduh. Di dalam Candi, terlihat banyak tenda besar sudah didirikan. Diki bilang, setiap tenda mewakili setiap aliran. Jadi ummat Budha aliran A akan ke tenda A untuk berdoa, dan seterusnya. Kami menunggu di tenda yang lumayan besar, yang kira kira ada setidaknya 500 umat didalamnya. Nah disela-sela menunggu itu, gue sama Ian ke tenda didepannya, lebih kecil, tapi kelihatannya mereka sedang fase mengenakan seragam.

Tindakan Ian berikutnya yang patut dipuji : meminta baju berdoa pada orang yang sedang membagikan baju pada umat aliran tenda tersebut. Dengan cuek ia ikut meminta baju seperti umat lainnya, dan ketika dia diajak bicara sama salah satu tamu yang kayanya beragama Budha, “ Kamu tau Kong Hu Chu ? “, Ian dengan pede menjawab, “Tau”. haha. Lalu ngga lama kemudian kami balik ke rombongan, dan Ian memamerkan baju barunya. Semuanya heran. hehe

biksu ian
biksu ian

Hujan reda sedikit, kami melipir ke tenda berikutnya, yang sedang melakukan doa. Kami melihat dengan seksama dan beberapa ikut duduk dibarisan belakang. Beberapa masuk ke tenda karena mau neduh dari hujan yang kembali deras (ini gue hehe). Disini cukup lama juga.

Dinda dan Abi (panggilan kesayangan si Aljazair), keluar tenda dan kembali dengan 2 payung besar. “Murah nih, 5ribu sampe prosesi selesai.” katanya. Itu keren, karena bisa jadi solusi terhadap si ujan ini. Gue, Lalu, dan Umen, langsung berdiri dan meng-iya-kan ajakan Dinda untuk naik ke Candi Borobudur. Temen-temen lain masih duduk melihat para biksu berdoa. Jadi cuma kami berlima deh yang naik. Karena 2 payung itu ga cukup, kami beli 2 jas hujan lagi. Kemudian langsung menuju Candi Borobudur.

Walaupun gerimis, tetap aja rame yang mau naik keatas. Kami naik 1 tingkat, lalu mengitari, lalu naik lagi, mengitari lagi, sampai keatas. Ada satu sisi dari candi yang sedang dilarang untuk dilewati karena sedang ada setting untuk prosesi puncak pada malam nanti. Dan udah ada satpam dan dilarang, tetep aja ada ini Bule yang nekat mau ke area itu. “C’mon, man. Just dua menit”, katanya. Kami semua langsung punya bahan cengan baru.

Nah gatau emang bener gitu, atau gue kebanyakan baca 9gag.com, tapi ada satu relief yang gue foto, kok mirip sama meme bitchplease ya?? anyway gue motret pake kamera pocket Umen, karena gerimis dan gue ga mau menyakiti Kounan, kamera gue, lebih jauh lagi. kasian dia udah basah dari tadi siang. Candi Borobudur yang sekarang ada beberapa batu yang baru, yang sepertinya penggantian dari batu yang hilang dan rusak ketika gempa tempo hari.

candi borobudur
candi borobudur

Kami sampai di puncak, berfoto, mencoba memegang tangan patung yang ada di dalam candi dan membuat permintaan. Tapi pas gue liat patung yg didalam itu headless, gada kepala, langsung ngga jadi megang tangannya. Katanya headless itu pertanda ga baik #bikinsendiri . Saat itu juga ada pengumuman, “ Pintu candi akan kami tutup pada 17:15, para tamu dipersilahkan segera keluar bla bla “ Cuma denger depannya, trus kita langsung sedikit panik, tentang lebih baik nonton dari sisi dalam, atau dari luar. Ternyata emang ga bisa nonton dari dalam sih. Oya kami juga ketemu bang Nico Wijaya, dari ACI2010, bersama gengnya.

Turun dari candi, menuju geng waisak yang lagi makan diluar area Candi. Pas kami dateng, mereka uda selesai makan. Jadilah pas kami makan, mereka jalan duluan kedalam. Indomie rebus pas banget untuk ujan-ujan begini. romantis.

candi borobudur malam hari
candi borobudur malam hari

Abis mie, kami masuk lagi ke dalam Candi Borobudur, untuk melihat prosesi puncak Waisak. Nah kalo tadi para umat Budha dipisah berdasarkan aliran, sekarang semua nyatu di satu panggung. Panggungnya sendiri ada dibelakang Candi Borobudur. Nah karena para umat Budha bersatu disini, maka penontonnya juga menyatu. jadi rame banget area itu. Tapi lampu megah menerangi puncak Candi Borobudur, bikin efek kaya highlight gitu. keren.

Prosesi kayanya dimulai dengan pembacaan susunan acara dan beberapa pidato oleh beberapa tokoh Budha. Gue Umen Dinda Alja dan Lalu langsung masuk dan mencari geng waisak yang lain. Nah ketemu pas mereka ada di bagian belakang panggung, tepat dibawah Candi Borobudur. Disana juga sama ramenya, motret candi yang lagi kena lighting yang bagus.

Nah pas dateng, geng waisak lagi mau foto bareng. Eh tiba-tiba gue melihat sesuatu yang janggal yang ga bisa gue jelaskan disini karena bernada curhatan #tsahh. Jadilah gue melakukan lipiran (asalkata:melipir) tajam ke sudut-sudut lain keramaian. asik.

Gue sampe di satu sudut yang banyak lilinnya. Gue baru inget dari liputan-liputan Waisak yang pernah gue baca, akan ada lilin banyak yang jika semuanya nyala, akan bentuk satu tulisan gitu. pasti ini nih, dalam hati gue. Pas banget si MC di panggung lagi ngomong kalo nanti llin itu akan dinyalain sama maha siapa gitu gelarnya. Gue sempetin motret proses penyalaan lilinnya sebentar. trus gue jalan kaki lagi sendiri.

lilin
lilin

Sahabat gue si Emmy itu harusnya kan lagi ada disini juga. Eh di sms malah ga nyaut-nyaut. Pasti lagi ribet sama keramaian ini juga ya. Gue jalan lagi eh malah ketemu kakak Maca yg kemarin. Dia sama temen-temennya, dan saat itu insting SKSD gue lagi nyala. jadilah gue join-join aja rombongan orang. haha.

Setelah sedikit muter, gue ke tempat lilin lagi, karena acara utama sedang ke area sana. Bahkan ada Fauzi Badillah juga sedang menyalakan lilin. Lalu sedikit foto dengan background candi Borobudur. trus acara lilin selesai.

Acara berikutnya sedikit kurang asik, karena cuma semacam ceramah ala Budha gitu. Kami udah beli lilin buat ikutan jalan mengitari Candi nanti (prosesi selanjutnya). Sambil nunggu prosesi itu, kami duduk di depan panggung, di karpet yang sudah basah karena hujan.

Dan kira-kira 45 menit kemudian, pidato itu selesai, dan kami mulai nyalain lilin dengan penuh antusias. Lilinnya beda banget sama lilin kalo mati lampu (yaiyalah!). Ini rada tebel kaya aromaterapi yang wangi-wangi itu lho. Eh sialnya, karena rame banget yang mau ikut jalan keliling candi, kami ga kebagian, karena dibatasi jumlahnya, biar rombongan awal ga bentrok sama rombongan terakhir.

Nah prosesi selanjutnya ini yang makjinang luar biasa. pelepasan lampion. Untuk dapat lampion, para peserta harus daftar dari awal dan bayar 100rb untuk 1 lampion. Lampionnya gede, tingginya mungkin lebih dari 1 meter, diameternya mungkin 80cm. Untuk menerbangkannya, pake konsep balon udara, bagian tengahnya akan dibakar.

Lampion pertama dinyalakan di panggung, oleh para senior dan biksu, ketika pertama dilepas, semua penonton berdecak kagum. Karena lampion yang terbang itu seperti menghias angkasa. nah ini, bulan yang dari awal malam tadi tertutup awan, sekarang bersinar dengan ngocol. purnama. gimana ngga keren coba.

Lalu lampion kedua, ketiga, sampai kira-kira 20 lampion pertama, dari panggung, baru penonton dipersilahkan melepas lampion masing-masing. 5 menit kemudian, dilangit pasti ada setidaknya 80 lampion yang menghiasi dan melukis dengan gaya baru. Ah ini titik klimaks Waisak yang pasti nyenengin semua orang. Melihat ratusan lampion dibakar, dilepas, dari yang dekat dengan kita, lalu menjauh, mengecil, dan melenggang kearah yang sama dengan arah angin.

melukis langit dengan lampion
melukis langit dengan lampion

Tanpa bermaksud lebai, kayanya waktu sempet berhenti disitu. Atau setidaknya gue pengen waktu berhenti. Karena selama ini, gue cuma ngeliat pelepasan lampion itu di artikel atau foto, sekarang gue ngeliat langsung. Pujian ditujukan untuk Tuhan yang maha esa, yang bisa bikin ini semua, serba indah.

Akhirnya setelah lampion selesai, orang-orang semua pulang. gue juga gabung lagi sama geng waisak, dan pulang kerumah dengan capek, tapi nikmat. hehe 🙂

Untuk bisa datang ke Djogjakarta, untuk bisa ngeliat semua ini secara langsung, terima kasih ditujukan pada Tuhan YME pastinya, Nora Lestari dan Diki Irawan yang ngajakin gue (padahal gue sempet gamau). Farchan dan keluarganya yang uda mau jadi nebengin kami. Juga temen-temen geng Waisak yang ngaco tapi seru. it is such a great time 🙂

ps : btw, malam harinya, I won the fight. nyamuk nyamuk ga bisa gigitin gue, karena gue uda pake autan. haha. ga jatoh di lubang yang sama 2 kali dong ya.

ps 2 : hari seninnya ada lagi petualangan seru gue sndiri, mencari lokasi yang masuk ke pelosok desa. liat di posting yang lain ya (gue pisahin)

oleh SCL