Event, Jalan Jalan

Hello Biawak!

perahu di depan pulau
perahu di depan pulau

“Jika kita melihat sesuatu yang indah kemudian mencintainya, kita juga memuja penciptanya. Banyak hal indah yang bisa ditemukan di dekat, ataupun di jauh. Bagi kami, salah satunya adalah perjalanan akhir pekan lalu.”

Menuju Indramayu
“ Buruan kesini sebelum gue ngamuk-ngamuk. “ tulis Arin di Whatsapp Messenger group
Dari 14 peserta yang akan ke  Pulau Biawak malam ini, Arin adalah person in charge (PIC) nya dan datang paling awal ke meeting point. Kemacetan disekitar Kalibata dan Cililitan membuat gue telat lebih dari 30menit. Jumat malam di Jakarta memang selalu jadi arena uji kesabaran bagi setiap penikmat jalanan.
Gertakan itu sepertinya berhasil membuat orang-orang tergerak untuk menyapa para pengantar, misalnya abang ojek gue. “bang, cepetan dikit ya bang, kebelet pipis nih”. Setelah gue pikir-pikir, itu alasan lumayan aneh. Itupun sebenarnya gue udah ninggalin temen gue, Ardita, yang janjian di stasiun Kalibata karena kereta dia telat.
Sekitar jam 2030, semua orang sudah berkumpul. Mari kita absen, 14 anak muda berbakat bersemangat plus berkeringat ini adalah : gue sebagai pemeran utama, arin+andre pasangan petualang, yudha si pemuda bertato tapi suka SNSD, andreas si bule swedia, marsya+fariz+didi wakil dari Universitas Indonesia dan gabungan kelompok Abang-None Jakarta, ervita+neyni dari Trip2u -travel organizer terkeren se-asia tenggara, rukman sadikin sang fotografer handal, hengki+daus juga dari UI fakultas niaga, dan ardita si lumba lumba.
Semua sudah hadir dan bersemangat. Perut sudah diisi dan kami mulai mencari bis di terminal kampung rambutan. Para pemuda setuju untuk naik bis AC karena perjalanan mencapai 5 jam. Karena bis AC tidak kunjung muncul, Gue Yuda Arin berinisiatif jemput bola, mencari ke terminal. Nah disini menarik, karena para calo tiket tetiba mengerubungi gue sambil nawarin bis, dan walaupun mereka ngomongnya, “mas ini aja mas, non AC, 35ribu aja” atau “bisa kok, mas disini muat kok. AC. Enak”, tapi yang berasa di gue, kaya jadi selebritis dan dikerubungi wartawan, “Satu, jadi udah berapa lama pacaran sama Agnes Monica?”, atau “Kabarnya, Agnes ngejar-ngejar kamu tapi kamu nya ga mau, apa benar demikian?”, ah itu khayalan yang indah.
Akhirnya gue yudha arin memilih si mas yang nawarin bis AC, walaupun kelihatannya tidak cukup kursinya. Positif thinking aja kan, dia bilang muat. 30 menit kemudian bis jalan pelan dan gue satu satunya yang harus duduk di kursi plastik di lorong tengah bis. Wey mas! Katanya cukup!? Ya sudahlah, mengalah emang salah satu hobi gue. Lagian lumayan gue bisa jadi bahan ketawaan (dan hinaan) temen-temen gue. Dan bisa bikin orang nyapa gue terus, “misi mas, mau ke toilet”. Dan karena ga mungkin gue duduk di kursi plastik tanpa sandaran selama 5 jam, gue mencoba sesuatu yang lebih menarik, rebahan di lantai bis. Dan ternyata lebih enak lho. Tidur gue lebih nyenyak karena kaki gue bisa bebas bergerak.
Pulau nya belum keliatan ! 
Sekitar jam 0300 subuh kami sampai di perempatan Celeng, lalu di jemput dan diantar ke pelabuhan Karangsong. Disana, sambil menunggu kapal siap-siap, kami menikmati bintang yang bertaburan di langit. Ah enaknya. Pagi itu, selain rombongan kami, gue ngeliat ada anak-anak Unpad yang juga mau jalan ke Pulau Biawak. Tapi dengan kapal lain. Sekitar 0400 kami jalan dengan dua kapal kecil. Hengki-Daus-Yudha-Neyni-Dikdik di kapal B, gue dan yang lain di kapal A. di kapal A juga ternyata ada 4 orang selain rombongan kami, ada mas Deni, mas Nadi, dan seorang perempuan dengan pacarnya yang orang Prancis. Perjalanan dimulai dengan menyenangkan. Langit diwarnai warna jingga khas matahari terbit.
2 jam dikapal semangat sedikit menurun karena ombak sudah mulai besar. Si mbak dan pacar prancis nya terlihat sudah membungkuk-membungkuk di sisi kapal. Lalu sunrise selesai, matahari semakin terang. Gue bahkan uda berjemur sekitar 1 jam, tapi pulaunya belum juga keliatan ! setelah dipastikan lagi,ternyata perjalanan kapal memakan 5-6 jam perjalanan. Jadi, semua orang udah pada seneng, ketika sekitar jam 0830 Pulau Biawak sudah keliatan. Tapi yang ada malah, “Asik udah Pulau Biawak”, 30 menit kemudian, “Eh kok ngelewatin, ga mampir?” rupanya masih lanjut lagi menuju Pulau Gosong.

pulau gosong
pulau gosong
Jam 0920 baru kira-kira kapal menepi di Pulau Gosong. Pulau kecil yang manis karena warna airnya yang hijau muda, dengan hamparan pasir putir dihiasi karang-karang kecil. Kami berhenti untuk beristirahat dan makan pagi disini. Angin sepoi berhembus dan menyentuh kulit yang hangat karena matahari pagi. Setelah makan, kami berfoto dengan beberapa sudut dan pose foto. Yang berdua, bertiga, bersemua juga ada. Dari satu sudut Pulau Gosong, terlihat satu gusungan pasir putih lain kira kira 300meter di kejauhan. Usut demi usut, ternyata dibelakang gusungan pasir itu ada gugusan karang yang panjang. Kami kesana setelah sarapan dan puas berfoto.
Terdapat dua sisi di bagian karang ini, sisi pertama yang kami hendak ceburi (bener ga sih kata nya, ceburi?) adalah sisi timurnya. Sayang, ombak terlalu kuat sehingga kami lebih baik berpindah ke sisi barat. Padahal dari atas kapal sudah kelihatan terumbu karang yang manis manis. Sementara kapal berjalan pelan, gue memasangkan underwater case untuk Dai, kamera gue. Case baru ini, baru akan gue coba, untuk memastikan, bisa tidak sih melakukan dokumentasi underwater dengan case yang murah meriah.
“Pak kalau sudah boleh turun, kasihtau ya” kata gue. Si bapak kapal mengangguk.
Sementara, mulut sedang komat kamit agar case ini akan aman aman saja, dan Dai ga akan kemasukan air. Andreas yang ngeliat gue gugup, melambaikan tangan berbentuk jempol, sepertinya dia bilang gue terlihat oke. Atau mungkin dia mengucapkan “semoga berhasil”, hanya tuhan yang tau.
BYUR ! menghilangkan semua keraguan gue pada case underwater ini, gue langsung nyebur. Dan alhasil, memang ga masuk lho airnya. Wow asik. Gue coba tenggelemin dengan sempurna pun, ga masuk airnya. Wow. 10 menit pertama gue kaya orang aneh, bukannya coba motret tapi malah terus aja buktiin kalo airnya ga akan masuk.
Akhirnya tombol shutter dipencet. Jepret! Ijo, blur, ga keliatan apa apa. Ah sial, ternyata percobaan gagal. Setelah beberapa kali mencoba mengatur posisi case nya, tetep aja gagal. Setting fokus, dan lain lain juga keliatannya masih sulit dilakukan dari bawah air gini. Akhirnya gue cape sendiri dan nyerah. Naik lagi ke kapal, ngambil kamera digital sony plus underwater case ukuran kecil. Dan masih gagal juga lho! Padahal dulu sempat ngetest canon powershot+ underwater case merk Dicapac punya Yara dan Maisa di pulau Umang Umang, dan berhasil dengan baik. Dua kamera dengan dua case gagal. Akhirnya kembali ke kamera Brika klasik punya Trip2u. kalau yang ini sudah terjamin kualitasnya. Tapi baru mau ambil dokumentasi bawah air, eh kapal udah mau jalan. Nasib deh.
The great barrier reef versi pulau biawak
Oh ya, karakteristik spot pertama tadi, karang nya besar dan banyak yang alami dan masih hidup. Walaupun ikan sedang tidak banyak. Ada clownfish juga pada kedalaman sekitar 3 meter.
Tadinya kami mau mampir di satu spot lagi di sekitar Pulau Biawak, tapi katanya spot yang baru itu sedang kena limbah dari kapal Pertamina, sehingga direkomendasikan agar tidak kesana. Huu, padahal spot itu sama seperti tadi, gugusan karang panjang. Ga tau kenapa, gue ngeliat gugusan karang panjang itu langsung keinget tempat berenang yang paling pengen gue datengin, di Great Barrier Reef, Australia.

nemo

Nah kami langsung menuju Pulau Biawak dengan senang hati, akhirnya perjalanan laut berakhir, kata sebagian orang. Gue mengidentifikasi pulau nya dengan cepat, ketika sudah keliahatan dermaganya. Fakta pertama, pulau nya luas banget tapi 92% nya adalah pepohonan dan hutan, sehingga sulit untuk dikelilingi. Fakta kedua, warna airnya tidak terlalu toska, dan kelihatan ada gugusan karang panjang di timur dermaga. Nah ini dia yang dicari-cari! Semoga bagus, pikir gue. Fakta ketiga, ada mercusuar kira kira setinggi 80 meter sehingga paduannya dengan dermaga menjadikannya cantik.
Kapal mendarat tak sempurna, karena terlalu dangkal, jadi kami harus turun dari kapal dan jalan. Tapi kemudian Andre ngajak gue untuk explore karang di sekitar dermaga. Challenge accepted. Tantangan diterima. Karena gue masih penasaran kenapa Dai masih gagal walaupun pake underwater case, gue mau coba lagi. Kali ini, angin di dalam pelindungnya gue bikin sesedikit mungkin, dan posisinya gue atur dengan bener.
Kali ini berhasil ! Dai sukses merekam video yang menurut gue lumayan epik sih untuk sekelas amatiran kaya gue. Ah seneng banget gue. Ditambah satu lagi hal epiknya, terumbu karang nya bagus bagus banget. Besar dan berbukit-bukit. Ada juga area turunan dimana disana ikan ikan berenang dengan koloninya. Gue keliling sama Andre sampai kira kira 150meter ke timur, dan kita uda nemuin 4 sarang nemo, puluhan baronang lewat lewat, ah nikmat.
Naga mini

naga mini
naga mini
Sampe sekitar jam 1600, baru gue sama Andre naik lagi ke kapal. Dan jalan bareng ke penginapan. Disana temen temen yang lain lagi bersantai, minum teh, makan siang. Dibelakang orang orang yang bersantai itu, ada sosok bergerak yang masih keliatan asing buat gue. Biawak itu ternyata gede yah ! *baru tau* , kirain cuma segede iguana atau gedean lagi dikit. Ini sih bener bener hampir sekomodo. Karena gue sering main game, si biawak ini keliatan kaya naga yang merayap, levelnya belom cukup jadi sayapnya belom numbuh. Lalu dengan perlahan gue deketin, eh dia kabur. Keliatannya sangar padahal. Lalu ngobrol-ngobrol dengan pak penjaga pulau, rupanya dia bisa nyerang dengan mengibaskan ekornya. Kira kira kaya dipecut tuh ya. Sebelum berangkat, gue sempet ngajak temen gue namanya Kak Putri (ya memang umurnya jauh lebih tua, jadi dipanggil kak). Dia ga ikut karena takut tingkat dewa kepada biawak. Waktu itu gue meyakinkan dia, “biawaknya ga banyak dan kecil kok kak.” , sekarang gue jadi mikir, untung dia ga jadi ikut. Argumen gue salah semua soalnya tentang ga banyak dan kecil.
Gue Andre Hengki Arin sempet diajarin cara manggil biawak agar dia deketin kita. Yaitu dengan pura pura menjatuhkan sesuatu ditanah sehingga berbunyi kaya buah jatuh dari pohon. Eh beneran bisa, andre bisa bikin biawaknya deket banget sama dia. Nah anehnya, abis andre pergi, biawak nya nyamperin gue, padahal gue ga ngasih bunyi apa-apa. Trus gue tanya biawak makannya apa, dijawab ikan. Gue baru berenang tadi. Jadi gue bau ikan gitu ?
Setelah itu gue jalan jalan ke dermaga sama Dai, kamera gue. Jepret sana sini. Eh ada sekumpulan anak muda yang bukan dari rombongan gue. Pasti mereka yang grup unpad tadi pagi. Mulailah SKSD (sok kenal sok deket) dan ngobrol ngobrol. Rupanya anak unpad kelautan, memang sudah sering kesini. Abis menutup obrolan dengan manis, gue lanjut ke ujung dermaga. Sampai hampir tiba waktu matahari terbenam, gue jalan balik mau ke bagian tengah jembatan. Disana ada rombongan unpad lagi, tapi beda dengan yang tadi di jembatan, sedang berpose di air, tapi anehnya ga ada yang motret. Mungkin lagu nunggu temennya ya?
Gue mengambil ini sebagai kesempatan bertegur sapa lagi. “ Eh gue aja yang fotoin, mau ? “ kata gue setengah berteriak, karena posisi mereka agak jauh. “ Mauuuuuu “ jawab mereka serempak. Lalu gue beri arahan bak fotografer handal, misalnya perintah “kasih jarak, kasih jarak, jangan nempel”, yang belakangan gue sadarin, arahannya kok kaya lagi baris yah. Dan setelah gue ambil 2-3 jepretan, gue pamit dan ambil posisi tepat persis di depan sang surya yang sudah mau tidur. Yuda dan yang lainnya datang dan duduk di deket gue.
Senja dan ribuan bintang di langit

Menikmati senja bersama para sahabat dan secangkir teh itu luar biasa.
Hangat dari cangkir dan juga sang surya langsung bisa dirasa.
Kukuh telaga luas seperti hidup dan asa.
Lalu siapa lagi yang bisa membuatnya selain sang pencipta alam semesta.

Tidak hanya terbenam dengan sempurna dan bundar, sang surya juga menghiasi warna langit setelah ia tidur. Awan sebelah kiri keliatan seperti lumba-lumba, lalu yang kanan seperti naga dengan sayap yang lebar. Dan lalu langit menghitam.
Saatnya mandi maksudnya. Kami kurang berutung di bagian kelistrikan. Karena tanpa disadari, persediaan bahan bakar di pulau habis, sehingga tidak bisa menyalakan genset untuk mengisi air. Tapi ada bagusnya juga sih kalo buat gue. Mandi jadi rame-rame di sumur. Dan juga, efek paling supernya, bintang bintang jadi bercokol gagah menghiasi langit seperti ratusan lampu kecil di atap yang tinggi.

the geng
the geng
Abis mandi dan makan malem, gue dan temen-temen ke jembatan lagi, kali ini sambil tiduran, kita ngeliat lurus ke langit. Bukan hanya ada bintang, tapi ada Milky Way disana. Cantik. Sambil bercanda gurau, main ABC 5 dasar, sampai akhirnya jam 2100 gue ngerasa ngantuk banget dan pamit untuk tidur. Eh ternyata beberapa orang udah niat tidur di dermaga. Yuda Andreas Neyni Vita dan siapa lagi ya, gue lupa. Mengenai tidur di dermaga, gue uda pernah sih waktu di Ujung Genteng dan Pulau Perak, sukses kedinginan. Sekarang udah umur, mending anget2an aja di pangkuan Agne, maksudnya di dalam rumah.
Kebiasaan gue kalo tidur bukan dirumah sendiri, pasti suka kebangun pas tengah malem dimana semua orang uda tidur. Dan kali ini juga, tapi bedanya, kali ini gue bangun tanpa sedikit pun cahaya. Senter-senter uda pada dimatiin, lampu dari hp juga uda gada, total dark. Asik.
Bangun-bangun, gue kelabakan karena uda jam 0630, dan matahari sudah terbit dari tadi. Langsung ambil Dai dan menuju dermaga. Wah untungnya masih ada sisanya, dan juga sepertinya tadi pagi berawan, sehingga tidak sempurna terbitnya. Sebelum jalan ke dermaga,gue uda ingetin andre, soal berenang pagi pagi. Dia setuju. Kami kemarin baru ke timur, sekarang harus ke barat.
Menyapa vita dan neyni yang masih di kasur kecil di jembatan, gue mulai jepret jepret. Ga lama, Andre dateng dan gue uda siap turun ke laut lagi ! Dai kali ini udah harus istirahat, karena batrenya udah tinggal satu. Dan mau disiapin buat nanti lagi. Jadi yang dibawa turun adalah kamdig sony lagi. Kalo kemarin Dai aja bisa akhirnya ngevideo underwater, harusnya sony juga bisa. Semangat!!
Tempurung melayang
Karang di daerah barat cenderung rendah dan tidak berbukit seperti di timur. Tapi toh tetap cantik. Malah gue ketemu ikan bercorak macan tutul. Mencoba coba shoot video pake sony, tapi hasilnya kayanya masih kalah dibanding Dai. Keliling kiri kanan menonton ikan sedang makan, bermain.  Gue renang di bagian turunan, enak sih, biru nya ada dua warna. Lalu sesuatu bergerak dibawah gue sekitar kedalaman 5 meter. Tempurung melayang pelan menyisir tepi karang, dengan 4 kaki yang bergerak maju mundur. Ini pertama kali gue nemuin penyu dengan mata sendiri di laut. Dulu di Gili Terawangan sih ada guidenya dan dia yang pertama notice. Gue langsung panggil andre, dan dia berteriak di dalam air pas ngeliatnya. Aah nikmat. Gue ikutin gerakannya, dan menekan tombol record di Sony, berharap terekam dalam video.  Sampai kemudian dia hilang. Penyuuu, aku sukaaaaa.
teh dan mercusuar
teh dan mercusuar
Ombak pagi ini seharusnya tenang. Tapi kali ini agak sedikit kuat, bahkan ketika arin dan hengki ikut snorkeling, gue ngeliat awan hitam dari jauh. Dan diliat liat arah anginnya, kayanya itu awan akan kearah kita kurang dari 15 menit lagi. Andre setuju sama gue. Kami lalu naik dan kembali ke rumah. Bener aja, 15 menit kemudian emang hujan besar. Yang asik adalah, baru abis berenang, sarapan udah tersedia di meja makan. Wah langsung dong kami hajar.
Angin masih mendukung kami, dia berhembus dengan kuat, sehingga, kurang dari 1 jam, atau pas setelah kami selesai makan, hujan berhenti, habis. Dan matahari kembali bersinar cerah.
“Snorkeling lagi kan ? “ andre nanya.
“Ayoook “ kata gue.
Fariz juga uda mesen ke gue kalo dia mau pulang bawa foto underwater. Kata dia, “Gue perlu fotografer handal nih”. Handal. Handal. Handal. Terngiang-ngiang beberapa menit di kuping gue. Setelah itu gue jadi langsung mau ngeadd facebooknya Fariz. Good guy.
BYUR ! kami semua renang bareng ke tempat nemo. Ada Ardita juga yang bisa berenang meliuk-liuk kaya ikan. Fariz berhasil dapat video underwater yang lumayan. Marsya juga. Dan mereka liat dan main main sama nemo unyu. Setelah kira kira 30 menit berenang, mereka udahan. Gue tinggal berdua sama Ardita. Kita keliling sebentar di daerah timur, lalu memutuskan udahan juga 20 menit kemudian.
Tapi ketika balik, gue berenang pelan banget. Sadar ini kesempatan terakhir, karena udah mau jam 10, gue mau puas-puasin nonton ikan. Dan ini yang terjadi, berdasarkan statistik selama ini gue main dilaut, ketika cuma kita sendiri yang berenang, ikan ikan jadi banyak, dan seperti ga peduli kita disana. Gue jg gitu, saat itu gue liat baronang banyaaak banget pada berenang bareng. Ada juga ikan kaya Royal Angelfish tapi gede banget. Panjangnya sekitar 40cm-an. Puas. Gue puas.
Naik ke darat. Mandi. Makan siang. Sholat dzuhur. Akhirnya tiba waktu untuk pulang. Berpamitan sama pak penjaga pulau, sama biawak juga. Eh tiba tiba pas lagi duduk duduk,
“ Mas, mas yang kemarin fotoin kita pas sunset kan ya? “, ternyata gue lupa kalo gue belum kasih contact apa-apa untuk copy foto anak-anak unpad kemarin.
“ Mm..gimana ya. Ingetin aja nama gue ya. Satu cahaya langit. Google aja, atau cari di FB “
“ Eh? Pernah ikut ACI2011 bareng bang Fani ya? “ kata salah satu antara mereka.
Dor. Ternyata si adek ini adalah adik kelasnya Fani Kristiadi, groupmate gue waktu ke Maluku Utara tahun kemarin, disponsori oleh Detikcom. Dunia sempit yah, jauh jauh ke biawak, eh ada temen nya temen kita. Akhirnya dadah-dadahan abis janjian di facebook lewat si Fani.
Gue ga mabuk, gue ga mabuk, gue….
Kira kira jam 1300 kami start dari dermaga. Gue udah memprediksi ombak akan lebih besar ketika siang-sore, daripada kemarin perjalanan pagi-siang. Walaupun begitu, gue tetep jumawa dan menolak minum antimo. I will be fine, kata gue dalem hati.
jembatan ke dermaga
jembatan ke dermaga
Sekitar jam 1430, I will not be fine. Hoaaa, ombak nya kenceng ajah. Dan kayanya cara gue untuk tiduran salah deh. Atau karena tadi pagi berenang dan masuk angin. Tapi karena gue seorang guide di trip2u, gue berusaha tegar dan ga bikin malu dengan memperlihatkan gue mabuk. Aman sih, gada yang liat karena uda pada tidur. Untungnya disaat genting, vita bangun dan membuka pembicaraan. Jadilah gue cerewet dan menyalurkan kepeningan lewat obrolan obrolan tidak berwawasan. Manjur lho. Jadi gue rasa, kalo lo mabuk, ngomong aja ngalor ngidul. Tapi untuk lebih yakin gue akan baik baik aja, gue minum antangin sirup yang dikasih si Ardita. Masih 4 jam lagi perjalanan. Fiuh.
Jam 4 keatas, ombak udah mulai mendingan, gatau kenapa. Jadi gue bisa kembali nyanyi nyanyi dengan gembira di ujung kapal. Dan dari ujung kapal itu juga, gue ngeliat pemandangan ajaib. Di atas kapal, bagian belakang. Andre lagi tidur pulas dengan pose bintang laut. Gue jadi mikir, dari kapan dia tidur disitu. Masa pas ombak kenceng dia uda disitu? Ternyata ini anak muda sakti dan anti mabok.
Melihat matahari terbenam di atas kapal yang lagi jalan itu enak. Walau ga secantik sunset kemarin, yang ini khas dengan pantulannya di ombak yang bergerak gerak.
Jam 1900 baru sampai di pelabuhan Karangsong lagi. Hampir semua orang bersyukur karena sudah sampai daratan, setelah 6 jam di laut berombak. Dari sana, beberapa kelompok berpisah. Si mba dengan pacar prancis pulang duluan, dikdik dan mas nadi ke bandung, dan sisanya pulang ke jakarta dengan elf sewaan.

Perjalanan ke Pulau Biawak sudah selesai, tapi kenangannya mungkin tidak akan hilang seutuhnya sampai kapanpun.

Dan biarlah itu penat, atau lelah yang merintangi jalannya. Tapi cantiknya pulau itu tetap tak tersangkal jua.

SCL
Terima kasih kepada, Allah SWT sang pelukis agung, geng 14 anak muda bersemangat, mas andes, mas nadi, mas deni, grup unpad, nelayan kapal, pak penjaga pulau, biawak, pulau biawak, laut dan ombaknya, nemo, baronang, royal angelfish, penyu, ah semuanya deh. Toss!
foto foto lainnya dari pulau biawak bisa diliat di fanpage trip2u