Inspirasi, Personal, Psikologi

Nilai Dari Pertanyaan

dari www.lifeway.com
dari www.lifeway.com

Jadi kemarin gue menemukan suatu anomali sewaktu baru selesai di ajak ngobrol-ngobrol sama temen gue Bram. Dia ngajak ngobrol-ngobrol karena mau tanya jawab seputar survey perilaku pelanggan yang sedang dikerjakan dia buat kantornya, dan karena gue suka membantu-membantu dan partisipasi dalam hal yang mudah seperti ini, gue meng-iya-kan. Buat yang belum tau, gue orangnya memang suka brainstorming, atau diskusi dan mencari ide. Suka silaturahmi juga. Wah banyak juga kesukaan gue. Nah anomali setelah wawancara itu adalah: gue merasa kenapa yang tanya-tanya itu si Bram, tapi yang mendapat banyak jawaban dan pengetahuan itu gue sendiri. Kok bisa gitu?

Gue mengaitkan dengan rasa suka gue terhadap survey-survey online, kuesioner temen-temen mahasiswa, yes gue emang suka mengisi hal-hal kaya gitu. Selain karena itu bisa membantu temen gue, ternyata kalau gue liat-liat kedalam hati gue, gue emang suka aja melakukan itu. Sampai akhirnya gue ketemu satu kesimpulan yang bikin hati gue puas.

Gue suka semua daftar pertanyaan, karena itu bisa membuat gue mengenal diri gue sendiri lebih dalam.

Mengetahui diri lebih jauh

Gue bisa melihat lebih jauh tentang pribadi gue. Gue jadi tau ternyata gue lebih suka iklan yang kreatif daripada yang menyentuh. Gue lebih suka daging sapi daripada ayam. Tapi orang kan bisa aja bilang, “Loh, kita kan emang uda tau hal itu bahkan sebelum ditanya kan? Soalnya kan itu diri kita, bukan diri orang lain.” Yah tentu aja. Tapi banyak banget hal yang kita ngga sadar karena selalu melakukannya secara rutin. Misalnya kita waktu kecil hidup di indonesia dan makan nasi. Lalu dari SMA karena orangtua dinas di luar negeri yang makannya roti terus, kita jadi suka sama roti karena disana juga Cuma adanya roti. Tapi sebenarnya kita dulu makan nasi dan kita suka banget. Tapi karena ngga sadar dan ngga keingetan sama nasi, kita jadi mikir kalo kita suka sama roti lebih dari apapun. Bingung ga sih sama penjelasan gue? Semoga kebayang ya.

Nah lalu emang penting ya mengetahui diri kita lebih dalam? Apa gunanya kita tau kalo kita suka nasi lebih daripada roti? Menurut gue salah satu kegunaannya adalah self development, alias pengembangan diri. Tahap pertama untuk berkembang itu adalah tau siapa kita, apa kekurangan kita. Kalau pertanyaan tentang makanan favorit mungkin ngga terlalu bisa membantu. Tapi kalau pertanyaannya, ”Selama ini kita uda disiplin waktu apa belum?” dan kalau jawabannya belum, disitu kita bisa jadikan sumber informasi.

Itu juga makanya produk-produk bagus berusaha cukup keras dalam mengambil masukan-masukan tentang produk mereka dari penggunanya. Feedback.

Bertanya untuk menemukan

Pertanyaan itu sendiri buat gue sifatnya baik. Misalnya, kadang-kadang gue bertanya sama diri gue sendiri ketika lagi jalan kaki di hutan. Gue itu udah kontribusi baik belum ya untuk komunitas-komunitas yang gue terlibat? Waktu bebas gue selama ini gue pake untuk apa aja ya? Lebih banyak orang yang sebel apa yang suka sama gue ya, dari semua temen gue? Dan kenapa bisa gitu? Wah banyak deh pertanyaan-pertanyaan di kepala gue. Ngga semua memang bisa dan sempat terjawab, tapi dalam tulisan ini, gue cuma menekankan pertanyaannya. Memiliki pertanyaan doang aja itu uda baik.

Kita juga pernah denger tentang ”anak sekolah diharapkan dapat kritis dan banyak bertanya”, dan juga dalam sains, banyak hal ditemukan sebagai buah dari beberapa pertanyaan. Kaya Newton dan apelnya. Untung aja kan ada apel jatuh trus dia bertanya kenapa apel itu jatuh. Makanya terkenal format 5W1H, what who when where why and how. Apa siapa kapan dimana kenapa dan bagaimana.

Bertanya untuk lebih baik

Dalam penggunaan media sosial sekarang ini berpikir bertanya juga baik banget. Misalnya tentang betapa mudahnya orang membagi-ulang artikel-artikel yang belum jelas kebenarannya. Kalau aja kita bisa tanya dulu, ”eh ini aneh banget isinya, emang bener kaya gini ya?”, kita bisa aja jadi mencari tau kebenarannya sebelum membagi-ulang. Atau ketika yang dibagi-ulang adalah foto-foto korban bom di Palestina, kalau kita coba bertanya lebih dulu ke diri kita, ”Ini pantes ga sih gue bagi-ulang? Efeknya gimana ya kalau orang-orang liat foto seram gini?” Wah banyak deh pertanyaan-pertanyaan yang bisa bikin dunia lebih indah dan tentram dari konten-konten kurang baik.

Jadi sebagai kesimpulan, gue kira banyak bertanya itu baik. Kepada diri sendiri, tentang apa yang akan dilakukan, atau apa yang sudah dilakukan. Ditanya orang lain dalam bentuk diskusi atau bahkan kuesioner juga asik.

Karena seperti kata astronom Carl Sagan, “But every question is a cry to understand the world. There is no such thing as a dumb question”. Setiap pertanyaan itu adalah usaha untuk mengerti dunia. Tidak ada yang namanya pertanyaan bodoh.

/SCL