Event, Inspirasi, Kepedulian, Psikologi

Kebangkitan Nasional dengan Filosofi Swedia

Artikel ini saya tulis untuk Perhimpunan Pelajar Indonesia di Swedia (PPI Swedia) dan di pos ulang di blog ini.

download3.jpg
bendera indonesia. dari karlitanatashaaini.wordpress.com

Semua hal itu bisa kita jadikan guru, secara sengaja maupun tanpa disadari. Baru kemarin kemarin saya bercuap-cuap di Radio PPI Dunia mengenai hal ini. Bahwa kejadian yang kita lihat, suara yang kita dengar, hal yang kita baca, rasa yang ada, bisa mengajarkan suatu hal baik pada kita. Walaupun dalam skala yang tidak besar, tapi mungkin saja menjadi titik balik yang penting, untuk diri kita pribadi, dan bisa juga untuk kelompok yang lebih besar. Kata kuncinya adalah, jika kita memperhatikan. Menelaah, bertanya kenapa, mencerna hingga semua yang masuk, akan diambil sari-sari baiknya dan dibuang yang tidak baiknya. Bukan rocket science, karena kita sudah memiliki konsep itu didalam tubuh kita. Belajar dan hidup di Swedia juga memberikan kita banyak masukan yang baik.

Saya bukan ingin mencontoh nasionalisme orang Swedia, melainkan melihat hal yang lebih sederhana tapi dampaknya bisa besar.

Pelajar Indonesia yang belajar di Swedia sudah tidak asing dengan istilah lagom. Sifat dan budaya orang Swedia yang artinya ”tidak kurang dan tidak lebih”, jumlah yang tepat. Penggunaan sifat ini dalam kehidupan sehari-hari misalnya, jika makan, tidak makan terlalu banyak, dan tidak terlalu sedikit. Jika bekerja, tidak melebihi jam kerja dan melakukan hobi diluar jam tersebut. Teman-teman pelajar Indonesia di Swedia juga pasti memperhatikan rumah di Swedia tidak pernah ada yang terlalu besar. Bahkan tidak terlihat berbeda satu sama lain. Tidak terlihat mewah. Di Swedia sulit sekali membedakan status ekonomi seseorang berdasarkan penampilannya, seperti juga melihat rumahnya. Terlihat sederhana. Ini juga berhubungan kepada filosofi kedua yang saya ingin sampaikan, sederhananya Swedish Design.

download3.jpg
rumah swedia. dari trekearth.com

Beberapa teman saya yang bergelut dan meminati desain, seringkali mengingatkan saya untuk memperhatikan Swedish Design. Saya juga meminati desain, tapi belum mengerti apa kelebihan dari Swedish Design dibandingkan dengan aliran desain yang lain. Tapi kembali ke kata ”sederhana” lagi, ternyata Swedish Design itu ”menyelesaikan masalah dengan sederhana”. Dalam desain grafis, poster-poster dibuat sederhana tapi tetap unik dan menyampaikan pesan. Dalam desain interior, punggawa dunia asal Swedia yaitu IKEA, membuat perabot rumah yang sederhana, nyaman, namun tetap enak sekali dilihat. Begitu juga dalam penyelesaian masalah, selalu diusahakan agar solusi yang diciptakan sesederhana mungkin.

Kebangkitan nasional itu tidak bisa dilakukan sendiri. Namanya juga nasional, jadi skalanya lebih besar dan harus dilakukan bersama-sama. Mungkin bisa dimulai dari diri sendiri atau dipelajari dalam kelompok kecil, tapi pada akhirnya harus dibagi kepada orang lain. Pada hakikatnya hal yang baik itu akan menjadi lebih bermanfaat jika dibagikan, terutama pada orang yang memerlukan. Pelajar Indonesia di Swedia mungkin belajar banyak dari universitas di Swedia ataupun secara pengalaman hidup, tapi akan lebih sempurna jika ilmu dan pengalaman itu dibawa pulang kerumah dan dibagikan dengan masyarakat indonesia lain.

Kebangkitan nasional itu rasa bersama. Semangat di satu dua orang, dibuat untuk menyemangati seratus dua ratus orang lainnya. Seperti lilin yang menyalakan lilin-lilin lain.

Penggunaan dua filsuf Swedia itu pun bisa banyak sekali di Indonesia. Bayangkan jika sifat lagom itu kita bisa tularkan ke teman-teman di Indonesia, generasi penerus pemimpin Indonesia akan punya sifat sederhana. Akan berkurang sekali pejabat yang memamerkan kekayaan. Tidak banyak lagi pemimpin yang mengambil uang diluar dari apa yang sudah menjadi haknya. Tidak banyak lagi penumpukan kekayaan, yang ada pembagian ke mereka yang membutuhkan. Karena lagom, tidak banyak dan tidak sedikit. Swedish Design pun bisa diterapkan di kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan konsep proses yang sederhana, negara kita bisa memangkas banyak proses administrasi-administrasi yang ada di pemerintahan, misalnya pembuatan KTP, mengurus akta kelahiran, bahkan mungkin sistem satu nomor KTP untuk semua proses pembayaran administrasi (rumah sakit, sekolah, dan lain lain) dan penggajian, seperti yang sudah diterapkan di Swedia.

Swedia hanya satu dari banyak contoh yang bisa kita ambil. Pelajar Indonesia saat ini tersebar di penjuru dunia. Jika kebangkitan nasional bisa kita rasakan, aplikasikan bersama, maka kebangkitan Indonesia juga tidak akan lama lagi. Atau dalam bahasa saya, raksasa tertidur bernama Indonesia, sebentar lagi akan terbangun dan berdiri tegak.

Kamu mau melakukan apa untuk Indonesia?