Inspirasi, Personal, Psikologi, Teman

Momen Pengubah Hidup

Setiap orang pasti punya momen pengubah hidup. Peristiwa penting dimana bukan hanya saat itu menjadi penting, tapi juga perasaan yang timbul dan juga efek perubahan setelahnya. Khususnya perubahan positif. Peristiwa penting seperti wisuda, pernikahan memang sudah pasti menjadi momen bersejarah. Tapi gue disini mau berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih sederhana, tapi efeknya besar.

Notji

Gue mau cerita tentang gue dan Notji. Notji itu anjing dari temen gue Rona. Sebelumnya gue kasih tau dulu, gue itu sejak kecil takut sama anjing. Selain karena anjing itu diharamkan di Islam, tapi lingkungan tempat gue dibesarkan kayanya memang membentuk impresi kalau anjing itu serem. Kalau ngeliat kita, dia akan selalu ngejar, kalau gonggong berarti dia marah.

Bukan Noci, tapi sejenis
Bukan Noci, tapi sejenis

Gue juga ngga gitu suka sama binatang lain. Sempet sih punya binatang peliharaan waktu gue kecil. Ikan, kucing, kelinci, silih berganti. Biasanya kalau bukan karena salah satu mati, ya ngga pulang lagi. Tapi gue dulu ngga peduli-peduli banget.

Waktu gue pertama ketemu Notji di rumah Rona, gue juga takut. Gue sempet mikir, ”yah, ngga lagi deh main kesini”. Notji itu bentuknya kecil, bulunya berwarna putih semua. Walaupun kecil, kita kan tau ya kalau anjing kecil itu lebih agresif, lebih gragas, lebih gonggong. Makin males lah gue. Gue selalu mohon sama si Rona agar Notji dikandangin aja pas gue lagi main.

Sampai suatu ketika gue mulai menyadari pelan-pelan. Dan ini emang kaya ada filosofinya sih. Jadi menurut gue itu kalau kita mau empati dan belajar tentang sesuatu itu, kita harus berhenti (dari kegiatan sok sibuk kita) dan memperhatikan dengan perlahan, dengan  seksama. Gue jadi sadar kalau Notji gonggong itu bukan karena dia marah tapi lebih ke memanggil dengan semangat. Kalau dia lari sana sini itu bukan mau ngejar gue tapi mau ngajak main. Gue pun pelan-pelan jadi sok-sok ngelus kepalanya. Kalau mulutnya udah dideketin ke gue, gue tarik tangan. Takut digigit. Padahal dia bukan mau gigit, tapi mau elus-elus tangan gue ke rambutnya. Atau dia mau jilat-jilat. Gue seringnya berhasil menghindar. Tapi ketika gagal pun, gue selalu nyuci dengan tanah. Jadi bisa solat lagi.

Noci pun mulai ngga dikandangin kalo gue lagi datang dan gue mulai terbiasa. Malah kadang kalo dia gonggong-gonggong, gue jawab ”Iya ntar lagi ya, kan tadi udah mainnya”. Sok ngerti banget emang.

Puncaknya itu ketika kami jalan ke Ancol. Di pinggiran pantai Ancol yang luas itu Rona  ngasih tali kekang Notji ke gue. Dan entah kenapa pas talinya di gue, Notji langsung lari gitu. Karena gue ngga mau leher doi ketarik karena talinya masih di gue, gue juga terpaksa ikut lari. Jadilah kami berlarian berdua di pinggir pantai itu. Si kecil putih ini larinya ngga pelan ternyata. Gue jadi harus lari kenceng untuk ngimbangin. Yang paling keren dari momen itu: ekspresi muka Notji yang bahagia banget. Udah sampe ujung, kami ke ujung satu nya lagi. Bolak balik aja. Saat itu juga gue SNAP! Tetiba sadar kalau anjing juga kaya kita. Kaya anak-anak kecil bocah yang maunya main dan main terus.

Pemikiran baru gue ini ngga berenti disitu aja. Malam itu setelah gue pulang kerumah, gue masih membiarkan pemikiran gue ini jadi bola salju. Gue jadi berkesimpulan kalau anjing lain juga kaya Notji . Mungkin semua binatang itu kaya Noci. Mungkin semua mahluk hidup, termasuk tanaman juga gitu. Yang pasti sejak saat itu banyak hal berubah perlahan. Gue jadi lebih sayang sama binatang, gue jadi suka sama semut, jadi ga tega lewat dan jalan deket kucing yang lagi tidur, gue jadi minta maaf abis bunuh nyamuk (lagian darah gue diisep), gue jadi suka sok-sokan ngobrol sama binatang. Bahkan sama pohon. Gue juga sempet mikir mau jadi vegetarian karena ga mau nyakitin sapi dan ayam dan kambing dan ikan.

Kuda dan Fårö

Weekend kemarin terjadi sekali lagi. Gue ikut digital ambassador gatheringnya StudyInSweden di Gotland, suatu kota kecil yang jadi tujuan wisata terkenal di Swedia. Ada satu aktifitas di hari kedua yaitu berkuda. Kami diajarin naik kuda, dikenalin sama kudanya, lalu naik kuda keliling desa. Lewat hutan, berjalan pelan dan kadang sedikit berlari. Nikmat. Sampai ujung hutan lalu ketemu pantai. Rupanya kuda juga sama kaya Notji, ngeliat pantai yang pasir putih halus dan pantainya panjang, mereka jadi pengen lari. Sebenernya gue pengen banget membiarkan mereka lari dengan bebas. Tapi karena kalau semua kuda lari, akan berbahaya buat kami, jadi terpaksa kami tarik tali kekangnya dan melarang mereka berlari. Akhirnya kami jalan kembali ke hutan.

Kuda Iceland di Fårö
Kuda Iceland di Fårö

Sedih tapi ngga lama. Karena di tempat tujuan kami, yaitu suatu ladang peternakan luas yang banyak makanan kuda, kami turun dan melepaskan sadelnya. Kemudian para kuda juga berlari dengan bebas dan riang. Seneng banget gue liatnya. Kaya momen sama Notji lagi. Jadi teori gue tentang semua binatang itu suka bermain itu lumayan terbukti.

Malam itu juga gue jadi ngga banyak ngomong. Tapi senyum. Karena bisa dekat sama alam. Sama binatang. Melihat mereka main dan makan. Sok-sok coba ngomong sama mereka dan diketawain temen-temen gue.

Fårö, desa yang kami singgahi untuk malam itu, adalah desa kecil yang indah. Lampunya sedikit, tapi justru itu yang membuat bintang di langit bersinar terang. Rasanya semua bagian langit dipenuhi bintang malam itu.

Mungkin dunia itu lebih indah daripada yang kita lihat di berita-berita dan sosial media ya.

langit penuh bintang
langit penuh bintang di Fårö