Jalan Jalan

Krakatau kind of Trip

awan coklat anak krakatau
awan coklat anak krakatau

Orang pintar pernah berkata, hidup itu seperti gunung, kadang pasif, dan pada saat yang tak terduga akan meletus, memberi kejutan dan efek pada banyak orang.

Apa ? belom pernah denger pepatah itu ? sabar dulu, gue baru mau bilang kalo orang pintarnya itu temen lo yang nulis artikel ini. Yah intinya hidup itu menarik dan asik, seperti esensi akhir pekan yang barusan gue alamin.

Perjalanan pergi yang agak Random

Jam 20.00 gue Rida Yara janjian di halte komdak Gatot Subroto untuk jalan menuju Merak. Akhir pekan ini kami ikut rombongan kak Sinta jalan ke Krakatau. Walaupun mereka baru bener-bener dateng jam 20.50, gue senyam senyum aja karena perjalanan baru mulai, gue harus positif thinking. Kita naik bis dari pintu tol Kebon Jeruk dan duduk manis di bis itu. Janjian di pelabuhan Merak jam 23.00 sama kak Sinta dan yang lain, kami tiba sekitar 23:30 dan kak Sinta rupanya belum sampai juga. Nasi gorengan dulu deh sambil nunggu. Sedikit komen untuk si bapak yang buat, terlalu asin pak, nasgornya. #gaPenting. Jalan ke loket tiket dan ketemu Echa dan Kak Sinta, dan teman-teman yang lain. Karena ini trip gabungan, jadi awal awal ketemu ini masih keliatan kalo geng-gengnya agak misah. Yang pertama gue kenalan itu si Ryan something, orang bule yang lancar bahasa Malaysia nya. Iya, lo ga salah baca, Bahasa Malaysia. Dia kadang ngobrol sama kami pake bahasa Malaysia dengan semangat, seolah itu bahasa Indonesia dan kami semua ngerti. Lucu aja liat ekspresi-ekspresi orang orang yang denger dan ga tau beberapa kosakata Malay. Ekspresi itu ga terlihat di wajah gue dan Yara. Kami ngampus di salah satu universitas paling bergengsi di Malaysia. #noMention

Dermaganya dermaga tiga, kapalnya lupa namanya apa. Grup terbagi, masing masing menuju tempat yang menurut mereka pas. Gue Rida Yara, eh bentar, bisa disinggat jadi GRY. Keren juga. Gue Rida Yara keliling bentar dan mencari sesuatu yang unik. Maklum ini pertama kalinya Rida jalan backpacking, dan pertama kalinya Yara akan menginjak pulau Sumatra. Mereka berdua semangat sekali, ditambah adanya gue untuk diperebutkan. #apasih. Kami mengitari kapal dan sampai di satu pintu di bagian paling atas depan kapal, bertuliskan “Crew Only”. Nah gue yang merasa crew, setidaknya Trip2Ucrew (buka deh di twitter, oke lho #promosi), merasa gue boleh masuk demi mencari keunikan. Ternyata itu ruang kontrol nahkoda. Ini dia randomness yang kami cari.

“ Wah tidak boleh dek, disini untuk kru saja “ kata si bapak kru.

“ Oh ga boleh ya pak. Sebentar aja kok. Cuma mau foto. Kan kapalnya belum jalan “ Yara dan Rida membandel dengan sedikit membujuk. Pada saat ini gue cuma intip intip ekspresi si bapak, apa termakan rayuan dua temen gue ini.

10 detik kemudian kami mencopot alas kaki dan masuk ke dalam. Rayuan berhasil, sodara-sodara. Kami pun mulai foto-foto manis di dekat setir kemudi kapal dan alat alat canggih lainnya. Tidak lupa kami nyanyi lagu My Heart Will Go On nya Celine Dion, soundtrack Titanic. Setelah itu pamit dan terima kasih sama bapak kru.

Perjalanan mengitar diteruskan dan kami sampai di Muster Point, tempat berkumpul jika terjadi kepanikan. Nah dekat dekat situ ada tikar yang dijejerkan untuk tempat orang duduk melantai. Gue yang udah pernah naik kapal ferry Merak-Bakauheni empat kali, merasa kali ini gue harus bener bener melakukan apa yang dari dulu gue belom sempet lakukan, yaitu rebahan di tikar itu sambil nunggu kapal sampai. Nah uniknya disini, otak gue tiba tiba memberikan modifikasi asik pada ide tadi. Tiker yang dijejerin tadi kami ambil dan bawa ke satu sudut yang bersih dan sepi (di deket  ruang kru tadi), lalu kami duduk diatas tikar itu, memandang bulan yang sedang putih purnama. Aah nikmat banget malam itu. Romantis, kalo kata Rida Yara.

Yang ga romantis itu angin malamnya. Sama sekali ngga. Karena bertiup kenceng banget dan dinginnnnnn. Rida ga bisa tidur karena kedinginan katanya. Gue sih masih bisa, setelah nutup kaki pake sarung. Akhirnya 2 jam kemudian kami sampe juga di Bakauheni. Menara Siger kelihatan dari kapal, dengan lambang mahkota pada bagian atasnya. Kami ngumpul di depan indomaret. Kak Sinta memberi waktu untuk solat dan siap siap, sambil dia mengkoordinasi sejumlah hal terkait kelancaran perjalanan kami. Gue Rida Yara sholat subuh dengan manis. Curhat sama Allah tentang jodoh, tentang pekerjaan. Wah banyak deh. Abis itu kami ngumpul lagi di depan indomart dan disini terjadi kejadian epik.

Echa ngasih tau kalo makan nasi berikutnya itu jam 11 siang, sedangkan sekarang masih jam 5 pagi, dia nyaranin kita ngisi perut dan bawa roti untuk makan dijalan. Rupanya Rida Yara sama lapernya sama gue. Kami beli popmie di indomart dengan semangat. Sambil ngobrol dengan seru tentang videoklip romantis korea yang lagi diputer di indomart itu, kami beli ini itu utk perjalanan di mobil. Kami juga membuka popmie dengan benar, memasukkan bumbunya, lalu menyiramnya dengan air dan menutupnya. Airnya dingin aja gitu, sodara-sodara. #failed. Kalo udah gitu sih, dibuang airnya diganti sama air hangat juga pasti udah beda kan rasanya. Nambah lagi sialnya karena air hangat juga ga hangat-hangat banget. Nasib deh. Tetep kami makan kok tapinya.

Canti – Sebuku – Sebesi

Kami naik ke angkot kuning yang sudah menunggu. Oh belom info rombongan ya. Jumlah rombongan kami ada 35 orang, jadi kami ambil 3 angkot untuk anter kami dari Bakauheni ke Pelabuhan Canti, Kalianda. Di angkot kami ada kak Sinta, Galih, Gue Rida Yara, dan geng bekasi. Geng ini terdiri dari 5 cowo fantastis dari bekasi. Angkot jadi rame pas mereka masuk. Oh lupa, angkot kami juga dilengkapi soundsystem yang besar, dan playernya bisa disambungin pake kabel ke handphone. Wah tidak menyianyakan, gue langsung masang handphone gue dan cari lagu Payung Teduh. Dan perbandingan bass dan suara penyanyi nya 8 : 2 aja gitu, sodara-sodara. Soundsystemnya khusus lagu daerah kali ya, Bassnya yang di ekstra-in.

Satu jam setelah naik angkot, kami sampai di Pelabuhan Canti. Pelabuhannya sih sederhana. Tapi itu yang gue suka, ada unsur unsur kayu gitu dimana mana. Terlihat 5 kapal berukuran kira kira 40 orang kapasitas, sudah menanti para tamu yang mau bertamasya ke Krakatau. Kami naik salah satu kapal dan ternyata bisa naik di bagian atasnya. Wah asik banget. Berangin.

pulau umang umang
pulau umang umang

Nah ini ke-failed-an kesekian kalinya dalam trip ini. Waktu kapal baru mau jalan, gue udah standby ngeluarin Kounan Dai (kamera gue, mulai sekarang kita akan manggil Dai) untuk foto-foto. Karena awal trip kan esensi untuk fotonya kan biasa aja, sekarang ketemu tuh, suasana dermaga yang ramai.  Pengen gue foto. Keker keker, Jepret ! seksi banget suara shutter nya. NO CARD INSERTED, gue malah baca tulisan itu, bukannya hasil jepretan yang muncul. Memory card masih ketinggalan di rumah. #failed. Aaaa gue langsung meringis dalam hati, mau mencampakkan harga diri seorang fotografer, dan menelanjangi bagian atas tubuh gue. #lho. Pantesan kemaren gue ngerasa ada yang lupa pas gue jalan.

Lagi kesel-kesel gitu, Rida dengan baik hati meminjamkan memory card kamera Nikonnya dia. Wah senang sekali hati ini, kalo gue belom punya nomor hp dia, pasti gue minta.

Keker keker, Jepret !

Keker keker, Jepret !

Pas udah sampai di Pulau Sebuku Kecil juga gue asik motret pake Dai. Hasilnya lumayan kece sih. Sama bagusnya sama kamera gue sebelumnya, Kounan (canon 450D). Orang orang pada turun dan asyik beraktifitas bersama teman temannya masing-masing. Ada yang berenang, ada yang main main sama pasir, ada yang jomblo, wah beragam deh. Gue ngajarin Yara tehnik memotret dari bawah, yang bikin subjek akan berdua sama langit. Kameranya harus dikebawahin banget, tanpa melihat viewfinder kita harus bisa memperkirakan angle kamera, dan gara gara itu Dai sempet kecipratan ombak! Ga banyak sih yang bisa dilakukan di Pulau Sebuku Kecil. Kami segera menuju Sebuku besar karena disana ada spot snorkeling. Oye ! akhirnya berenang lagi.

Kamera underwater, siap. Kacamata renang baru yang beli dikaskus, siap. Begitu kapal berhenti, gue langsung nyebur tanpa pandang bulu. Lalala lalala gue suka berenang di laut. Terumbu karangnya tidak sempurna, tapi banyak beberapa hal baru yang gue belum pernah lihat. Salah satunya ikan warna ungu yang lagi tidur di batu karang. Dari gayanya yang cool dan tidak gerak waktu kita deketin, gue beranggapan kalau dia berbahaya. Inget kan kalo film Jet Li, pasti Jet Li nya nunggu orang nyerang, baru dia nyerang. Nah ini juga harus hati-hati. Ada juga keong laut, yang jalan jalan di batu karang. Ada ikan yang warnanya kaya zebra banget. Ada juga ikan segitiga yang sayap atasnya warna putih. Ahhh memang gue payah banget kalo soal nama nama ikan. Nyebut ikan pake ciri ciri. Itu sama aja kira kira kalo nyebut nama orang, si item pake baju batik, si gendut rambut ijo, ga bagus ya habit itu.

tertawa di dermaga
tertawa di dermaga

Ombaknya lumayan kenceng juga, jadi jam 11 kami uda cabut dan bergerak menuju pulau Sebesi, dimana kami akan nginep. Di perjalanan menuju Sebesi, gue dan Sinta bocah (karena ada dua Sinta, satu si organizer Kak Sinta, satu lagi Sinta yang metal) main arung jeram alami, yaitu duduk di bagian depan kapal dan teriak teriak ketika ada ombak besar. Lumayan lho bikin suara gue serek.

Sampai di penginapan, kami seneng sama view lautnya dan halaman penginapan yang luas dan penuh dengan rumput rumput halus berwarna hijau. Penginapannya juga, walaupun tidak sempurna, tapi pas lah buat backpacker santai kaya kami. Kami ambil 3 penginapan, masing masing diisi 12 orang. Gue dan geng bekasi ambil kamar yang paling ujung. Lalu makan mie di warung, makan siang di ruang makan, leha leha di rumput halaman sambil nulis. Ada juga yang tidur. Karena emang acara berikutnya itu snorkeling lagi pada jam 3 siang nanti.

Gue SintaMetal dan kak Yoga duduk-duduk sambil bercerita. Tiba tiba ada anak cowo kira kira 10tahun. Gue panggil aja untuk kenalan. Eh rupanya dia supercool gitu kaya Edward Cullen, alias ga ngomong-ngomong. Dikasih aba-aba juga kurang memperhatikan. Akhirnya kami sadar kalau dia terbelakang. Ga gitu tau sih apa yang terjadi, tapi dia suka gambar kayanya. Liat kertas dan pulpen yang ada di gue, dia langsung ambil pulpen dan coret coret dikertas. Kertasnya diambil dia coret coret ditangan gue. Yak bagus, nak. Atleast gue berhasil jadi media penyalur kreatifitas dia kan.

Snorkeling, a beautiful sunset, and a red moon

Akhirnya udah sholat dzuhur dan ashar di jamak qasar (dikerjakan duluan sebelum waktunya), kami semua jalan untuk snorkeling jam 3an gitu. Pas bertolak dari dermaga, di sebelah kanan gue liat jajaran terumbu karang yang ga gitu jauh dari pantai pulau Sebesi, aahh tau gitu tadi siang gue main main deh disitu. View air laut dan pantai nya asik.

Spot snorkeling berikutnya agak chaos ya menurut gue. Di bagian selatan pulau Sebesi, ga gitu jauh dari pantai. Tapi ombaknya kuenceng banget. Baru empat orang yang turun, termasuk gue, eh si bapak kapal udah ngajak jalan lagi, karena terlalu kuat ombaknya. Dalam hati gue, telat pak, ini udah ngos2an berenang ngelawan ombak menuju kapal. Eit, positif thinking, mungkin si bapak mau gue jadi lebih bugar dan badan lebih bidang.

Sunset dan Sebesi
Sunset dan Sebesi

Spot snorkeling berikutnya ini pulau Umang Umang, yang kelihatan dari bibir pantai pulau Sebesi. Pulau ini ibarat pulau Kelapa kalau di Teluk Kiluan, atau Pulau Babua di Jailolo, kecil, ada pasir putihnya, dikeliling terumbu karang cantik. Ahh enaknya snorkeling disini. Ditambah satu hal lagi, jadi gue juga lupa beli batre alkaline untuk kamera underwater gue. Dan yang ada di warung cuma batre ABC. Gue coba juga deh, eh baru 3 shot, udah mati. Terpaksa gue make kamera digital Yara, canon powershot 3300, yang dikasih casing underwater. Gue kaget liat bedanya. Clear banget sih videonya. Yara nya juga cakep pas berenang. Hatinya baik. Murah Senyum. #gaNyambung. Intinya gue dapet video video asik yang bisa dipajang. Matahari juga lagi pas banget sudutnya dan bikin video underwaternya kadang ada ray of light yang nembus nembus gitu. Oh satu lagi, gue ketemu sekumpulan ikan yang mulutnya mirip pedang gitu. Sebesar telapak tangan. Keren.

Karena keasikan, gue dan Yara jadi lupa waktu. Kami uda ditungguin rupanya sama temen-temen. Pas keluar dari air, badan gue menggigil dan bergetar. Gue kedinginan banget. Untung di kapal ditawarin kopi panas sama bang Etep, salah satu ABK kapalnya. Dari Umang Umang, kami menuju matahari yang sebentar lagi terbenam.

Tuhan kayanya lagi seneng sama kami, atau sama akhir pekan ini. Soalnya setelah semalam dikasih bulan purnama cantik, sore ini matahari terbenamnya sempurna. Cahaya oranye yang tidak terpencar, langit cerah tanpa awan, sehingga si matahari bebas melambai pada kami, sebelum benar benar tenggelam. Ah momen seperti ini adalah salah satu yang bikin saya jatuh cinta pada sang pembuat alam semesta.

Kami pulang dan antri mandi. Tidak jelas karena pengalah atau lapar, saya memberi kesempatan pada teman teman untuk mandi duluan, saya menunggu giliran saja di warung indomie si Ibu. Rida kegirangan karena indomie nya tidak sedingin yang tadi pagi. Sedang asik menyeruput teh manis hangat, Tomo menunjuk objek indah lainnya di kejauhan. Gue liat ke arah yang dia tunjuk. Ada bulan merah yang saking merahnya, jadi seperti matahari akan terbenam. Gue dan Yara langsung lari lari kecil menuju ke pantai untuk ngeliat. Ahhh epiknya bulan ini. Jadi ga tau lagi mau bilang apa. Mau joget, uda agak cape. Mau nyanyi, suara serek. Jadinya gue Alhamdulillah aja dalam hati.

Setelah beberapa kali motret Yara dan Rida di bawah bulan, mereka pamit untuk mandi. Gue juga baru aja mau ke kamar untuk mandi, Eh nemu spot foto bulan lagi, yaitu disebelah tanaman dengan banyak ranting. Akan jadi siluet yang cakep di bulan ini. Ditambah lagi, ada si SintaMetal, yang mau dijadikan bahan percobaan motret. Jadilah roman roman foto “Sang penari di bawah rembulan”. Yess.

Akhirnya tiba giliran gue mandi, ketika ambil alat mandi, terdiam sambil cari cari sesuatu di dalam tas. Gue lupa bawa handuk! Dorrrr! Kenapa sih gue kurang teliti begini anaknya, apa karena gue bentar lagi berumur 26 tahun ?? yaudahlah gue positif thinking lagi, mungkin baju bisa jadi bahan lebih baik untuk meresap air di badan. 15menit kemudian gue udah wangi dan cakep seperti setiap pagi di hari kerja. Lalu makan malam bersama temen-temen. Disini mulai terasa kalo tenggorokan gue sakit dan badan gue sedikit menggigil. Kayanya mau sakit nih.

Abis makan, kami semua api unggunan sambil perkenalan. Untung aja ga disuruh kak Sinta bikin yell-yell. Sebenernya ada sesi curhat lagi malam harinya, diadakan Rida, Yara dan geng bekasi, tapi karena gue sayang sama badan, gue tidur duluan deh. Besok pagi kita bangun jam 4 untuk pergi subuh ke anak Krakatau.

Gue kurang beruntung dalam posisi tidur. Karena sebenernya gue tidur disebelah..gue kurang tau juga itu siapa, karena lampu dimatiin. Sepanjang malem dia gulang guling kiri kanan, ngorok kencet, dan sesekali kentut aja gitu, sodara-sodara. Gimana ngga wow gitu gue. Mungkin dia juga penyebab paginya pas gue bangun, badan gue makin ga enak. Haha. Becanda, bro. Badan gue emang udah disuruh sakit, biar gue makin perhatian sama kesehatan.

Menuju Anak Krakatau

Bangun subuh-subuh, kami juga gagal berangkat lebih cepet menuju anak Krakatau, karena ombak sedang liar dan kencang-kencangnya. Malah kata bang Atep, tadi jam 3 udah ada rombongan lain yang jalan, terpaksa harus balik lagi, dan itu satu kapal udah basah kuyup.

Kami menggunakan momen menunggu untuk memutuskan satu perkara mengenai jalan pulang : apa pulang mau lewat jalan standar, atau lewat Anyer yang mungkin lebih cepat. Minoritas mau lewat Anyer, tapi lewat argumen yang seru seperti lagi milih ketua OSIS, akhirnya semua ga jadi ke Anyer, dan kita checkout sekarang, jadi abis dari anak Krakatau bisa langsung ke pelabuhan Canti, tanpa harus balik lagi ke Sebesi.

si satu
si satu
si rida dan yara
si rida dan yara

Sekitar 5:30am bang Etep manggil dan bilang ombaknya lebih tenang, jadi udah bisa jalan. Kami semua naik teratur ke kapal, dan emang, ombaknya aman ko. Ada matahari terbit di belakang kapal, warna merahnya masih bikin kami kagum. Dan beberapa saat pas gue lagi cerita cerita sama Ryan, gue sadar kami mulau meninggalkan perairan berpulau. Menurut pengalaman gue ke pulau Seribu sama Trip2U, selama kapal masih ada di lingkaran pulau pulau, ombak kemungkinan besar akan aman. Tapi hati hati jika sudah tidak melihat pulau di kiri kanan mu. Nah ini juga kejadian, begitu udah gada pulau yang bisa kita liat, ombaknya mulai juara dan berhasil bikin gue meluk tiang kapal kenceng banget. Juga membilas beberapa orang dan satu kamera canon 7D punya mas Adi. Huhu kacian 7D yang hot itu.

2 Jam kemudian kami ngeliat anak Krakatau dari jauh. Wuih cantik lho. Agak gundul di bagian atas, tapi seru karena masih sesekali batuk dan mengeluarkan gumpalan asap. Cakeeeppp. Kayanya ini pertama kalinya gue ngeliat gunung api aktif dengan mata sendiri. Kami mendarat, dan sarapan pagi sebelum naik. Tas ditinggal di kapal, dan gue cuma bawa Dai untuk naik. Sinar matahari terang bikin langit makin biru. Cantik banget ngeliat kombinasi puncak gunung, lereng yang berpasir, dan langit biru. Cuma butuh sekitar 20 menit dari pantai untuk sampai ke puncaknya. Ngga puncak sih, puncak kedua lah kira kira, karena kayanya ga ada jalan ke atas, dan pasti berbahaya banget di dekat batukan batukan yang ada bebatuannya itu.

Dari atas gunung, pemandangan sekitar juga ga kalah oke. Ada pulau panjang di timur yang warna airnya toska. Cakep dan bikin betah mau liat lama lama. Sayang aja panasnya menyengat. Jadi bikin gerah maksimale. Setelah puas foto foto, kami turun satu persatu ke arah bawah. Melihat kak Sri yang pake jaket merah dan celana putih, gue motret dia. Merahnya kontras sama biru langit dan biru laut. Ciamik.

Akhirnya kapal kembali jalan, dan kami terpaksa men-skip satu jadwal snorkeling terakhir di Lagoon Cabe, karena ombak disana sedang kuat. Jadi kami langsung ke pelabuhan Canti. Rute selanjutnya sama seperti pada keberangkatan, tapi kali ini, kami lebih kompak dan membaur, karena sudah mengenal satu sama lain. Di Merak, kami semua bersalaman dan mengucap sampai jumpa.

Gue sampe dirumah jam 11:40pm setelah 3 jam di ferry, dan 3 jam di bis dari merak  yang ternyata mampir dulu di Serang. Nah pada saat gue mau nulis ini, ada kejadian seru yang dikabarin Yara. Sebelumnya, awal November 2011 gue naik gunung Gamalama di Ternate sama grup Maluku Utara Aku Cinta Indonesia (ACI) 2011. Dan 1 bulan setelah gue pulang dari sana, Gunung Gamalama meletus. Pertengahan April 2012 gue ke dusun Tambora sama tim inIndonesia (bentukan dari ACI2011) yang ada di kaki Gunung Tambora. Sekitar 3 minggu setelah kami pulang, Wakil Mentri ESDM meninggal di pos 3 Gunung Tambora. Nah rupa rupanya, tadi pagi jam 10:00 kami di puncak anak Krakatau, jam 11:30 nya gunung itu memuntahkan lahar pijar setinggi 200meter dan menjadikan status gunung itu waspada, tidak ada yang boleh ada diradius 1km dari gunung itu. WOW dong pastinya. Ada apa antara gue dan gunung gunung ya ?

Anyway, tripnya seru. Walaupun gue pulang dengan keadaan kurang enak bodi, tapi menyenangkan banget ketemu orang orang baru yang seru, nonton matahari dan bulan yang sedang prima, berenang bersama ikan ikan baru yang belum kenal gue, matiin hp dan mencoba menikmati perjalanan, karena itu tujuan utama petualangan.

SCL

Krakatau Trip Sept 2012

catatan : foto lain pada trip ini bisa dilihat di album flickr satu cahaya langit