Inspirasi, Kepedulian, Personal, Psikologi

Serakah Yang Baik

download
from northbrookpc.org

Pagi ini ada obrolan pendek sama temen gue yang sedikit menyentil gue dan bikin gue pengen nulis. Jadi gue uda tau kalo temen gue ini kerja sebagai dokter gigi, tapi gue baru tau dia kerja di puskesmas. Secara refleks, gue berterima kasih sama dia, “Makasih ya udah kerja di puskesmas”, terus dia bingung kenapa gue berterima kasih. Gue bilang, karena puskesmas kan menjangkau masyarakat bawah, jadi baik dan mulia. Trus dia bilang, “Iya deh, satu yang idealis”

Datanglah momen kontemplasi secara tiba-tiba. Gue bertanya sama diri gue sendiri. Emang gue idealis ya? Emang menyukai puskesmas karena dia menjangkau masyarakat bawah itu idealis ya? Kok temen gue ini bilang gue idealis ya? padahal kita uda lama ga ngobrol. Apa dia liat posting-posting Facebook gue lalu menyimpulkan? Kalo gue memang idealis, kenapa ya awalnya gue bisa sampai punya pemikiran seperti ini?

Gue sendiri percaya kontemplasi-kontemplasi seperti ini bagus buat diri kita. Gue sering punya momen kaya gini kalau lagi jalan kaki di hutan, dan gue merasa kaya gue berdiskusi sama diri gue yang lain di dalam hati. Hasil akhirnya, biasanya persetujuan tentang suatu hal, atau solusi baru yang gue anggap asik, atau bisa juga pertanyaan yang bisa jadi misi untuk menjawabnya.

Setelah momen itu, gue mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas dengan perlahan. Idealis itu definisi gue adalah kekeh dan teguh pada prinsip dan pendirian, terutama prinsip-prinsip yang ngga banyak dimilikin orang lain. Sepertinya buat banyak orang, kata idealis itu ngga terlalu positif, tapi buat gue sih itu positif, kalau hal-hal yang dia teguhkan itu sesuatu yang positif.

Mengacu pada definisi idealis gue diatas, gue pun setuju kalo gue orangnya idealis. Lalu dari mana sih awalnya? Kenapa gue suka sama sesuatu yang membantu masyarakat bawah? Gue ngga tau jawabannya, tapi dalam rangka menjawab sebutan idealis dari temen gue itu, gue harus memikirkan pertanyaan itu terus. Gue gali lagi ke dalam otak dan hati gue.

Kenapa gue suka puskesmas? Karena dia menjangkau masyarakat bawah

Kenapa gue suka kalo dia menjangkau masyarakat bawah? Karena selama ini masyarakat bawah kesulitan dalam masalah kesehatan, berkaitan dengan ekonomi

Kenapa gue mau masyarakat bawah ngga kesulitan dalam kesehatan?

Lalu gue pun dapet jawaban-jawaban enak yang bikin gue puas dan ngga menggali lagi.

Karena sehat itu baik. Karena sehat itu senang. Karena semua orang harusnya ngga kesulitan dalam kesehatan. “Karena gue mau semua orang sehat dan senang”, gue jawab itu ke temen gue.

Gue mungkin salah nih ya, tapi gue kira tuh semua orang mau hal itu juga. Mau temennya seneng, pacarnya bahagia, keluarganya sehat, dan mungkin juga tetangganya, ketua RT nya, penjual sayur di pasar langganannya, semua orang yang dia tau.

Lalu gue juga inget sama pertanyaan lain yang pernah ditanya sama temen gue yang lainnya, “kenapa sih lo suka membantu orang?”, kalo yang ini jawab nya bisa cepet banget dan refleks. Pertama karena gue juga suka kalo dibantu ketika mengalami kesulitan. Yang ini sih kayanya kodrat manusia ya. Kedua, karena gue mampu. Jadi kaya bentuk syukur gitu, dikasih otot yang bisa dipake ngangkat barang 30kilo, dan bisa di recharge dengan istirahat, jadi bantu ngangkat barang-barang berat. Dikasih penghasilan yang cukup untuk kebutuhan dasar dan ada sisanya, jadi sisanya dipakai sedikit untuk kebutuhan dasar saudara-saudara yang belum cukup kebutuhan dasarnya. Dan uda jelas kalau membantu orang itu dapet pahala.

Tapi ada alasan paling utama kalo gue membantu orang lain. Alasan yang kalau diurutkan dengan dua alasan tadi, akan jadi alasan nomor 0. Alasan yang bikin gue melakukannya lagi dan lagi.

Karena menolong orang yang memerlukan pertolongan itu bikin gue bahagia.

Sebenernya gue itu orangnya serakah, oportunis. Ketika ada kesempatan kerja tambahan, pasti gue hajar. Gue nyerobot dua kerjaan sebagai blogger di dua instansi, yaitu di kampus dan di lembaga pendidikan swedia sekaligus. Kalau ada undangan workshop gratis yang terbatas, pasti gue langsugn email untuk daftar RSVP.

Tapi di kamus gue, ada serakah yang baik. Sepeti menolong orang lain itu. Karena dia bikin gue seneng, gue lakukan lagi dan lagi. Egois juga sebenernya, karena gue melakukannya biar gue bahagia. Karena gue mau kedapatan pahalanya. Karena gue mau cita-cita perdamaian dunia gue tercapai.

Walaupun di dunia ada berbilyun manusia, tapi semuanya akan bermulai dari diri kita sendiri, kan?