Psikologi, Ulasan, Writing

Belajar dari Naruto

dari  www.hdwallpapers.in
dari www.hdwallpapers.in

Tumbuh besar menyukai anime itu sesuatu yang gue syukurin juga dalam hidup gue. Walau dua dimensi, berwarna warni, dan banyak orang bilang itu film anak-anak, gue ngga pernah berpikir seperti itu. Mungkin karena pada dasarnya gue lebih suka kue daripada kemasannya. Lebih suka cerita daripada media penyalurannya. Atau mungkin juga gue tipe orang yang terlalu menghayati suatu cerita, membayangkan itu kejadian nyata, dan menikmatinya. Yang terpenting, gue harap gue belajar sesuatu dari situ.

Karena selalu ada yang bisa dipelajari dari setiap hal. Dari kejadian nyata, dari buku, dari koran, dari novel, dari anime, atau dari Naruto.

Menghayati film Naruto itu tempatnya tersendiri didalam diri gue. Mungkin gue suka ninja, mungkin gue suka dimana karakter didalamnya berbagai macam banget. Tapi gue suka sekali sama hal-hal yang ditunjukkan Naruto di anime itu. Dia ngga pernah menyerah.

Dia lahir tanpa orang tua. Mereka meninggal ketika desanya diserang oleh monster ekor sembilan, monster berekor yang terkuat diantara 9 monster berekor lainnya. Ayahnya yang kala itu ketua desa ninja, terpaksa mengorbankan tubuh anak satu-satunya untuk menyegel monster ekor sembilan. Desa pun selamat. Tapi sebegitu mengerikannya monster itu, sehingga semua orang menganggap Naruto adalah anak yang dikutuk. Dia pun dijauhi. Diejek. Diisolasi dari masyarakat. Anak-anak tidak bermain dengannya. Para orang tua melihatnya dengan tatapan hina. Belum lagi pada masa kecilnya ia sama sekali tidak pandai. Tidak ada yang bisa dibanggakan.

dari  static.tvtropes.org/pmwiki/pub/images/naruto_swing3_7253.jpg
dari static.tvtropes.org/pmwiki/pub/images/naruto_swing3_7253.jpg

Naruto dari kecil sudah bercita-cita menjadi ketua desa ninja. Dia mau menjadi ninja terhebat yang pernah ada. Siapapun yang mendengar dia bilang begitu, pasti tertawa dan mengejek. Dia jauh sekali dari teman-temannya, dalam fisik, prestasi, keahlian.

Tapi dia ngga pernah menyerah. Ngga sekalipun.

Lalu satu guru ninja mulai menerimanya karena mereka memiliki nasib yang sama. Ketika guru ninja lainnya masih menatapnya hina, guru ini mengajarnya dengan sabar.

Lalu Naruto lulus masuk ke kelas dasar ninja. Labelnya adalah si bodoh. Atau si gagal.

Lalu dia berlatih terus. Dan semua orang yang bilang, ”Kamu ngga akan bisa”, akan diteriakin ”PASTI BISA!” sama Naruto. Kalau dia kalah bertarung, dia akan coba lagi besoknya. Kalau dia jatuh, dia bangun lagi. Walaupun cuma kakinya saja yang bisa bergerak.

Dengan kegigihan, hati hati beku akan cair. Perlahan dia mendapat teman. Mendapat lebih banyak lagi. Bersaing dengan lebih banyak temannya. Menang lebih banyak pertarungan. Menyelamatkan teman. Menyelamatkan kelompok. Mengalahkan musuh yang lebih sulit. Menciptakan jurus yang kuat. Menyelamatkan desa. Menggerakkan lebih banyak hati. Dan berteman dengan monster dalam dirinya.

from fc01.deviantart.net/fs4/i/2005/139/6/f/Power_of_Kyuubi_by_demiveemon.jpg
from fc01.deviantart.net/fs4/i/2005/139/6/f/Power_of_Kyuubi_by_demiveemon.jpg

Akhirnya dia berada jauh lebih baik melewati anggapan orang.

Naruto mencapai cita-citanya.