Film, Ulasan

Ulasan Film: Eye in the Sky

1
poster Eye in the Sky. imdb

Satu kalimat yang menggambarkan film ini adalah: ide sederhana yang menegangkan sepanjang durasi. Mengambil perhatian dari awal hingga akhir film, konflik psikologi mewarnai adegan-adegan di film perang ini. Selesai nonton, gue pun sampai pada kepuasan yang paling sip kalau nonton film: ekspektasi minimal, hasil maksimal. Review ini aman dari spoiler.

Jalan Cerita

Eye in the Sky genre-nya perang dan action. Sebelum gue memilih untuk nonton film ini, gue mengira ini akan jadi kaya Hurt Locker atau Zero Dark Thirty. Tapi ternyata action-nya justru lebih sedikit di film ini. Eye in the Sky menceritakan tentara gabungan Amerika dan sekutu yang mengincar komplotan teroris di Kenya, Afrika. Pengejarannya menggunakan pesawat tanpa awak, atau drone. Sebuah rumah sederhana di kota kecil di Kenya, menjadi tempat bertemu para teroris. Sebuah keluarga kecil yang tidak ada kaitan dengan terorisme tinggal di lingkungan rumah tersebut. Di markas pengendali, kolonel Katherine Powell (diperankan oleh Helen Mirren, main juga di RED dan RED2 bareng Bruce Willis) memimpin pemburuan teroris ini. Disaksikan secara langsung oleh atasannya, letnan jendral Frank Benson (Alan Rickman, Profesor Snape di Harry Potter) dan jajaran menteri, bahkan perdana menteri. Proses perburuan ternyata tidak berjalan semudah yang dikira dan menimbulkan banyak pertimbangan.

Yang mungkin ngga disukai semua orang yang nonton, terutama orang Indonesia, adalah terorisnya pake atribut muslim. Yang cewe berjilbab. Penilaian di awal-awal film tuh, ”Ah dasar film Amerika, nge-frame muslim sebagai teroris mulu”, tapi ternyata ngga gitu terus kok. Untungnya gue bukan tipe penonton yang cepet sensi. Di akhirnya malah ada twist sedikit.

4.jpg
dari imdb
3.jpg
Barhkad Abdi. imdb

Buat lo yang pengen film tembak-tembakan sangar, mungkin ngga begitu cocok nonton film ini. Tapi kalau suka film action yang ada psikologi nya, pasti suka Eye in the Sky. Kalau nontonnya serius, emosi bisa kebawa dan ngeremes-remes baju, buku, bahkan tangan pacar. Film ini juga sukses bikin ninja pada motong bawang disekitar gue, walaupun cuma sesaat.

Aktor dan akting

Sejujurnya gue tertarik nonton film ini bukan hanya karena rating di IMDB yang tinggi (7.3), tapi karena posternya keren. Ya memang, gue mengakui kadang gue melihat sesuatu dari luarnya dulu. Eye in the Sky ngga begitu punya aktor yang super terkenal macam Maria Oza-, err, maksud gue Angelina Jolie, Tom Cruise atau opa Bruce Willis. Kita bilang papan tengah lah ya. Bukannya ngga terkenal sama sekali kok. Helen Mirren main bareng opa Bruce Willis di RED dan RED2. Alan Rickman juga uda terkenal sebagai Profesor Snape di Harry Potter. Sedangkan Aaron Paul (bermain sebagai pilot bernama Steve Watts) juga udah main di Need for Speed (2014), Breaking Bad (film seri), Triple 9, dan Central Intelligence bareng Dwayne Johnson.

Secara umum aktor-aktor ini bagus mainnya. Dua yang paling bagus itu Hellen Mirren dan Aaron Paul. Lo pasti setuju deh. Hellen sih pemain utama jadi dapet highlight, tapi Aaron Paul kece juga, Man. Ada juga abang Barkhad Abdi yang mainnya ga kalah bagus. Si abang ini mah udah teruji di banyak film bagus, misalnya Captain Phillips bareng bapak legenda Tom Hanks.

2.jpg
Abang Aaron Paul. imdb

Film ini cocok lo tonton kalau lo suka: Hurt Locker, Fury, Zero Dark Thirty, Saving Private Ryan, atau yang banyak psikologinya juga, Sicario.

Nilai

  • Cerita: 9
  • Cinematografi: 8
  • Akting: 8
  • Musik: 8
  • Dialog: 8.5
  • Tempo: Medium (ngga pelan banget, ngga cepet banget)
  • Special effect: 6
  • Rata-rata: 7.92
  • Kesimpulan: Harus nonton!