Tidak ada kategori

Menunaikan Janji

janji
janji

Hidup itu tentang mimpi, berusaha mengejarnya, kemudian mengikhlaskan hasil akhirnya.

Gue dibesarkan oleh seorang ayah yang ambisius. Dia punya cita-cita menyekolahkan gue diluar negeri. Sebagai anak cowo pertama, gue merasa dia mengganggap gue sebagai produk yang dia mau sukseskan, lalu dia bisa berbangga akhirnya. Yah seperti ayah yang lain mungkin ya. Tuntut ilmu ke negeri cina, mungkin pepatah itu cocok dengan ambisi dia tentang itu. Dia suka jika anaknya belajar dan sekolah di tempat yang jauh. Karena ekonomi kami tidak terlalu berlebihan, dia harus berusaha keras membanting tulang supaya cita-citanya itu bisa tercapai.

” Kuliah kamu di Amerika ya. ” kata beliau ke gue, ketika kami membicarakan kuliah S1 dulu.

” Tapi uangnya kan ga cukup, pap? ” kata gue. Pap adalah panggilan gue ke dia.

” Kalau perlu papa bisa ngutang. Kerja sampe berdarah juga bisa. Yang penting kamu bisa sekolah yang bagus.” Katanya lagi, dengan tatapan mata yang khusus yang dia punya, se

rius tapi tidak terlalu kaku. Disini gue takut. Bukan takut sekolah diluar, tapi takut dia beneran memaksakan kerja mati-matian.

Ya, kata sekolah, pendidikan untuk anak, itu emang jadi nomor satu buat beliau. Sekolah yang dia maksud bukan cuma institusinya. Tapi lebih banyak ke persaingan dengan orang pintar lain, dan belajar hidup mandiri, belajar cari uang dan bertahan hidup, beradaptasi dengan kesulitan. Itu sekolah menurut dia.

” Jaman papa dulu sih masih mending tu, papa saingan sama anak orang kaya tapi ngga pintar. kita pintar dikit, uda aman. Tapi jaman kamu akan berat. Saingan kamu nanti anak orang kaya yang pintar. Kamu butuh lebih dari kepintaran” , kata beliau.

Balik ke kuliah di Amerika, gue setuju sama konsep dia soal sekolah diluar, tapi ke amerika akan bikin dia menderita. Gue mengajukan satu janji,

”Kalau S1 nya ditempat yang lebih murah dulu, lalu nanti S2 nya baru mengejar ke amerika atau eropa, gimana?”

Dengan pertimbangan, mungkin nanti S2 bisa dapat beasiswa, atau mungkin ekonomi kami jadi lebih baik. Alhamdulillah beliau setuju. Win win solution. Gue pun kuliah di Malaysia, dengan biaya kuliah yang ternyata tidak mahal (gue kuliah di kampus yang jauh banget, negeri, biaya kuliah satu semester hanya 4 juta per-semester saat itu, sudah termasuk asrama). Tapi gue punya janji hidup ke papa.

Hidup itu tentang mimpi, berusaha mengejarnya, kemudian mengikhlaskan hasil akhirnya.

Oktober tahun 2007 silam, ketika gue masih semester 6, Papa menghembuskan nafas terakhirnya ketika gue masih menunggu boarding pesawat menuju Jakarta. Semua mimpi gue yang melibatkan beliau serasa pupus. ”Gimana gue mau buktiin gue bisa menunaikan janji gue ? Gimana mau liatin ke dia pernikahan gue ? Siapa yang nanti namain anak gue ?”. Pertanyaan-pertanyaan itu kaya nampar nampar gue ketika gue lagi menyaksikan tanah-tanah disekop dan dibuang ke dalam liang kuburnya.

Yes, ikhlas itu kata yang berat dan bermakna super banget. Gue belajar sedikit tentangnya dalam kejadian ini. Selalu ada hal baik di setiap kejadian kurang baik yang terjadi. Gue belajar mengikhlaskan kepergian beliau.

”Sekarang uda ga perlu banting tulang lagi ya pap. Terima kasih atas ilmunya, giliran Atu yang sekarang berjuang”, kata gue ke foto beliau yang selalu gue bawa di dompet.

Mimpi gue sejak kepergian beliau meningkat beberapa kali lipat. Kebiasaan beliau yang merayakan ulang tahun di panti asuhan, gue bikin sebagai hobi baru gue, berbakti sosial kepada mereka yang kurang mampu. Sisi nasionalisme papa, gue gandakan dan cita-cita baru gue yaitu mau membangun Indonesia, si raksasa yang tertidur. Gue juga mau suatu hari nanti bisa membangun masjid dan sekolah. Mau me-naik-haji-kan Mama. Dan gue ngga akan putus asa di janji gue tentang kuliah S2 di Amerika atau Eropa.

Januari lalu gue mencoba LPDP tapi gagal. Lalu beasiswa menkominfo gagal juga. Tapi bukan Satucahaya Langit kalau langsung menyerah. Akhirnya bulan April diterima di kampus KTH Swedia, dan Juninya mendapatkan beasiswa LPDP. Agustus ini akan melangsungkan pernikahan dengan seorang wanita cantik yang baik bernama Suci. Ketiga kejutan baik itu gue anggap bonus dan titipan dari Allah. Dengan rizki sebanyak ini, gue juga harus membantu orang lebih banyak lagi.