Stockholm

Nikmatnya Kembali

Bandarudara Arlanda
Bandarudara Arlanda

Its good to be back, kalau kata orang jerman. Kembali itu nikmat. Setelah beberapa periode tinggal dan menetap di satu tempat, lalu pergi meninggalkannya selama beberapa periode lain, meninggalkan hal-hal menyenangkan, warna warni, teman-teman yang mudah membuat kita tertawa. Setelah pergi, lalu kembali. Bertemu lagi dengan hal-hal tersebut, dalam kala yang baru, cerita yang baru, itu sesuatu yang sungguh bisa dinikmati.

Agustus 2013 sampai Agustus 2014 gue hidup di kampung nun jauh dari tanah air beta, di sebuah desa bernama Stockholm. Tepatnya negara Swedia. Yes, Swedia, bukan Swiss. Banyak hal terjadi selama setahun itu. Pelajaran yang gue dapet mungkin lebih banyak dari 3 tahun di Indonesia. Bukan berarti di Indonesia itu ga menarik dan ga banyak ilmunya, tapi mengenai betapa diluar lo cuma hidup sendiri dan Survival Mode lo aktif dan digunakan, diasah.

Setahun itu gue rasa uda cukup banget gue rasakan dan resapi. Gue udah puas main salju, liat aurora, main ke negara tetangga, petualangan solo di Prancis, desa cantik banget di Interlaken Swiss. Dan di bulan terakhir itu gue kangen banget sama makanan-makanan Indonesia. Dan snorkeling! Kalau makanan Indonesia masih bisa lah dicicipin di Stockholm, ada ibu-ibu Indonesia yang jago masak, Rama aja pernah bikin rendang. Tapi kalo snorkeling, boro-boro, airnya hangat sebulan doang ketika musim panas, itu juga danau kecil aja. Laut dan sungai besarnya masih dingin. Gue pun kembali ke Indonesia.

Feeling ketika balik itu enak banget. Alhamdulillah. Cicipin makanan Indonesia satu persatu. Bikin rencana jalan-jalan ke laut. Ketemu lagi sama sahabat-sahabat gue, adik-adik asuh gue, mama, sika, tayang. Tanah airku Indonesia.

Sekarang gue balik lagi ke belahan bumi mirip kulkas ini. Misinya kali ini adalah menuntut ilmu yang baik. Mengambil lebih banyak pelajaran lagi dari para pengajar, para teman, dan keremesan-keremesan yang diberikan hidup pada kita. Gue kembali lagi ke kampung Stockholm.

Turun dari pesawat gue melihat pemandangan yang sama dengan terakhir kali gue pergi dari sini. Airport dengan desain modern tapi sederhana ini. Pintu imigrasi yang masih delapan tapi yang digunakan hanya empat. Mungkin karena masih pagi. Lalu sabuk pengeliling barang bagasi, trolinya, pintu keluar tempat orang-orang menjemput, sampai ATM Bankomat disebelah pintu keluar. Masih sama. Perasaan hangat dan kerumahan mulai menjalar. Gue ga merasa asing, rasa-rasa seperti itu bikin kita tenang dan merasa aman.

Kembali itu nikmat. Seperti silaturahmi dengan teman lama. Orangnya sama, ceritanya baru. Ada yang bertambah, ada yang berkurang. Jika Stockholm ini jadi orang, mungkin dia seperti orang Swedia yang yang pirang dan menyapa seadanya, ”Eh elo dateng lagi. Kali ini kita main apa?”

Gue beli isi pulsa, memakainya untuk paket internet termurah yang gue tau, beli tiket kereta dan ke stasiun sentral dengan mudah. Menitipkan koper gue ke kantor lama gue, Emric. Ambil kunci di kampus, dan menuju rumah baru gue.

kamar tidur
kamar tidur

Rumah ini mungkin ngga menarik untuk beberapa orang. Lokasinya agak sedikit diluar kota. 30 menit naik kereta dari stasiun sentral. Dan 50 menit ke kampus. Dari stasiun harus jalan 10 menit ke pintu rumah. Dan sekitaran rumah belum terlalu rapih karena masih ada pembangunan rumah-rumah lain. Didalam rumah gue, atau kamar studio, berukuran 25meter persegi. Ada kamar mandi, dapur dan perabotan dasar. Walaupun ngga sebagus dua rumah dulu yang pernah gue tempatin waktu masih di Emric, tapi ini uda bisa banget untuk disyukuri. Bagaimanapun, yang kita bener-bener perlu itu kan sebenarnya kebersihan ruangan, tempat tidur, air bersih. Dan semuanya ada disini. Alhamdulillah.

Dan seperti daerah lainnya yang pernah gue liat, daerah Bredäng ini juga setengahnya hijau. Ada taman dan penuh pepohonan. Tamannya ada fasilitas main anak, lapangan olahraga, outdoor gym, dan tempat berbelanja kebutuhan dasar. Malah di tempat gue ini cuma 2 stasiun jaraknya dari IKEA.

Kembali itu nikmat. Seperti makan suatu makanan khas yang sulit didapat, lalu setelah beberapa lama, kita memakannya lagi. Tapi jika diperhatikan lagi. Semua makanan itu nikmat, terutama jika kita lapar. Semua tempat itu nikmat, terutama jika kita sedang memerlukan tempat. Semua jalan itu nikmat, terutama jika kita sedang mempunyai tujuan.

/scl