Personal

28 November 1957

si Adi
si Adi

alkisah ada sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ibu, bapak dan satu anak perempuan. si kecil bernama Diana baru berumur 2tahun dimalam itu ketika Ibunya sudah bersiap melahirkan seorang adik untuknya. Kala itu teknologi belum ditemukan untuk melihat jenis kelamin anak di dalam rahim, mereka bertiga pun menebak-nebak, apakah lelaki, atau perempuan lagi.

Si Ayah dan Ibu merupakan putra dan putri Sumatra Barat yang bangga. Keluarga si ibu adalah keluarga yang cukup terpandang di propinsi itu. Keluarga Mahyudin. Mereka bertiga sedang berada di Medan ketika prosesi kelahiran berlangsung.

Malam 28 november itu juga isak tangis si jabang bayi mengisi ruangan, bercampur dengan tawa dan tangis bahagia mereka bertiga. Putra pertama kedua ibu dan bapak itu sudah hadir di bumi. Alhamdulillah, kata mereka.

“Adi”. Itu nama yang dipilih sang ayah, ia yakin anak ini akan menjadi besar. kakak perempuan dan ibunya juga memiliki harapan yang sama.

Si Adi kecil tumbuh dekat dengan ibunya. selayaknya anak lelaki pertama, ia selalu menjaga ibunya. Jamilah, sang ibu, pun mengajarinya banyak hal tentang dunia. Beberapa tahun kemudian, si Adi memiliki adik-adik. Mereka kini 6 bersaudara, dari Diana yang satu-satunya perempuan, lalu Adi, Hakim, Budi, Iwan, dan yang Terakhir Willy. Kelima bocah ini hobi berebut perhatian kedua orang tuanya, tidak terkecuali si Adi, putra yang paling tua.

Adi remaja tumbuh lebih kritis dari sewaktu ia kecil. Pertengkaran keluarga tak jarang ia tengahi, dan tak pernah sekalipun ia tak membela ibunya ketika Ayahnya sedang marah. Walaupun sering juga ia bertengkar dengan adik-adiknya.

Adi semasa SMA dikirim ke Jogja untuk merantau, sekolah, dan mencari pengalaman hidup. Suku mereka memang dipercaya suka merantau dan mencari peruntungan diluar tanah kelahirannya. Tinggal bersama pamannya, banyak hal ia pelajari, termasuk adat dan budaya di Pulau Jawa. Setelah selesai menimba ilmu di Jogja, Adi remaja kembali berpindah tempat. Kali ini ibukota negara yang jadi tujuannya. Ia ingin berkompetisi dengan orang-orang kota, ia ingin menang.

Kesukaannya pada kata kata dan tulisan membuatnya mendaftar di Sekolah Tinggi Publisistik (STP) di bilangan Depok. Di STP ini Adi makin berjaya. Pada tahun tahun akhirnya, ia sering mengajar sastra dan jurnalistik pada junior-juniornya. Adi memiliki banyak murid, tidak hanya lelaki, tapi juga mahasiswi. Dikampus yang sama, Adi bertemu dengan tambatan hatinya, seorang mahasiswi dari Sulawesi Tengah bernama Sukma. Diantara banyak pilihan, akhirnya mereka menikah pada pertengahan tahun 80an.

Adi dewasa makin berkibar setelah mulai bekerja sebagai wartawan di salah satu media cetak. Sambil berjurnalis, ia juga aktif di markas seni dan sastrawan hebat Indonesia, di Taman Ismail Marzuki. Disana kemampuan sastranya berlipatganda, dan berbuku-buku akhirnya ia terbitkan. Cerpen, Puisi, Artikel, sudah ratusan jumlahnya. Adi bertemankan orang orang yang saat ini terkenal, seperti Remy Soetansyah, Adek Alwi, konon juga pernah belajar dari WS Rendra.

Akhir tahun 86, seorang putra lahir dari rahim Istrinya. Bayi itu diberi nama Satu Cahaya Langit. Mungkin itu doa nya, mungkin itu harapan, hanya Adi dan Tuhan yang tahu. Lalu dua tahun kemudian seorang putri juga hadir mengisi keceriaan dirumah. Kali ini putri itu dinamakan Denting Kasihkami.

Dua cinta hadir, Dua cinta pergi. Ibunda dan ayahnya akhirnya pergi dan meninggalkan Adi. Keduanya dimakamkan di pemakaman umum Tanah Kusir. Adi tidak menyerah, Ia bertekad membesarkan kedua anaknya lebih hebat dari cara dia dibesarkan. Adi beralih profesi sedikit menjadi penulis buku. Bernama-nama tokoh politik dan tokoh masyarakat ia jadikan biografi yang kemudian melesatkan nama si tokoh tersebut.

Takdir kemudian menguji rumah tangganya ketika ia harus berpisah dengan Sukma. Kendati demikian, silaturami tetap ia jaga. Karena alasan yang sama, kedua anaknya harus dibesarkan dengan lebih baik. Lalu tuhan menuliskan nama lain di cerita hidup si Adi. Darwati hadir dan memberikan sepasang putra putri bagi Adi. Lintang Bening Pagi dan Tayang Embun Rindukami nama mereka. Kini empat sudah buah hati si Adi, dan usianya pun mulai senja.

"hadapi kenyataan", salah satu nasihatnya
“hadapi kenyataan”, salah satu nasihatnya

Kepada si Satu, putra pertamanya, ia menitipkan banyak pelajaran. Hal hal yang bagi Satu sangat disyukuri karena telah diajarkan. Adi mengajarkan anak-anaknya untuk mencintai yatim piatu dan fakir miskin. setiap salah satu dari mereka berulang tahun, celengan yang sudah dipenuhkan selama setahun akan dipecahkan di panti asuhan, lalu ada makan bersama dan bagi sembako.

” Hadapi Kenyataan “, suatu hari Adi berkata pada si Satu. Ia mencoba mengajarkan anak-anaknya agar tidak takut pada kenyataan pahit dan harus mencari cara melawannya. Adi juga selalu mengingatkan mereka, kalau berbeda ibu tidak penting, semua adalah saudara kandung. Yang tidak kalah penting adalah ajarannya untuk selalu makan dari rizki yang bersih.

Misi Adi di bumi selesai pada Jumat, 19 Oktober 2007. Di sebuah rumah sakit nafas terakhirnya dihembuskan, walau baru 1 hari sebelumnya masuk ke rumah sakit tersebut. Tuhan menuliskan penyakit jantung untuk menjadi alasannya pergi. Puluhan pasang mata mengikuti pemakamannya, Ratusan hati berdoa untuknya.

Adi, terima kasih karena telah hadir di dunia ini. Kini perjuanganmu akan diteruskan oleh teman-temanmu, muridmu, dan tentu saja ke-empat anakmu. Pahala dari perbuatan baikmu sudah berhenti, tapi Doa anak-anakmu akan terus mengalir dan menyelamatkanmu.

SCL

ditulis untuk mengenang ayah terbaik, Lazuardi Adi Sage (1957 – 2007 )