Writing

a beautiful mistake, just another session of WClub

the reading room
the reading room
Kamis malam itu saya bergegas turun dari kereta dan mengejar angkutan umum karena sudah terlambat untuk pertemuan kelompok penulis, atau biasa disebut ‘writers club’ (WClub), yang rutin diadakan setiap kamis malam. puas mengutuk dalam batin, tentang lokasi pertemuan yang tidak dilalui angkutan umum manapun di kota jakarta. tapi yah, kadang untuk mendapat sesuatu yang menyenangkan, pengorbanan perlu dilakukan. jadi saya batasi hanya lima detik saja, kemudian mencari-cari alasan menyenangkan untuk datang kesana. tempatnya bernama ‘reading room’, di bilangan kemang timur. tempat yang sempurna sekali (menurut saya) untuk mengadakan pertemuan WClub. tenang, banyak buku, esensi putih, kopi dan teh, dan yang tidak kalah penting, pengunjung yang datang untuk melakukan hal yang sama : membaca dan menulis.
kita tau kita sangat menikmati waktu berdiskusi, ketika seharusnya satu pertemuan itu setidaknya menghasilkan satu tulisan, tapi kita tidak menulis apa-apa ketika pertemuan selesai. satu metode yang baik yang selalu saya dapatkan disetiap WClub ya seperti waktu itu : brainstorming. pembicaraan yang dinikmati dari kaki hingga ujung rambut. bicara dan mendengarkan, lalu berpikir, meng-ekstrak buah pikiran, kemudian berbicara lagi. Saya, inez, dan Fritz berbicara banyak hal. yang paling utama adalah mengenai topik hari itu : Mistake, atau kesalahan. Menurut satu teman saya, kesalahan itu hanyalah cara kita memandang sesuatu hal. dimana kalau kita tidak sengaja memandang hal itu sebagai kesalahan, maka itu tidak salah. misalkan, ketika kita meninggalkan dompet di toilet umum, lalu kita menyesal. bisa saja, pada orang-orang tertentu, itu bukan suatu kesalahan, malah suatu pelajaran untuk waktu berikutnya.
saya sendiri masih diantara kedua sisi itu. kesalahan itu pasti dilakukan, tapi sebisa mungkin harus dicegah. dan untuk saya, rasanya buku sejarah kehidupan kita, tidak akan lengkap jika tidak ada beberapa kesalahan didalamnya. jadi, kalau saya meninggalkan dompet di toilet umum, saya termasuk orang yang akan menulis itu sebagai kesalahan.
beautiful mistakes ?
beberapa kesalahan akan terasa manis, mungkin juga sangat manis. seperti ketika kita diberi kembalian jajan yang lebih dari seharusnya. ketika naik kereta tanpa membeli tiket. ketika diajak kencan oleh orang yang kita suka, tapi sudah berpasangan dengan orang lain. yang super manis, saya rasa terjadi di banyak instansi pemerintah. karena manusia tidak sempurna, kita pasti melakukan kesalahan, dan mungkin menikmatinya. tapi hati nurani pasti berkata lain. dan menurut saya, manusia yang baik itu adalah yang mendengarkan hati nurani. “berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan”, kata salah satu kolega saya di kantor yang dulu, yang juga konsep ajaran dalam islam. belajar untuk berkata tidak pada hal yang kita sudah tahu salah.
dan lalu setelah puas berbicara tentang itu, saya dan inez berteleportasi ke banyak topik lain. tentang langkah-langkah menulis, tulisannya yang dikomen oleh penulis profesional, tentang calon rumahnya yang harganya selangit, tentang puisi, tentang ‘everything has a reason’, dan terakhir, kami sengit berbicara tentang ‘urge to write’.
pada ujung sesi, kami tidak menulis satu tulisan pun. atau setidaknya saya tidak menulis satu tulisan pun. tidak begitu penting, pikir saya. karena keluar dari kafe itu, rasanya pintu pikiran saya terbuka sedikit lebih lebar, dan beberapa harta didalamnya sedikit bertambah kaya.
scl
 
image dari : http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/90808