Personal, Teman

anak anak kampung

ppi stockholm in batik
ppi stockholm in batik

Kampung disini bukan sembarang kampung, mereka menamakan kumpulannya dengan nama kampung stockholm. Anak-anak Indonesia yang melanglang ke Stockholm mencari ilmu, ya ada juga yang sambil mencari jodoh, mencari sesuap nasi. Gue sampai di Stockholm ini akhir Agustus 2013, dan sebenarnya waktu itu gue belum tahu ada Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Swedia. Lewat pertemuan dengan salah satu anggota PPI Stockholm secara kebetulan, masuklah gue ke lingkaran setan ini. Lingkaran setan itu kan kalau kita masuk ke satu proses atau aktifitas, lalu tidak bisa keluar lagi dan terjebak disitu. Nah ini mirip-mirip. Cuma aja, gada hasil negatif yang gue temuin dari situ.

Sebenernya gue juga sadar status gue di Stockholm sini bukan pelajar, gue juga sadar gue ga termasuk yang muda diantara temen-temen baru ini, tapi untuk pembelaan gue, berada di negeri orang yang 15 jam naik pesawat jauhnya dari negeri sendiri, itu siapa aja orangnya harus kita temenin. Selain karena punya banyak temen itu enak dan bisa bikin ketawa, tapi karena kadang kita juga perlu bantuan, atau info tambahan mengenai banyak hal. Ya kan, Ya kan? Plus, ada anak2 S3 dan post doctoral yang juga seumuran gue kok #pembelaan , dan orang pintar kayanya pernah bilang deh, “apalah arti sebuah umur”

Awalnya gue ga yakin bisa nyambung apa ngga sama anak-anak ini. Bisa aja gaya hidupnya beda, pemikirannya, dan lain lain. Tapi setelah dijalanin, ternyata waktu waktu gue sama mereka itu, khususnya beberapa bulan terakhir ini, itu gue dapet ketawa ngakak yang gue jarang dapetin, itu pas gue lagi sama mereka. Mau itu tentang ngecengin satu sama lain, jodoh-jodohan, bully tiada akhir, makan di kedutaan nambah mulu (sampai bungkus), banyak deh. Dan ketika gue pikirin lagi tentang kumpulan ini, ternyata mereka itu bunch of positive people. kumpulan orang orang positif.

Semuanya kaya karakter game Role Playing Game (RPG) yang punya kelebihan masing-masing. Mas Dhany itu keyboardist dan musisi yang jago. Desak Deni itu cewek agak kemayu tapi jago banget badmintonnya (iya, gue kalah emang). Agung Chris Setiadi (dipanggil Ce-Es) itu spesialis karaoke lagu nada tinggi dan kritikus makanan. Iqbal itu hampir YesMan dan suka bantu-bantu temen dan ga pernah komplain. Rama sih temen kantor gue, tapi dia jago banget masaknya. Aidilla selalu semangat ngajak kumpul dan makan sushi. Ada Rizal, Viktor, Nur, Nisa, Alvi dan yang lain juga yang ga bisa gue sebut satu satu. Mereka ini juga secara ngga langsung merubah gue jadi lebih positif. Gimana ngga, badminton rutin. Apalagi pas musim panas kemarin, bisa setiap 3 hari sekali mainnya. Sering kumpul-kumpul dan ngakak, ini faktor yang gue highlight banget sih, penting soalnya ketawa itu untuk kesehatan. Bebas pula dari minuman keras ataupun narkoba. Makan mecin sih tetep, walaupun ga sebanyak mecin di bakso di Jakarta. 

Ada lagi yang hebatnya nih, kampung stockholm ini, belum pernah ada perselisihan. Setidaknya ngga dalam setahun gue bareng sama mereka. Kaya masing-masing saling coba ngerti dan menyesuaikan gitu. Kejadian-kejadian kecil juga bikin gue seneng, misalnya ada yang mau pindah dan perlu bantuan angkat-angkat, pada bantuin. Ada pelajar baru di tahun ajaran baru, dirangkul dan diajak gabung main bareng, dikasih tau ini itu, walaupun sebenernya gada kewajiban dan pelajar barunya beda-beda jurusan dan kampusnya. Sekarang malah lagi sama sama cariin rumah untuk salah satu pelajar yang belum dapet tempat tinggal. Ada lagi ketika masak-masak bareng, yang non-muslim sebagai tukang masak dan tuan rumah, bikin effort (upaya) lebih untuk jaga masakannya tetep halal agar bisa dimakan untuk semuanya.

Beberapa hari lagi gue harus balik ke Jakarta karena jadwal gue training di sini udah selesai, dan gue ga suka perpisahan. Toh internet uda bagus jaman sekarang, kita cuma one click away dari temen kita yang mana aja. Gue jarang jarang dikasih kado ataupun video, jadi pas malam tadi mereka ngasih gue dua-duanya, gue ga gitu tau harus gimana selain cengengesan kaya gue sehari-hari. 

Apapun itu, time pass, but memory last.

terima kasih untuk kebersamaannya ! inget, ini bukan perpisahan !

[vimeo 104178895 w=500 h=281]

KadoBangAtu from dhany1024 on Vimeo.