Idea, Inspirasi, Kepedulian, Tidak ada kategori

Cerdas Cermat untuk Ahklak

1.jpg
Hormat. Foto dari entrepreneur.com

Makan siang hari ini ada yang berbeda sedikit dari biasanya. Orangnya lebih sedikit, tempatnya juga dirumah salah satu teman kami yang tinggal didekat kampus. Kami bertiga makan dengan santai pada awalnya. Sampai Sari bertanya, ”Tuntutan 212 kemarin itu apa sih?” Tidak, tulisan ini bukan tentang itu kok. Dikarenakan sudah ada 102,302 tulisan lain dengan topik 212. Kemudian saya menjawab dengan apa yang saya tahu. Tapi arah obrolan jadi tentang Indonesia. Dan yang paling keren, bagaimana menjadikannya lebih baik. Disatu titik, Puput bilang ”Pinter banget itu belum tentu sejalan dengan attitude” dan menceritakan temannya yang lulus kuliah dengan sempurna kemudian berakhir dengan terlibat di kasus korupsi. Kami pun berandai-andai sejenak. ”Ada ngga sih, lomba pendidikan tapi nilai moral? Misalnya, seperti cerdas cermat, tapi untuk ahklak”

Saya waktu uda pukul 13.00 ketika topiknya lagi seru, sehingga kami harus berpisah. Saya pun memutuskan untuk memikirkan hal ini dalam perjalanan pulang. Tulisan ini akan membahas bentuk ide dari cerdas cermat untuk ahklak tersebut. Teman-teman silahkan komentar dan memberi masukan atau kritikan ya.

WHAT

Konsepnya adalah semacam lomba antar sekolah, tapi kalau biasanya menilai kepandaian akademik, ini menilai kecerdasan moral. Lebih detilnya dibahas di bagian How.

WHY

Kalau Puput bilang, ”Indonesia itu udah banyak orang pintar. Tapi sedikit yang pintar dan berakhlak baik”. Dan pada dasarnya lomba itu esensinya untuk menyemangati, mempromosikan dan meramaikan hal yang diperebutkan. Kalau cerdas cermat bikin murid-murid bersemangat untuk belajar dan jadi pandai, kalau adipura bikin kota-kota semangat untuk bebersih, maka lomba ini mudah-mudahan bisa bikin murid-murid (atau orang dewasa?) lebih cerdas dari segi akhlak.

2.jpg
Menanam cinta. Foto dari eatlovevolunteer.com

HOW

Yang baru bisa saya pikirin sekarang baru dua bentuk. Format kuis dan format adipura. Format kuis misalnya para murid di-satupanggung-kan kemudian diberikan kasus, lalu diberikan waktu untuk diskusi bagaimana penyelesaian masalah tersebut. Dewan juri pun menilai dan di akhir, poin terbanyak yang menang. Mungkin format ini mirip sekali dengan kuis ketika topiknya IPS. Kelemahan format kuis ini adalah, ahklak tidak dilakukan tapi hanya dibahasakan. Tapi menurut saya, tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.

Format kuis bisa juga dibuat lebih dari satu hari. Misalnya dalam 1 bulan. Siswa tiap sekolah diberikan kasus yang berbeda, dan dalam 1 bulan, dilihat sejauh mana mereka menyelesaikan masalahnya. Misalnya SMP1 diberi kasus ”menolong si A, anak di desa XYZ yang ditinggal pergi kedua orang tuanya”, SMP3 diberi kasus ”menolong kakek penjual balon di jalan Diponegoro”. Penilaiannya bukan dari berapa uang yang dihasilkan dari penggalangan dana (misalnya ini jadi solusi mereka), tapi dari seberapa efektif hasilnya kepada target.

Format adipura atau forward anugerah itu seperti model pencalonan teman yang dirasa memiliki rasa sosial yang kuat dan mendalam. Murid-murid diminta mencalonkan temannya di sekolahnya, sambil menyebutkan berbagai alasan dan pengalaman yang dirasakan terhadap seberapa baik ahklak si temannya tersebut. Kenapa mencalonkan teman dan bukan diri sendiri? Karena kalau mencalonkan orang lain itu lebih valid, sederhana, dan tidak sombong. Nobel Prize di Swedia juga menggunakan sistem pencalonan orang lain karena alasan yang sama.

3.jpg
Kebersamaan. Foto dari Apopka Voice

WHEN

Mungkin setahun sekali atau dua tahun sekali.

WHERE

Di lingkungan sekolah, dan mungkin juga universitas.

WHO

Karena di lingkungan pemerintah mungkin sudah ada, dan di lingkungan masyarakat juga ada, contohnya Kick Andy Award, jadi ide ini mungkin meluaskannya saja ke anak sekolah dan mahasiswa.

Nah menurut kamu gimana? Kurang oke apa uda sip ini idenya? Ada tambahan yang bisa bikin lebih sip? Ada kritisi?

TAMBAHAN

  • Belum ada

KRITISI

  • Kalau berhasil, kita malah jadi lomba-lomba jadi orang baik, tapi melupakan pintar akademik?

Maunya sih ngga gitu. Seperti uda dibilang diatas, maunya seimbang. Sekarang ini belum seimbang karena lebih banyak yang pintar tapi ngga terlalu pedulian (salah satu kelemahan dari banyak).

  • Belum ada