Idea, Kepedulian, Personal

Putih Lawan Hitam

kursi wakil rakyat
kursi wakil rakyat

Ini bukan peraduan warna, yang mana yang lebih keren. Karena kalo memang warna, sebenernya gue suka dua-duanya. Putih bersih, hitam elegan dan keren. Tapi putih lawan hitam disini itu mengenai kondisi negara kita sekarang (negara gue, kalo lo orang bule). Dimana setelah pakde Jokowi menang dan kita senang, dan setelah kubu lawannya kalah gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK) lalu kita girang. Ketika kita kira harapan di 5 tahun kedepan akan lebih besar berkali-kali lipat lagi, eeh tadi malem diketok palu dipilihnya ketua DPR dan 4 wakilnya berasal dari kubu lawan itu. Kita sebut aja kubu hitam.

Dalang dibalik rese nya kubu hitam ini, ternyata bukan cuma ga mau ngalah dan kolokan, tapi juga jenius dalam strategi perang. Dia ga bisa ambil tahta presiden, maka diambil wilayah DPR yang merupakan penentu undang-undang dan banyak keputusan lainnya juga. Dan mereka destruktif. Mengubah undang-undang (UU) pemilihan kepala daerah yang tadinya bisa kita pilih melalui pemilu, sekarang jadi dipilih oleh DPR, dan gada lagi pemilu. Sampe-sampe kemarin gue liat berita KPU di beberapa daerah yang lagi persiapan pilkada tahun depan, jadi berhenti kegiatannya. Yaiyalah, kan uda gada pilkada, ngapain juga ada KPU, ya ga.

Belum selesai sampe disitu, kabarnya si kubu hitam ini pengen merevisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan juga memilih presiden lewat MPR. NGOK banget.

Pertandingan hitam putih nya yang tadinya dimenangin kubu putih, sekarang jadi kaya seimbang lagi. Harapan kita cuma ada di Jokowi dan JK, insyallah juga di menteri-menteri yang mereka pilih. Kalo dari segi pelaksanaan pembangunan negara, gue rasa mereka aja uda cukup, tapi kan undang-undangnya di wilayah DPR. Apalagi kalo UU KPK berhasil dirubah, wah bakal bisa aman mereka yang korupsi.

Trus kita bisa ngapain untuk fight back ? Mba titi yang bikin petisi besar menolak RUU pilkada tak langsung aja ga gitu banyak memberi hasil karena uda diketok juga pengesahan RUU itu. Petisi petisi lain yang bernada menggugat keputusan RUU pilkada, bukan ga mungkin kaya gitu juga hasilnya.

Tapi gue rasa ya, kita masih bisa fight back. Ini baru pemikiran super sederhana gue aja sih. Gue sendiri ga pinter hukum dan cuma penonton selama ini. Tapi gue percaya banget Indonesia itu raksasa yang lagi terbaring, bukan karena malas tapi karena kuman kuman didalamnya membuat dia paralyzed dan ga mudah bergerak. Gue pengen jadi Lactobacillus , atau bakteri baik yang menyehatkan badannya dan membasmi kuman merugikannya, supaya si raksasa bisa berdiri tegak, melompat, dan berlari. Itu pasti keren banget.

Si DPR ini jumlahnya sekitar 500an ya kalo gasalah. mereka itu berbanding 260 juta warga negara Indonesia di bumi. Kalah jumlah jauh. 260 juta mata dan otak kalo singkron itu bisa jadi pengawas, penyebar info yang efisien banget.

Kita bisa awasin terus gerak-geriknya, dan publikasi. Jadi yang positif akan jadi positif (karena alhamdulillah dari semua anggota DPR, ga semua yang kubu hitam). Khususnya kalo ada yang melakukan korupsi atau kejahatan lain, lapor agar bisa ditelusuri. Kalo dia ngomong sesuatu yang ngga pro rakyat, disave dan disebar. Biar pemilihnya sadar kalo mereka milih orang yang salah. Intinya kita melakukan monitoring yang intensif. Kalo ada dari kita yang mengerjakan project sama salah satu dari mereka, disebar juga, agar bisa diikuti progressnya, lancar apa ada yang ga bener.

Selama ini kita kan gatau tiap tiap anggota DPR itu siapa, apa rekam jejaknya, itu bisa mulai dari situ. Jadi kalo ada yg uda pernah terlibat kasus, kita bisa awasin lebih ketat lagi.

Pada akhirnya ini bukan tentang hitam atau putih, tapi memajukan bangsa. Mensejahterakan rakyat. Kejujuran. Transparan tentang penggunaan uang dari pajak rakyat. Saling tolong menolong.

Maju terus Indonesiaku.

/SCL