Inspirasi, Personal

5A

85.jpg
Bukan 5A kami, tapi desainnya bagus ya. Oleh Natalka Dmitrova

Beberapa minggu setelah 19 Oktober 2007, Saya memutuskan untuk membuat tulisan rutin setiap tanggal tersebut tiap tahunnya. Memperingati wafatnya ayah Saya. Tahun ini tidak terasa sudah 9 tahun beliau pergi. Banyak sekali yang sudah terjadi sejak 9 tahun lalu. Saking banyaknya, Saya khawatir informasinya akan menutupi, menimpa cetak ingatan Saya tentang beliau. Tahun ini Saya akan menulis tentang kediaman kecil kami di Rawajati, Kalibata. Kediaman petakan berlabel 5A.

Saat itu saya kelas 5 SD, jadi sekitar tahun 1997. Oh, seandainya saya tahu kalau hitungan mundur 10 tahun umur beliau sudah berjalan sejak tahun itu.

Rumah petakan itu terdiri dari tiga petak. 5A hingga 5C. Tidak lebih dari 30 meter dari pintu rumah ke arah depan, sudah rel kereta. Rel dimana Saya sering bermain bersama teman-teman. Lucu juga, kalau dilihat dari sudut pandang sudah dewasa sekarang ini, bahaya sekali bermain di rel kereta. Kami meletakkan koin di rel dan melihatnya terlindas roda kereta dan menjadikannya pipih sekali. Eksperimen ala anak-anak.

Rumah petak 5A kami luasnya sekitar 30-35 meter saja. Saya tidak terlalu yakin, karena saat itu terlihat agak luas bagi saya. Pasti karena saya masih kecil sekali (sekarang juga tidak terlalu besar badannya). Dari pintu pagar, terasnya hanya muat untuk memarkir satu motor tanpa sisa ruang untuk kursi di teras. Jika membuka pintu rumah, ruang tamu dipenuhi meja dan peralatan kantor Papa. Komputer dengan meja khususnya. Meja kayu lain dengan bertumpuk-tumpuk kertas. Beliau mencari nafkah dengan tulisan-tulisan, jadi ya, wajar saja.

Hanya ada satu kamar dan letaknya dibagian tengah, setelah ruang tamu. Didalamnya ada satu lemari buku yang besar dan kayunya berwarna putih kecoklatan. Rongga-rongga lemarinya beralas kaca, untuk menyangga buku-buku yang sudah memenuhinya. Dibelakang lemari itu lah kasur kami diletakkan. Walaupun kecil, ruangan itu ber-AC sehingga Saya ingat kalau Saya suka berada disana.

Nuansa rumah itu berwarna biru. Entah cat dindingnya yang biru, atau karena tidak terlalu banyak cahaya matahari yang masuk. Sumber cahaya dari luarnya hanya dari jendela di ruang tamu, dan loteng diatas dapur. Dapur adalah area berikutnya setelah kamar. Kami menggunakan kompor kecil yang menggunakan tabung gas portable sebagai bahan bakarnya.

Area favorit Saya berikutnya adalah di loteng. Ukurannya sekitar 4x4m. Kami menjemur pakaian disini. Saya suka diloteng, karena terang dan letaknya yang lebih tinggi sehingga bisa melihat lebih banyak hal. Kereta yang lewat maupun balkon tetangga yang ada sangkar burungnya.

Kopi, Catur dan Kini

”Tu, pesanin Papa kopi encer”, katanya menyuruh Saya di banyak pagi Saya, ketika dia sedang ada dirumah dan didepan komputernya. Tempat memesan yang beliau maksud adalah warteg disebelah rumah kami. Ketika Saya pikir kala dewasa ini, kenapa tidak bikin sendiri? Toh si Ibu warteg itu bikinnya kopi sachet juga. Mungkin beliau ingin mudah, atau beliau ingin Ibu warteg dapat keuntungan? Yang pasti saat itu Saya tidak mengerti banyak dan melaksanakan saja. Oh, Saya juga tidak pernah absen untuk memesan es teh manis ketika memesan kopi untuk Papa.

Salah satu pekerja Papa adalah keluarga jauh dari Ibu saya. Saya memanggilnya Om Uten. Beliau juga sudah meninggalkan kami, sedikit lebih cepat daripada Papa. Pada ketika itu, seringkali di pagi hari, Om Uten datang untuk bertemu dengan Papa dan memastikan sesuatu tentang pengiriman tabloid. Kadang ia langsung pergi, kadang ia menunggu. Sambil menunggu, Om Uten dengan dialek bahasa Indonesianya yang sedikit unik (karena beliau berasal dari Palu, Sulawesi Tengah, kampung Ibu saya) mengajak Saya berbicara atau bermain catur. Yang awalnya tidak mengerti, Saya semakin tertarik dari hari ke hari. Banyak sekali kemungkinan jalannya, dan kita beradu strategi, pikir Saya kala itu. Saya tidak pernah menang kecuali ketika Om Uten mengalah untuk menyenangkan hati Saya.

Kami pindah meninggalkan 5A setahun kemudian karena alasan tertentu. Pada tahun 2011, ketika Papa sudah pergi, kami kembali lagi ke Kalibata. Bukan lagi 5A. Alhamdulillah sudah sesuatu yang lebih baik. Oh tapi, luas rumahnya juga tetap sekitaran 30 meter-an. Tapi kini orangnya lebih sedikit. Berkurang satu orang, tapi terasa seperti setengah bagian yang hilang. Semua yang hidup pasti akan mati suatu hari nanti.

Sesekali Saya melewati 5A yang masih ada disana. Ukuran yang sama, hanya saja terlihat jauh lebih kecil. Mungkin karena Saya sudah bertambah beberapa centimeter ke atas dan ke samping. Wartegnya sudah berganti dengan warung umum yang menjual peralatan sehari-hari. Sesekali juga saya berhenti untuk mengingat.

Rindu.