Kepedulian, Personal, Psikologi

Belajar dari hari yang biasa

Jika kita benar benar memperhatikan, setiap hari pasti selalu ada saja hal unik yang terjadi, yang biasanya bisa kita syukuri. Tidak terkecuali hari sabtu ini.

Beberapa hari lalu, teman saya Utin mengirim sms dan berkata ingin menyumbang sedikit ke panti asuhan. Hasil TOEFL nya lebih dari 500 dan dia bernazar akan menyumbang pada panti asuhan. bagi yang belum tahu, nazar itu adalah janji baik yang kita ucapkan ketika kita menginginkan sesuatu. Setahu saya, ini adalah satu dari beberapa cara supaya tujuan kita tercapai. Singkatnya, ini positif sekali menurut saya. Saya lalu memilih panti asuhan balita yang ada di Cipayung, karena kabarnya kebutuhan mereka sedang menipis. Kami lalu berjanji untuk datang pada sabtu pagi. itu hari ini.
Kunjungan ke panti asuhannya seharusnya tidak terlalu lama, tapi teori saya terbukti hari ini, jika kita memulai hari dengan positif dan senyum, akan ada hal menyamankan (ya ya, menyamankan mungkin bukan bahasa indonesia baku) di salah satu jam, di hari itu. Saya dan Utin terbukti betah disana.
Berawal dari perjalanan di taksi yang sedikit memutar (baca:nyasar), akhirnya kami sampai juga di Jalan Bina Marga, Cipayung. padahal ternyata rumah Winda, teman saya, tidak jauh dari jalan bina marga, dan saya pernah kesana (duh, telat sadarnya). Berhenti tepat di depan panti asuhan balita yang bangunannya sedang di renovasi, jadi mereka pindah ke panti werdha disebelahnya, yang sama sama bernaung dibawah dinas sosial. Flashback sebentar, saya teringat dulu pernah datang kesini ketika teman saya Petty merayakan ulang tahunnya. Waktu itu, ada anak yang lincah sekali dan hampir membanting Kounan, kamera saya. Yah tentu saja saya sudah tidak dendam dan tetap berdoa dia jadi anak yang baik nantinya.
Kami masuk dan langsung melihat anak-anak balita sedang bermain sambil makan kue. Ah, ada yang sedang merayakan sesuatu juga disini rupanya. Panitia dan pengurus panti juga sedang banyak tamu, jadi Saya dan Utin memutuskan untuk tidak berlama-lama. Setelah bertemu dengan ibu Leli, pengurusnya, kami menyerahkan sedikit sumbangan kami. Sambil ngobrol, kami sempat memperhatikan beberapa poster yang, kok agak membuat saya bersemangat ya. “Prosedur mengangkat anak” judul poster itu. Oke, kami memang kelihatan seperti pasangan muda, tapi tidak mandul kok! #marah ehem, maksudnya, saya belum tahu juga sih, karena belum dicoba. semoga tidak. amin.
Kami pamit tidak lama kemudian. Pas banget ketika para anak selesai bermain dan bersiap masuk kembali ke rumah mereka untuk jadwal tidur siang. Kami berpapasan, dan memutuskan untuk mengantar mereka ke rumahnya. Saya dengan yakin dan percaya diri (baca:tidak tahu malu), menegur salah satu anak, menggandengnya. Lalu bertanya “Ada yang mau digendong ngga?”. dua anak pertama menggeleng, dan itu membuat saya tersinggung sekali, tapi tidak saya tunjukkan. Walaupun hitam begini kan saya..ah sudahlah. Tiba tiba anak dibelakang saya menyentuh saya, dan membuat gesture mau digendong. Tanpa bertanya lagi (takut dia menggeleng. mungkin pembimbing disini menyuruh menggeleng ketika ditanya kali ya), saya langsung menggendongnya. Dan terbukti, dia terlihat senang dan seperti berada di tempat paling nyaman di propinsi ini.

saya dan si adek
saya dan si adek

“Kamu udah makan ya?”, tanya saya dan Utin.
“Utah”, katanya. Aaaa, lucu sekali kamu dek. nanti kalo aku udah sama kak gita lagi (amin), aku dateng lagi kesini ya dek. oh, maaf tiba tiba curhat.

Sayang jarak dari kantor ke rumah para anak, dekat sekali. Sehingga sampai situ saja perjumpaan kami. Utin kelihatan senang sekali, karena baru pertama. Saya juga sesenang dia, karena bertambah satu anak muda di jakarta yang menjadi positif. semoga Utin besok-besok tambah rajin ya tin. amin.
Menuju keluar, kami melewati bangunan panti werdha. beberapa nenek terlihat sedang ngobrol dengan semangat. Saya dan Utin berpikir untuk mampir, tapi sempat khawatir apa ada jam besuk ,atau peraturan tertentu untuk bertamu. Kami tidak sepeduli itu rupanya dengan prosedur, 10 detik kemudian kami sudah masuk di ruangan para nenek, ikut bergabung dalam pembicaraan. ada 4 nenek disana dan 1 penjaga panti.
“sebenarnya jika ingin melakukan wawancara, ada prosedurnya mas. harus izin ke kantor, nanti ada surat-surat, bla bla bla” , mendengar urutan yang menyusahkan itu, otak saya bekerja dengan baik mengacuhkannya. kami positif thinking, mungkin kami kelihatan seperti anak kampus yang mau wawancara penghuni panti werdha? wah itu berarti kami dikira muda dan cakep cakep? asik.
“bukan mau wawancara sih bu. kami tadi hanya lewat dan melihat obrolan yang menarik, lalu kami ingin mendengar” jelas saya. dan memang begitu sih. “oh kalau itu boleh kok”, akhirnya si penjaga berkata sesuatu yang sederhana.
Berkenalan, kami lalu berbincang banyak dengan nenek Aisyah, yang tidak banyak berbicara dan lebih banyak mendengar. Lalu ada nenek yang saya lupa namanya, berumur 92 tahun. Beliau kelihatan gembira ketika berbicara.
“Berarti nenek kenal dong dengan Pak Karno?” kata saya setengah bercanda
Kenal dong. Nenek juga kenal dengan Pak Harto, Pak Habibie, Bu Megawati, lalu, siapa itu… Pak Susilo Bambang Yudhoyono. Lalu nanti, Adek Satu Cahaya Langit” kata beliau. Saya meng-amin-i dengan kencang.
Lalu ada nenek Fatimah yang paling aktif berbicara. dan tebak apa topik kesukaannya ? Politik ! beliau lebih fasih daripada Saya atau Utin dalam hal ini. Beliau berpendapat bahwa pada zaman dulu, pemerintahan lebih baik. Apalagi pada zaman Pak Harto. sekarang ini sudah bobrok sekali. Dengan lancar, beliau mengomentari kasus-kasus terbaru seperti Hambalang, Anas Urbaningrum, Keterlibatan presiden dalam kasus Century, serta pemilihan kepala daerah DKI jakarta yang sebentar lagi akan dilaksanakan.
“Seharusnya yang jadi presiden itu, siapa itu, kepala sekolah yang setelah pulang sekolah memulung. yang di Acara Kick Andy itu lho. Jujur dia, dan sederhana.” katanya berpendapat.
Setelah puas mendengarkan, kami pamit pada semua penghuni, lalu pulang. Langkah keluar dari panti itu terasa ringan karena kami seperti baru mandi segar oleh hal hal membahagiakan. Ya kan Tin ?
Tidak cukup sampai disana, dalam angkot pulang pun kami mengalami hal menarik, ketika seisi angkot, kami dan supir angkot, aktif berbicara dan bertukar pendapat. tentang banyak hal, kemaceten, pilkada, panas matahari, orang kaya dan miskin. Dan banyak lagi. Saya selalu suka sesi bicara rakyat seperti itu. Akrab, jujur, walaupun tidak saling mengenal, tapi berbicara apa adanya.

” Hidup udah susah, jangan dibawa susah lagi, mending kita banyak bercanda, ya bang?” kata si supir angkot yang mungkin seumuran dengan saya.

Ibu dibelakang juga ikutan menyaut, menyetujui. Dalam keadaan akrab seperti itu, panas matahari seakan sedikit teredam. Saya suka!
Akhirnya Utin dan Saya menuju arah yang berbeda. Tidak lupa berucap terima kasih dan saling bertukar “hati-hati ya”, salah satu tradisi timur yang saya syukuri dan sukai.

Ketika kita benar benar memperhatikan, setiap harinya pasti ada saja hal yang membahagiakan dan biasanya bisa disyukuri. Hal hal seperti itu, kadang bisa memberi pelajaran hidup. Tunggu apalagi, coba aja, buka mata hati telinga (seperti Lagu Maliq and the essentials).

SCL