Sastra, Teman, Writing

Duduk di Awan

Manusia datang dan pergi. Tapi kenangannya tak hilang. Seperti buku yang kosong lalu ditulisi cerita.

Hari pertama disekolah atau lingkungan serupa, pasti akan membingungkan. Bertemu lebih dari 10 orang dalam jam pertama, bersalaman dan mencoba mengingat nama. Biasanya akan gagal. Paling oke 4 nama yang diingat.

Disekolah menengah yang berwarna latar putih biru itu saya datang seperti anak-anak lain. Belasan tahun lalu. Hari pertama, minggu pertama, bulan pertama, lalu tahun pertama. Teman yang paling ramah, guru yang paling galak, anak yang paling cantik, anak yang paling nakal. Gelar akan diberikan.

Dari sekian jumlah teman, Vidya adalah salah satunya. Ingatan jauh saya mengingat Vidya Putriyanti, kalau tidak salah. Dipanggil Vidy. Cewe cantik yang tidak sombong dan pemilih dalam berteman. Sepertinya pada kelas 2 kami ada dikelas yang sama. Berhuruf depan ’V’ membuat Vidy dipanggil maju di urutan urutan akhir, setelah huruf depan saya ’S’. Dia juga ceria di hampir semua waktu. Suaranya tergolong lantang untuk perempuan. Badannya juga sepertinya diatas rata-rata anak SMP pada saat itu. Jika diperhatikan dengan sekilas tapi tidak serius, Vidy sedikit terlihat seperti laki-laki.

vidya putri
vidya putri

Kami memang tidak begitu akrab. Hanya obrolan-obrolan kecil dan mungkin satu angkutan umum sepulang sekolah. Tapi setiap bertemu, senyumnya itu membekas. Bergurau sedikit, lalu tertawa. Setelah lulus SMP, kami hanya bertemu beberapa kali di pernikahan teman, di beberapa mall juga. Misalnya sekitar awal 2003, di Pointbreak Blok M Plaza. Pernah juga di Senayan City tapi saya kurang ingat kapan tahunnya.

Jika tahun lalu saya ditanya kira kira Vidy akan tumbuh menjadi orang dewasa yang seperti apa, mungkin saya akan menjawab : orang dewasa yang baik dan menyenangkan banyak orang. Itu hanya kira kira memang, berdasarkan kenalan sejak kelas 2 SMP hingga terakhir kali bertemu. Tapi itu yang saya yakini. Pasti dia akan mendapat pasangan yang baik, berkeluarga, dan dua anak. Dan mungkin kami akan bertemu lagi di reuni besar SMP.

Kata ’Mungkin’ itu sekarang sirna. Vidya baru saja pergi ke tempat yang jauh.

Nafas terasa berat. Detak jantung menjadi cepat. Ingatan dipanggil kembali untuk mengingatnya. Sedih itu pasti. Mungkin tidak mudah menerimanya.

Tapi takdir menjadi hak Allah. Jiwa raga kita pun juga begitu.

Vidy mungkin memang pergi, tapi tidak ceritanya. Membuka beberapa foto di halaman sosial medianya, begitu menyenangkan. Wajahnya tidak berubah, masih cantik sekali seperti waktu itu. Senyum seperti itu pasti hanya dia yang punya.

Sedihnya jangan lama. Karena kita nanti pasti akan kembali juga.

Duduk di awan
Dimana ditempatkannya mesin pengatur angin
Sekejap berhembus
Sedetik kemudian tidak hadir sedikitpun
Satu waktu kencang
Lalu ketenangan kembali
Dimana pula disimpannya buku jadwal datang dan kembali
Manusia dari dan menuju tanah lagi
Sekejap tertawa di tepi pantai
Sedetik kemudian sudah duduk di awan
Tanpa kabar tanpa pertanda
Seperti bumi dengan segala keajaiban
Begitu juga manusia ciptaan-Nya
Indah dan melekatkan kenangan pada jiwa lain
Harum cerita dan raga
Vidya adalah salah satunya
Sampai bertemu di langit