Kepedulian, Personal

Bapak emas

“ dari bumi untuk bumi, dari manusia untuk manusia lainnya “

bumi yang indah
bumi yang indah
Makan siang barusan saya lakukan di luar kantor, temu janji dengan seorang ketua RW di Rawajati : pak Budi, dan seorang penggiat kegiatan sosial, pak Tamrela. Agenda kami siang ini adalah membicarakan program pengadaan tempat sampah di RW pak Budi. Pembicaraan pun dimulai dengan lancar dan komunikasi yang asik.
Siang ini bukan pertama kalinya saya bertemu dengan Pak Budi maupun Pak Tam. Di RW pak Budi, saya dan teman-teman membuka rumah belajar kecil untuk adik-adik SD-SMP disekitar kawasan ciliwung kalibata yang terkenal sering banjir. Mereka berdua terlihat berumur lebih dari 50tahun. Berbicara pelan dan sabar mendengarkan. Tipikal orang tua pada umumnya. Tapi siang ini saya mempelajari kalau mereka berdua orang yang luar biasa. Dan saya seperti belajar hal baik, langsung dari contohnya, didepan mata saya.

Untuk menjadikan mimpi itu kenyataan, pertama kamu harus punya mimpi itu

Pak Tam yang menyampaikan hal itu disela-sela pembicaraan informal kami. Saya dan Jaswadi, kawan saya, beradu mata ketika ini, mengisyaratkan “wah bener banget nih ya”. Beliau juga berpesan agar kita ga boleh takut bermimpi. Karena itulah titik awalnya. Motivasi gitu ya.
 
Menghirup nafas, Menghembus nafas
Yang ini oleh Pak Budi. Prinsip hidupnya adalah Hablum Minallah, Hablum Minannas. Artinya Hubungan dengan tuhan (harus kuat), dan juga hubungan dengan sesama manusia juga harus kuat. “Nafas kita hirup lalu kita bersyukur pada Allah, Nafas keluar, lalu kita menggunakan tenaga kita untuk menguntungkan orang lain” . Bapak Budi ini Bapak Emas, kata saya dalam hati ketika itu.
Selama 12 tahun menjabat sebagai ketua RW, beliau mendapat banyak tantangan dalam memajukan daerahnya. Ketika ingin mendirikan masjid, mendirikan sarana olahraga, dan mendirikan PAUD, beliau selalu mendapat perlawanan dari warganya sendiri.
“ Masa sih, pak, membangun masjid saja ditentang ? “ tanya saya tidak percaya.
“ Pagi sarapan fitnah, Siang makan hasutan, dan sebagainya “ jelas pak Budi. Dia menambahkan kalau oleh warga sekitar, beliau di-cap sebagai “pencari proyek dan pengincar uang pemerintah”, makanya ditentang. Tapi dia ga pantang menyerah dan lanjut aja. Walhasil, setelah 12 tahun, bisa dilihat hasilnya sekarang, ketika Masjid itu yang dibangun dari 0 rupiah, dengan prinsipnya yang “ga mau ngecrek cari uangnya”, sekarang dipakai warga untuk sholat dan mengaji. Ketika Lapangan futsal jadi dan ada pemasukan untuk RW. Ketika cap kumuh yang dulu ada perlahan sudah tidak dapat dillihat lagi buktinya (sampah, penyakit). Kemudian beliau menambahkan lagi,

“ Tapi ya, untuk adek-adek yang masih muda ini, hikmahnya itu terasa. Setelah mengabdi kepada masyarakat selama ini, anak saya kuliah sampai S2 tanpa keluar uang (beasiswa). Seperti itu hasilnya, semuanya menjadi anak-anak yang baik, berbakti. Alhamdulillah”

Angkat topi untuk Pak Budi.
Program ke depan bersama Sahabat Rawajati dan Pak Budi
Kami juga membahas banyak hal siang ini. Coba saya beberkan point by point.
#Tempat Sampah
Setiap RT harus ada minimal 2 tempat sampah. Nantinya akan menggunakan desain yang menarik dan ada pesannya juga. Persis dengan ide project TempatSampahAda.
#BantuYatim
Mulai dari yang yatim piatu yang termiskin di RW, itu mulai dibantu dulu. Lalu termiskin nomor dua, nomor tiga, dan seterusnya, sesuai kemampuan kita bersama. Pak Tam juga menceritakan saat ini ia bersama komunitas Sahabat Rawajati nya, mulai membantu satu anak yatim yang hanya punya Ibu dan neneknya. Keduanya tukang cuci, dan rumah saja mereka tidak ada. Sebelum menyelesaikan kalimatnya saja, teman saya sudah “pak, saya ikutan. Mau bantu juga”.
#RondaSampah
Nah ini murni ide teman saya setelah kami pulang. Konsepnya adalah mengajak adik-adik sekitar untuk jadi “Agent Sampah” dengan keliling 10 menit berkelompok, dan menyisir sampah sampah yang kelihatan. Tujuannya memperlihatkan kemasyarakat kalau anak-anak juga bisa peduli kebersihan.
Mungkin segitu dulu sharingnya. Semoga bermanfaat
SCL