Kepedulian, Psikologi, Writing

Lebih nasional lagi

 

Image
main gitar
Ada anak cowo lagi megang gitar sambil berpikir keras, tidak menghiraukan obrolan-obrolan disekitarnya. 10 menit lagi dia harus bermain beberapa lagu di acara perpisahan kelasnya, tapi sampai sekarang dia belum tahu akan memainkan lagu apa. Apa sebaiknya lagu lagu anak muda jaman sekarang? atau lagu bertema persahabatan dan perpisahan? atau top40 yang sudah pasti dikenal orang? argh si anak cowo berkemeja putih makin bingung.
ketidaksiapan ini adalah salahnya dan juga salah koordinator acara. si anak cowo malas mempersiapkan, dan si koordinator terlalu last minute dalam memberitahu. ekspektasi orang-orang bisa saja tinggi, atau malah tidak terlalu peduli dengan apapun yang dimainkan? si anak cowo dengan gitar hitam masih saja termenung di sudut ruangan di sebelah kolam renang.
“Acara berikutnya, akustik dari Reno kelas 3IPA2 !” kata pembaca acara lalu disambut tepuk tangan dari para peserta perpisahan. Reno berjalan menaiki tangga panggung dengan pelan. Nafasnya kurang berirama karena gugup. Bagaimanapun dia bukan bintang sekolah atau apa. Dia hanya disuruh main karena band sekolah tidak bisa hadir karena suatu alasan tertentu.
Duduk dikursi tanpa pegangan. Dengan gitar hitam yamaha dipegangnya dengan mantap. Reno memejamkan mata dan menarik nafas panjang. Beberapa petikan dicoba untuk menguji sound system. Lalu ia mulai bermain.
” Indonesia tanah air beta…Pusaka abadi nan jaya ” Reno mulai bernyanyi. masih dengan mata terpejam. Pilihan lagunya jatuh ke lagu yang sudah lama sekali ingin ia nyanyikan didepan orang banyak. Anak anak muda yang sedang berkumpul. Anak anak muda yang belakangan sudah jarang sekali bernyanyi lagu nasional selain ketika upacara.
Mungkin orang orang tidak begitu suka dengan pilihan ini, Ah tapi biar saja. Namanya juga usaha, pikir Reno ketika memejamkan mata tadi.
Tepukan tangan yang biasanya muncul ketika lagu baru dimulai, tidak terdengar. Apa mereka tidak suka? tapi Reno terlalu larut dalam lagunya, tidak memikirkan hal lain. Di benaknya cuma ada bendera Indonesia yang sedang berkibar dengan latar belakang alam yang bagusnya tiada tara.
” Disana tempat lahir beta … ” terdengar satu dua suara ikut bernyanyi dari penonton. Dua orang guru berdiri. Mata terpejam. Lalu tiga lima suara lagi. Lalu tidak teringat lagi seberapa cepat orang orang berdiri dan menutup matanya. Ikut larut dalam suasana khushuk.

Tempat berlindung di hari tua. Sampai akhir menutup mata.

Petikan terakhir membuat Reno membuka mata kembali. Mata yang basah sedikit karena bernyanyi. Lalu dia tersenyum, karena harapan itu masih ada. Ketika melihat orang orang berdiri, dan beberapa teman sekelasnya menyeka air mata. Saya tidak sendiri, pikirnya. Mereka juga kangen sekali dengan lagu ini, pikirnya.