Inspirasi, Personal

Delapan

Adi dewasa
bapake

Tulisan ini adalah surat buat bapake yang udah bobo. Mau coba cara ini untuk mengenang beliau dan menyalurkan apa yang gue rasa aja. Ngga ada maksud untuk berkomunikasi, karena dia udah bobo dan gue sadar sepenuhnya dia ngga bisa denger atau apapun. Anggap aja gue lagi iseng.

Delapan itu jumlah tahun setelah bapake pergi. Delapan itu juga dari dua puluh delapan November, yaitu hari ulang tahun beliau. Delapan juga selisih hari antara ulang tahun beliau dan ulang tahun gue. Yang selalu gue tandain dengan “Beda 1 minggu 1 hari”.

Gue pasti pernah cerita tentang apa yang bapake lakukan kalau dia ulang tahun. Atau apa yang dia lakukan dan ajarkan ke gue kalo gue ulang tahun. Karena cerita itu gue ceritain ke semua orang. Ke temen deket gue. Ke surat motivasi pendaftaran kampus gue. Ke orang random kalo gue lagi ngobrolin tentang perbuatan baik.

Bapake jauh sebelum hari ulang tahunnya, dia nabung di celengan. Celengan klasik plastik yang bentuk tabung dan warna warni. Celengan yang di warung rokok juga mungkin dijual. Itu pelajaran pertama dari konsep ulang tahun beliau ini: bentuknya, harganya itu ngga lebih penting daripada isinya dan niat dari apa yang akan dikerjakannya. Bapake nabung disitu hampir setiap hari. Seribu, dua ribu, kadang lima ribu, kadang sepuluh ribu.

Ketika harinya sudah datang. Celengannya itu kami buka bersama dengan sebilah pisau. Dipotong ditengahnya dan keluar lembar-lembaran didalamnya. Sudah penuh sekali ketika dibuka. Waktu itu gue berumur kira-kira 10 tahun. Uangnya diambil, lalu mobil dinyalakan dan kami pergi ke warung sembako. Satu kardus indomie, beberapa kilo beras, dan minyak goreng. Belanjaan itu ditaro dimobil, lalu kami berkendara lagi. Tempat tujuannya kali ini tidak sedekat warung sembako.

Udaranya dingin ketika gue turun dari mobil. Sebuah pesantren yatim piatu di daerah bogor rupanya. Bapake nyuruh gue bawain kardus indomie. Dari dulu gue udah merasa jagoan dan mencoba bawa lebih dari kardus indomie. Gagal sih. Barang nya diletakkan di kantor pengurus, lalu kami masuk ke masjid. Ambil air wudhu nya dari tempat penyimpanan air besar. Gue buka penutup airnya, lalu keluar air dengan deras. Gue wudhu sambil membatin, airnya dingin banget. Lalu kita sholat.

Selepas sholat, kami berempat, gue sika emak dan bapake, ngobrol sama pengurus pesantren. bla bla bla. Pokoknya ini sembako mau disumbangkan, dan bapake juga ngasih amplop. Baru ketika gue gede gue sadar itu isinya uang. Mungkin dari celengan, sisa belanja sembako. Mungkin juga ditambahkan sama bapake.

Sebelum naik ke mobil, bapake ngelus kepala gue, wajah berhadapan sama gue, dan ngomong sesuatu yang ngga akan gue lupa, dan insyallah akan selalu gue emban.

“Atu, kamu harus selalu ingat untuk membantu orang miskin dan anak yatim.”

Hal yang sama juga dilakukan ketika gue mau ulang tahun. Jadi gue punya celengan tabung plastik warna mencolok kaya bapake. Dan kadang beliau juga yang ngisi, belakangan baru gue ngerti kalo itu pancingan buat gue supaya gue ngisi. Ini pelajaran berikutnya dari beliau: paling asik untuk membuat orang lain melakukan sesuatu itu dengan mencontohkan.

Bapake I miss you. Disini lagi mau musim dingin. Suhunya mulai mulai nol derajat. Bapake pasti ga kuat kalo diajak kesini pas musim dingin. Bapake disini orang-orang mandiri semua, sama kaya yang diajarin bapake, supaya bisa berdiri sendiri.

Bapake aku kirim doa terus. Ngga serunya adalah bapake udah bobo ketika aku uda bisa sedikit motret, jadi foto bapake dikit. Bapake aku mulai jarang rambut diatasnya, mirip bapake.

Bapake nanti aku sambung lagi kapan-kapan.