Event, Inspirasi, Kepedulian, Personal, Psikologi, Tidak ada kategori

Pertarungan Seimbang dan Tanggung Jawab dalam Teknologi

download

Gue selalu tertarik dengan fair battle. Pertarungan seimbang selalu lebih gue nikmati daripada yang ngga seimbang. Misalnya Barcelona lawan Real Madrid, atau Bayern Munchen melawan Juventus kemarin yang sampai menit terakhir juga serunya kebangetan. Lebih enak nonton yang seimbang kaya Songoku vs Bezita daripada yang timpang, misalnya Songoku vs Videl. Bukan cuma nonton, kalau main pun, gue berusaha untuk seimbang. Kalo pas lagi main futsal gue merasa ga imbang, gue biasanya pindah.

Pemilu presiden Indonesia 2014 itu fair baru tuh. Dua jagoan, sama kuatnya, pemberitaan walaupun waktu itu bikin kita jadi ga temenan sama orang yang beda pendapat, tapi pemberitaannya sama kuat. Akhirnya enak juga alhamdulillah.

Burung biru

Insiden kemarin tentang demonstrasi supir-supir taksi konvensional terhadap taksi dan angkutan online juga bikin miris. Ngga seimbang dan ngga adil. Bukan tentang kekerasannya, tapi tentang dampak sosial bagi pengamat dan penonton setia berita-berita Jakarta ini. Kekerasan emang udah sejak dulu ngga keren dan ngga baik. Tapi demonstrasi dengan kekerasan uda bukan hal baru, dan lagi sisi satu lagi yaitu sisi angkutan online (dalam hal ini, si ojek jaket hijau) juga melakukan kekerasan balik. Tapi yang gue mau highlight adalah perilaku orang-orang terhadap insiden ini.

Sebelumnya gue mau jelasin urutan logikanya dulu,

  1. Supir-supir taksi konvensional demonstrasi menentang taksi online. Supir supir ini bukan tidak mewakili perusahaannya, melainkan hanya sebegian dari supir-supir yang vokal terhadap taksi online.
  2. Sebelumnya memang diketahui kebijakan perusahaan taksi kurang menguntungkan supir taksi karena adanya persaingan taksi online. Misalnya sistem setoran harian. Oh ngomong-ngomong burung biru tidak menggunakan sistem setoran, melainkan persenan. Taksi Si Putih memakai sistem setoran.
  3. Para pendemo ini melakukan sweeping terhadap supir lain yang tidak ikut demo. Ini salah banget memang.
  4. Terjadi kekerasan terhadap sesama supir lain yang tidak mau ikut demonstrasi. Kekerasan juga dilakukan terhadap target demonstrasi mereka yaitu pelaku taksi dan ojek online.
  5. Karena temannya dari ojek online di pukul, para abang ojek online juga melawan dan melakukan kekerasan balik ke supir-supir pendemo

Lalu semua orang jadi benci sama taksi konvensional. Ya, sama taksinya. Sama perusahaannya, sama supir-supir taksinya yang sebenarnya lebih banyak yang ngga ikut demonstrasi dan ngga ikut melakukan kekerasan. Muncul pula tagar #percumaGratis, menganggap kebijakan perusahaan burung biru memberlakukan tarif gratis selama sehari, itu sia-sia karena nama sudah tercoreng.

download2

Yang salah dimana kira-kira? Menurut gue salahnya itu di kita. Yang main asal tembak aja, biar ada yang salah. Oke mungkin kebijakan perusahaannya ngga keren, tapi semua perusahaan juga punya kebijakan yang ngga sempurna. Burung biru juga punya kebijakan ngadain taksi bagi orang dengan disabilitas lho, temen-temen tau ga?

Dampak nya apa? Nama baik yang uda dibangun sejak lama, runtuh begitu saja. Runtuh bukan hanya karena sebagian supir-supirnya yang anarkis, tapi karena kita juga yang membantu penyebaran ajakan untuk meruntuhkan nama baik itu. Padahal kita bisa aja melihatnya berbeda. Dampak lain yang ngga kalah besarnya adalah di supir-supir taksi konvensional lain yang jadi ngga dapet penumpang karena semua orang sekarang benci sama perusahaan mereka. Padahal ngga dikit dari mereka yang baik dan ngga ikut demo.

Lalu ketika si perusahaan mau mencoba tanggung jawab dengan memberikan taksi gratis seharian, kita semua skeptis dan menikmati hujatan kepada mereka, dan membuat, meramaikan tagar #percumaGratis. Gue udah coba membayangkan kalau gue jadi kepala perusahaan itu, gue juga akan melakukan hal yang sama sih. Soalnya bukan gue secara langsung yang melakukan kekerasan itu, tapi karena supir-supir itu kerja sama gue, jadi gue akan coba kasih kompensasi ke pengguna.

Gue merasa jadi orang aneh karena melihat sisi baik dari kebijakan itu, berbanding orang-orang yang masih terus menghujat.

Gue tipe orang yang selalu ngobrol sama pak supir taksi ketika naik taksi, dan sejauh ini, gue ketemu banyak supir ramah yang bikin kesan positif buat gue. Malah ada satu supir burung biru yang ketika gue pulang kerja dan lagi lumayan depresi, dia ngucapin salam ”Semoga istirahat dan malamnya menyenangkan ya mas. Asalamualaikum” dengan tulus banget dan bikin sedih gue hilang, dan bikin gue harus telpon customer service burung biru buat nyampein apresiasi gue. Kesan itu pastinya ngga akan hilang karena insiden kemarin.

Desakan migrasi teknologi dan tanggung jawab kita

Banyak banget orang yang bilang, ”Makanya, taksi konvensional migrasi dong ke teknologi baru.”, atau ”Itu tuh akibatnya kalau ga update teknologi, akan kalah saing dan marah-marah”. Kita semua punya komen-komen kaya gitu menghiasi dinding Facebook kita.

Tapi emang ngomong kaya gitu akan mengubah sesuatu ya?

Yang paling bisa ngubah sesuatu ya aksi langsung. Daripada menghujat kegelapan, jauh lebih baik jika kita menyalakan lilin. Kita bisa membuat masalah ini lebih indah dengan berbagi pengetahuan, wawasan teknologi kepada mereka yang belum ngerti tentang kegunaan dan manfaatnya.

Nyokap gue waktu awal jam internet dulu punya kebiasaan aneh soal komputer. Tiap kali buka komputer dan mau nulis email, dia mules. Karena gugup. Yes, ini terjadi karena komputer itu buat beliau sesuatu yang baru, ngga biasa, terlihat rumit, dan banyak orang akan takut salah maininnya. Tapi apa kemudian gue ngetawain dan mencemooh beliau, maksa-maksa supaya dia ngga takut pakenya?

Gue justru harus ngajarin beliau supaya beliau terbiasa, mengerti dan menyukai teknologi.

Karena emang ngga semua orang jago komputer dan gadget kaya anak-anak muda sekarang. Ngga semua mudah menerima sesuatu yang baru dan canggih.

Oke, jadi sosialisasi nih ya. Tapi ini tugas siapa?

download

Sebenernya ini tugas nya pemerintah, pelaku teknologi baru tersebut, dan juga harus ada inisiasi dari perusahaan pemain lama yang punya semangat pembaruan. Pemerintah kalo rajin baca-baca berita, akan tau kalo arah teknologi transportasi akan kesana, kemudian mencari efek negatifnya apa, dan mencegah dengan mengadakan sosialisasi, biar masyarakat ngga kaget. Pelaku teknologi baru, misalnya si ojek jaket ijo, lebih peka terhadap dampak yang akan terjadi bagi si ojek konvensional. Uda siap dengan ngga semua tukang ojek mau gabung, dan melakukan sesuatu biar ga konflik. Perusahaan pemain lama juga, kan ada divisi riset dan pengembangan. Divisi itu harusnya senantiasa melakukan pembaruan-pembaruan. Ibarat kaya Son Goku, bilang ke anak-anaknya, ”nak, beberapa saat lagi, akan ada musuh baru yang jauh lebih kuat dari musuh bapak sebelumnya. Bapak uda ga akan kuat melawan dia. Oleh karena itu kamuu dari sekarang harus berlatih. Oya, kalau kalah juga jangan sedih.”

Tapi itu plan A nya, skenario paling baik. Skenario paling buruk ya mungkin mirip sama yang terjadi sekarang. Pemerintah ngga tau harus menguatkan taksi online secara hukum apa ngga. Pelaku teknologi buru-buru implementasi dan jualan, tanpa mikirin dampak sosial. Perusahaan pemain lama anteng aja kaya ga terjadi apa-apa, padahal supir-supir mereka tertekan karena adanya pesaing baru. Nah kalo uda gini, gimana dong?

Ngga tau diajarin bokap atau ngambil dari anime-anime jepang yang gue tonton, gue punya filosofi ini: kalau gada orang lain yang mau melakukan, ayo kita lakukan sendiri. Kata istri gue, filosofi gue itu mirip konsep Fardu Kifayah di Islam. Ya itu tadi gue uda bilang, seperti kita ngajarin orang tua kita tentang teknologi, kita juga bisa pelan-pelan ajarin masyarakat soal teknologi dan dampak baiknya.

Banyak yang bisa dilakukan, dari yang kecil seperti temenan sama abang  ojek pangkalan, pedekate, terus pelan-pelan sisipin materi tentang teknologi bisa membawa berkah. Atau sampe yang taraf pemerintah, misalnya bikin workshop tentang teknologi ke masyarakat awam. Kita bisa juga bantu sebar berita-berita positif misalnya tentang abang ojek online dan ojek pangkalan bersahabat, ngopi bareng.

Penggunaan teknologi yang positif

Jadi ilmu yang kita punya, kebisaan yang kita punya tentang teknologi, itu dibagi. Manfaatin teknologi untuk sesuatu yang positif. Misalnya pake Whatsapp untuk diskusi sama temen diluar negeri, tentang solusi atas masalah suatu daerah. Yang udah dilakukan beberapa anak muda kreatif nih, bikin aplikasi di bidang pertanian untuk perbaikan ekonomi petani.

download4

Penggunaan sosial media juga ngga kalah krusial. Eh salah, krusial banget malah menurut gue. Facebook yang bisa dipake untuk komunikasiin sesuatu yang baik, malah dipake untuk sebar-sebar kebencian. Cemooh sana sini. Main Blame Game. Berbagi berita yang tidak benar, yang sebenarnya bisa kita cek dulu kebenarannya kalau kita pengguna internet yang baik.

Yah jadi, kita semua berbuat salah dan ngga sempurna. Tapi beberapa orang marah dan tidak berbuat apa-apa, beberapa yang lain berpikir keras memperbaikinya.

/SCL