Jalan Jalan, Ulasan

Kota Palu dan Isinya

Palu Blue Hour
Palu Blue Hour
Sebelum memulai, saya mau menegaskan aja, yang ditulis disini udah dijamin belum semua konten dari Kota Palu, plus mungkin ada beberapa hal yang kurang akurat, karena ini dari sudut pandang saya aja.
Bagi saya,  kota Palu adalah tempat pulang kampung yang kira-kira seperempat dari warganya, adalah keluarga atau relative dari keluarga nenek saya. Ibu saya dibesarkan disini, dan saudara-saudaranya juga tersebar diseantero kota Palu. Konon walaupun dilahirkan di Jakarta, saya dibesarkan disini dari setelah lahir, hingga berusia 2 atau 3 tahun. Mungkin juga itu alasan kenapa saya merasa ketika datang ke kota ini, seperti pulang kerumah setelah penat bekerja.
#Geografis, Iklim dan Keadaan Kota
Ini formal banget sih kita pake bahas ginian segala. Tapi yauda gapapa ya. kota Palu itu dekat dengan laut dan gunung. Agak lereng gitu deh. Dari pusat kota Cuma 5 menit bermotor sudah bisa ketemu laut. Area perbukitan juga hanya 10 menitan. Walaupun panasnya poll banget, angin segar juga sering banget nerpa wajah saya selama saya disini. Dibandingkan dengan udara Jakarta sih udah pasti disini lebih bersih karena jumlah kendaraan yang lebih sedikit.
Jalan-jalan dikota Palu lumayan bagus. sedikit yang rusak. Kendaraan bisa dipacu setidaknya 30-40km per jam. Bagi orang Jakarta seperti saya, pasti kota ini terasa Kecil. Suatu ketika saya mengantar teman lama saya yang rumahnya di bukit. Bagi saudara saya, rumahnya sangat jauh. Tapi jika dijarakkan dengan di Jakarta, mungkin dari patung pancoran sampai Kampung Rambutan saja. Untuk pecinta jalan kaki, berjalan kaki disini juga sepertinya asyik.
sunset di gunung
sunset di gunung
Bangunan tinggi tidak dijumpai disini. Mungkin yang tertinggi hanya 4-5 lantai. Beberapa gereja lebih menjulang dari mall atau bangunan ruko. Masjid juga demikian. Bioskop belum ada ! mungkin nanti yah. Mall sepertinya baru ada 1-2 saja.
Perilaku pengemudi kendaraan bermotor di Palu saya nilai, lebih baik sedikit dari rata-rata pengemudi di pinggiran Jakarta. Lampu merah di perempatan yang sepi masih ditaati.
#Kuliner
Bidang ini tidak terlalu saya kuasai secara detail banget, alias ga tau bumbu. Tapi kalo hanya merasa, rasanya saya cukup memperhatikan. Di Palu ini bisa ditemukan Coto Makassar yang ga kalah enak dari tempat asalnya. Juga ada Bubur Manado. Binte, yaitu sup jagung bening yang enak banget. Salah satu favorit saya. Sup ikan yang paling terkenal yaitu Palumara, yaitu ikan dengan kuah kuning bening dengan tingkat kepedasan yang lumayan. Original dari Palu yaitu Kaledo, sup seperti sup iga tapi menggunakan tulang sapi yang sum-sumnya enaaaaaak banget. Disajikan panas dan pedas. Nyam! Beberapa hari yang lalu saya juga ketemu menu baru yang gatau kenapa dulu ga diperkenalkan pada saya, Sup Apempui, sama seperti sup iga banget kalo ini, tapi kuahnya bening dan transparan tanpa adanya bawang, daun, atau apapun. Hanya transparan seperti kuah bakso. Tapi entah kenapa enak sekali rasanya. Panas dan pedas (lagi).
Minuman favorit saya sepanjang masa juga saya ambil dari Palu, yaitu Sarabba, si minuman Jahe seperti wedang jahe, dengan rasa jahe dan susu yang lebih pekat. Diminum di tepi pantai, sambil makan pisang goreng. Itu salah satu kebiasaan anak muda di Palu. Dari dunia per-ES-an ada Es Pisang Ijo dan Es Palubutung,keduanya meracik es teler dan pisang dengan sirup dan susu kental manis menjadi toppingnya. Enak deh, dijamin.
#Bahasa
Nah ini bagian yang saya suka, karena mungkin ga semua petualang yang datang kesini, bisa berbahasa sini. Hehe. Saya pun tidak terlalu lancar sebenarnya, tapi ya bisa lah kalau hanya mendengar dan membalas. Bahasa Palu agak mirip 70% dengan bahasa di Makassar dan Manado. Ini beberapa kosakata yang paling umum.
Ngana itu “kamu”
So itu “sudah” . di pendekkin aja.
Kita itu bentuk sopan dari “saya”
Pe adalah kata depan untuk kepunyaan. Contoh : “Kita pe ayam”, artinya ayam saya.
Lafal e hampir selalu dibunyikan seperti e di “Nenek”, bukan seperti di “nenas”
Kita orang, Dia Orang (disingkat Torang dan Dorang), itu “Kami” dan “Mereka”
Ba itu awalan dalam kata sifat. Contoh : “Jangan Baribut, Badiam sadiki”. Artinya jangan ribut, diem sedikit.
Ta itu awalan seperti “Ter”. Contoh : “Tajatuh”, “Taduduk” artinya dua duanya jatuh dengan tidak sengaja.
Iyo itu Iya. Kalau dipanggil orang yg lebih tua, jadi “Iye” (menjawab panggilan)
Te singkatan dari “Tidak”, misalnya : “Te ada saya pe ayam disini ? “ , tidak ada ya ayam saya disini?
Nah segitu dulu deh. Nanti kalo tertarik, hubungin saya aja, mungkin bisa ditambah-tambah sedikit.
#object wisata
Nah ini sebenarnya saya juga masih belum khatam. Seperti orang Jakarta yang belum masuk ke semua museum. Banyak objek wisata di Palu yang saya belum tau. Walaupun memang dibandingkan Makasar dan Manado, Palu sedikit sekali objek wisatanya. Tapi tetap kita coba aja ya.
Pantai Talise itu pantai terdekat dari kota Palu. Airnya coklat tapi desiran angin dan ombaknya pas, tidak terlalu kuat dan tidak diam saja. Anginnya asik. Dulu banyak anak-anak kecil berenang di pantai ini, tapi tadi sore kesana, sudah kosong, malahan ada papan peringatan “Awas, Ada Buaya”. Warga sekitar pantai mengiyakan pertanyaan saya tentang buaya. Oh iya, di pantai ini juga menurut saya tempat paling asik untuk Sarabba dan Pisang Goreng-an. Di pantai ini juga ada Jembatan Empat, yang menyala keren ketika malam hari.
Pantai Tanjung Karang itu kurang lebih 60km dari kota Palu. Satu jam sudah bisa sampai. Area pantai yang lebih baik dan jadi favorit keluarga keluarga di Palu. Pantai nya lumayan bersih dan airnya juga. Landainya pasir bikin kita bisa jalan sampai 200 meter dari bibir pantai. Dan katanya di ujungnya ada terumbu karang yang oke. Ini belum
jembatan empat
jembatan empat
pernah saya coba sih.
Dataran Tinggi Gawalise atau area bukit manapun, bisa dipake untuk duduk dan liat pemandangan kota Palu dengan kombinasi Laut-Kota-Gunungnya. Belum lagi ketika cuaca baik, langit biru dan awan putih gendut menghiasi. Perpaduan yang asik banget.
Untuk mall akan saya skip, gapapa ya. bukan fans berat Mall sih.