Personal, Teman

The All-Sports Man

Pertama kali gue hidup mandiri diluar kota tanpa kenal sesiapapun didekat gue, itu adalah ketika gue kuliah tahun 2005. Di kampus yang namanya Universitas Utara Malaysia, di Kedah, Malaysia Utara. Enam jam dari Kuala Lumpur, tapi cuma lima belas menit dari Thailand. Nah karena baru pertama kali, ditambah gue jadi satu-satunya orang Indonesia di asrama gue, yang lain orang Malaysia semua, gue gugup dong. Apalagi gue sekamar sama orang Malaysia juga, dan kadang temen-temennya datang ke kamar. Nah tapi ternyata mereka baik. Ada yang suka ngelawak, ada yang diem-diem aja manggut-manggut. Nah ada satu orang yang murah senyum dan setiap ketemu (di asrama ataupun diluar) selalu negor, nepok-nepok bahu dan mengakrabkan diri. Gue inget namanya itu Sham.

Sham
Sham

Nah ini dia fotonya. Liat kan? senyumnya lebar banget. Udah keliatan orangnya gampang akrab dan sok deket. Antara anak-anak Malaysia yang duluan deket sama gue, salah satuna si Sham ini. Dan bukan ke gue doang. Ke temen-temennya yang lain lebih-lebih lagi. Dia hampir tiap hari main bola sore-sore sama anak asrama. Kal gue inget-inget, emang dulu itu dia badannya anak bola banget. Keker. Julukan pribadi gue untuk dia adalah “The All-Sports Man”. Ke-soktau-an gue bilang dia itu pasti bisa jago di banyak olahraga.

Trus dia juga kayanya penasaran gitu sama orang Indonesia. Sering nanya-nanya tentang budaya, tentang keadaan di Indonesia. Minta kenalin sama anak Indonesia yang lain. Dia juga aktif di kepengurusan asrama.

Jadi hari ini ceritanya dia ulang tahun. Facebook yang kasih tau gue. Gue juga kebetulan sering menggunakan ulang tahun sebagai topik pembuka obrolan dan silaturahmi sama temen-temen yang gue udah lama ga kontak. Sham salah satunya. Gue terakhir ketemu dia pas wisuda, tahun 2009. Udah 6 tahun. Pasti banyak cerita yang bisa dibahas nih. Udah kawin belom sih dia? Tanya gue dalam hati sambil buka facebook profile nya dia dan nulis ucapan selamat ulang tahun.

Eh beberapa jam kemudian ada notifikasi balasan. Ada cewe yang nulis di komen ucapan gue itu. ” Satu, masih ingat saya tak? “, kata dia. Gue buka fotonya. Mencoba ingat-ingat, tapi gagal. Tapi namanya terdengar familiar. Gue tanya dong, dia siapa. Lalu dia bilang dia dulu pacarnya Sham. Ah gue pun langsung keinget satu cewe yang kemana-mana selalu berdua sama Sham. Cewe yang suka main bola juga. Komen berbalas komen. Ternyata mereka udah nikah. Waw asik. Baru gue bergembira, tiba tiba,

” 2012. Tapi sham sudah meninggal. Selepas menikah sebulan dia accident. ” Katanya.

Wait, what?? Tapi kan dia All-Sports Man, kata gue dalam hati.

Gue masih pusing karena fakta yang ngagetin itu. Dan timingnya ngga asik banget, baru sebulan nikah. Itu pasti aneh banget tuh rasanya. Gue nutup handphone sebentar. Merem. Dan berdoa dan baca Al-Fatihah dalam hati, untuk Sham dan keluarganya yang ditinggalkan.

Gue datang untuk silaturahmi. Tapi kita ngga pernah bisa milih takdir kan. Yang tersambung malah silaturahmi yang lain. Alhamdulillah. Dari sini gue bisa ngeliat sesuatu yang lain. Istrinya itu sosok yang membanggakan. Dia cerita, ketika Sham meninggal, hal pertama yang dia lakukan adalah keluar dari pekerjaannya, dan datang ke kampung mertuanya. Disana dan menemani mereka sampai mereka baik-baik aja.

” Gue ngga ngerti. Gimana kamu bisa nyembuhin orang, sedangkan kamu aja pasti lagi jatuh banget? ” gue bertanya.

Dia bilang lagi, kalau orang tua itu harus diutamakan. Mereka sampai ngga mau makan waktu itu. Adem dengernya. Sham, lo udah memilih orang yang baik. Dan untuk beberapa saat, kita ngobrol tentang kenangan-kenangan waktu di kampus. Dan di cerita persis seperti cerita gue diatas. Kalau Sham itu baik ke semua orang, sok deket, semua orang ditegor.

Gue perhatiin lagi facebook nya Sham. Dan memang isinya semua ucapan duka cita. Dan berulang-ulang ada tulisan dari istrinya yang bilang dia kangen. Heartbreaking banget bacanya. Ini sedikit diantaranya, beberapa udah gue translate ke bahasa Indonesia karena pakai slank

” Selamat ulang tahun yg ke 30 abang. Semoga abang sihat walafiat kt sana. Rindu sangat dengan abang ” , 13 September

” You’re just irreplaceable abg. Rindu…. Al fatihah. ” , 9 September

” Thank you for accepting all my flaws, abg. Just missing you way too much. You’re the only person that trust of who I am and always be my protector. Love u so much 😭 ‪#‎alfatihah‬ ‪#‎iamstrongbecauseofyou‬ ” , 12 Agustus

” Ingat abang melambaikan tangan pada saya dengan muka sedih waktu mau kembali ke KL di halte bis Larkin. Abang kaya ngga mau saya pergi. Tau tau udah 3 tahun. Masih rindu ” , 22 Juni

” Bang, uda lama saya ngga buka FB abang. You’ll always in my prayer, always  “,  22 Mei

” I really wish you’re here with me now. Al fatihah. Rindu sangat ” , 16 April

” Bang, keinget dulu selalu food hunting dengan abang. Masih inget juga abang bilang kita akan jadikan ini sebagai hobi. Trus foto petronas sebagai tanda kita udah pernah makan disini. Rindu ” , 11 April

Dan masih banyak lagi tulisan tulisan sang istri.

Semua yang hidup pasti akan mati. Semua cuma tentang timing aja. Dan tentang apa yang mau kita tinggalkan ketika kita pergi nanti. Kan?