Personal, Psikologi

Kereta Supersonik dan Siput

siput di jalan
siput di jalan
Ada pepatah yang bilang “timing is everything”, yang sebenarnya juga jadi panutan hidup saya. Disekitar kita juga ada banyak jenis manusia yang mementingkan timing. Segala harus cepat, jaman sekarang sudah canggih, informasi dapat di ‘rauk’ (raih sebanyak mungkin dengan kedua tangan) dalam hitungan detik, mobil semakin cepat, kereta sudah lama supersonik. Demi tuntutan jaman, “cepat” menjadi kata yang wajib ada. Di syarat menjadi karyawan ada ‘dapat kerja dengan cepat’, di mobil mobil yang dibeli, di syarat provider internet yang terfavorit, juga di deadline menulis artikel lepas.
Kalau kita samakan dengan naik sepeda, yang mana untuk melaju kita memerlukan keseimbangan, memang semakin cepat sepedanya, akan semakin mudah untuk diseimbangkan. Melihat keuntungan lain, juga memang akan semakin awal kita sampai di tempat tujuan.

Tapi apa tujuan utama kita adalah sampai di tempat tujuan saja ?

Berbanding tidak terbalik, beberapa orang, mungkin lebih banyak diantaranya adalah orang dari generasi sebelumnya dimana “cepat” belum menjadi tuntutan, menyukai segalanya dalam kelambatan. Membaca koran kata perkata, mencernanya, menikmati matahari terbenam sejak pukul 1600, memilih berjalan kaki daripada bermotor, memilih naik kapal laut daripada pesawat. Lambat lebih baik, katanya.
Untuk saya sendiri, menindaki hal hal dengan lambat, itu juga banyak keuntungannya. Dengan berjalan kaki, daripada bermotor, kita bisa melihat lebih banyak hal hal yang terjadi di perjalanan. Lebih banyak toko-toko yang kita lihat, dan “oh disebelah sini ada toko lampu yang lengkap”, atau jika ada orang yang jatuh, dengan mudah dapat menolongnya seketika. Berpahala. Sambil berjalan kaki dengan pelan juga, hal kecil dengan mudah dilihat dan dipelajari. Berapa orang yang berjalan sambil senyum dan bernyanyi, berapa yang terlihat kesal, siapa yang sedang murung. Pesan pesan dijalan juga terbaca dengan baik.
Dikapal laut yang dari Jakarta ke Surabaya saja makan waktu 24 jam, mungkin saja bisa berkenalan dengan teman baru yang bercerita tentang hal hal keren yang belum kita dengar sebelumnya. Cerita 24 jam yang jika dipesawat hanya tersimpulkan jadi 1 jam saja (jakarta-surabaya).

Menyukai kelambatan itu seperti mengilhami proses, berbanding hasil

Memasak makanan satu persatu dari bumbu hingga lauknya, berbanding mie atau spaghetti instan. Keduanya lazim banget dilakukan oleh satu insan yang sama, di waktu yang beda. Ya itu tadi, menurut saya, “Timing is everything” itu benar. Kadang kita perlu menjadi cepat sekali, kadang juga menikmati proses itu wajib. Pada jalanan yang macet total, sepeda pun tidak bisa berjalan cepat dan terpaksa harus berhenti dan kita mulai memperhatikan sekitar. Ketika lelah setelah berlali cepat pun, kita berhenti untuk minum di bangku taman, memperhatikan burung-burung yang berpindah dari satu pohon ke pohon lain.

Jadi kata kuncinya mungkin, tahu dimana dan kapan harus berhenti dan berlari

Semoga membantu 🙂
SCL
image from : http://ak7.picdn.net/shutterstock/videos/2170775/preview/stock-footage-snail-crossing-a-road.jpg