Event, Idea, Inspirasi, Kepedulian, Teman, Ulasan

Bangga

277464_002
Kompas/Ingki Rinaldi

Bangga. Satu kata itu mewakili perasaan gue sama temen-temen gue di Jakarta. 1 Januari 2016 pagi ketika banyak orang pulang kerumah setelah malamnya berpesta kembang api, temen-temen gue ini turun ke jalan raya. Jalan raya yang dipenuhi sampah setelah pesta tadi malam. Yang paginya dipenuhi juga dengan petugas-petugas kebersihan. Temen-temen gue ini, membagikan paket sarapan kepada petugas kebersihan.

Kenapa petugas kebersihan? Gue ngga tau awal mula diskusi temen-temen gue di grup WhatsApp, tapi kalo menurut gue pribadi, karena petugas kebersihan itu adalah pahlawan juga. Membersihkan kotoran-kotoran dari orang lain, membuat yang kotor menjadi bersih sehingga enak dilihat. Ngomong-ngomong pahlawan, para supir bis dan polisi juga merupakan pahlawan hari ini, karena mereka tetap bekerja dikala kebanyakan orang libur dan berpesta. Pahlawan-pahlawan ini, rela meninggalkan keluarganya, anaknya, demi kita semua.

Oke balik lagi ke kegiatan ”Charity After Party”, nama kegiatan pagi tadi. Kegiatan ini merupakan contoh dan bukti, kalau melakukan sesuatu yang positif itu ngga sulit. Berawal dari obrolan-obrolan kecil. Sampai ada celetukan, ”Gimana kalau paginya tahun baru, kita melakukan sesuatu?”, lalu disahut, ”Bagus tuh. Tapi apa ya?”, dan dibalas lagi sampai idenya matang. Kalau sudah matang, disebarkan ke lingkaran lebih luar, kemudian lebih banyak lagi yang mau membantu. Sampai akhirnya terlaksana. Semua orang bisa berbuat susuatu yang baik. Ketika belum bisa berinisiasi, bisa ikut membantu yang sudah ada. Jika belum ide kegiatan yang baru, bisa mengulang yang lama.

poster

Emang kita perlu banget ya melakukan hal-hal ini? Emang kalo kita ngga ikutan bakti sosial apa-apa, kita jadi manusia yang ngga baik? Jawabannya tentu ngga. Itu kan hak masing-masing manusia untuk berbuat apa. Gue pribadi menilai, selama seseorang ngga berbuat jahat dan merugikan orang lain, berarti dia orang baik. Tapi kaya bonus aja, jika ada orang yang berbuat lebih dari itu. Yang memberi makan pada orang-orang yang kekurangan. Yang membantu seorang nenek menyebrang jalan. Yang memberikan tempat duduk pada ibu hamil. Yang meluangkan 2 jam di hari liburnya untuk mengajar matematika dasar pada anak-anak marjinal.

Gue pernah bilang kalimat ini di satu acara yang dibuat temen gue, ”Kenapa kita membantu? Karena kita mampu”. Gue kira ini lumayan benar. Kita mungkin ngga akan bisa membantu kalau kita ngga mampu. Ngga punya uang. Ngga punya waktu. Ngga punya pekerjaan. Ngga punya anggota badan yang sempurna. Memberi itu salah satu bentuk syukur yang paling keren. Memanfaatkan apa yang kita punya, untuk kebaikan orang lain.

Ah gue jadi kaya ceramah ya. Udah deh. Pokoknya gue cuma lagi seneng aja. Ada anak-anak muda yang mengawali tahun dengan kegiatan positif. Gue beruntung mereka itu temen gue. Gue jadi bisa terinspirasi dari kegiatan mereka.

Kalo mereka bisa, gue juga bisa. Mereka. Gue. Lo. Jadinya kita. Kita bisa.