Inspirasi, Kepedulian, Psikologi

Membela Yang Lemah

gambar dari livingfreelance.org
gambar dari livingfreelance.org

Awal bulan kemarin, gue bareng temen-temen bule nonton pertandingan hoki es di kota Göteborg. Pertandingan waktu itu antara tuan rumah melawan tim tamu dari kota Luleå. Kami duduk di sisi pendukung tim tuan rumah. Padahal sebenernya gue mendukung Luleå. Pada setiap kesempatan Luleå menyerang, gue bersorak untuk mereka. Sampe temen gue Andres marahin gue, katanya bahaya kalo dukung tim tamu kalo duduk di sisi sini. Nah selain gue, yang mendukung tim tamu tuh ada satu lagi temen kami, yaitu si Bila dari Polandia. Sebagai dua orang pendukung tim tamu dari grup kami, gue nanya dia dong, ”Eh kamu kenapa dukung Luleå?” gue menebak-nebak kalo mungkin dia ngerti hoki atau dia suka warna benderanya Luleå.

”Oh, gue selalu dukung tim tamu kalo di pertandingan gini. Karena mereka sedikit pendukungnya”

Gue ngga bereaksi apa-apa kalau keliatan dari luar. Tapi dalam hati, gue bersorak ”Woooaaaah coool!” Apa ya, menurut gue bagus aja punya pemikiran kaya gitu. Membela yang sedikit. Mendukung yang tidak banyak didukung. Bukan cuma karena kasihan, tapi karena simpati dan empati juga. Suporter tim tamu memang seringnya kalah jumlah, kalah nyaring dari suporter tim tuan rumah. Sehingga pasti senang sekali jika ada penonton diluar grup mereka yang ikut mendukung. Misalnya ketika baru-baru ini, di final piala AFF bagian kedua di Thailand. Pendukung Thailand sempat meneriakkan ”In-do-ne-sia!” untuk mendukung tim tamu (Indonesia). Ngga tau sih kalian, tapi gue seneng banget kala itu. Merasa dihargai.

Emangnya perlu ya, membela yang sedikit?

Pertanyaan dan situasi seperti diatas itu juga tergambar di situasi Indonesia yang sedang hangat baru-baru ini. Yaitu tentang toleransi beragama. Jawaban singkatnya menurut gue, perlu banget. Sedikit itu seringkali bikin orang menjadi tidak berani bersuara jika tertekan, tidak berani melawan jika diserang, atau tidak membantah jika diperintah. Dan jika itu terjadi, berarti keadilan sosial tidak tegak dan tidak merata ke semua penduduk Indonesia. Sedangkan itu salah satu yang harus kita junjung. Nah salah satu jawabannya udah kita bahas tadi, yaitu dengan membantu dan mendukung kelompok minoritas. Minoritas disini tentu tidak selalu dalam agama. Tapi juga dalam suku, ras, ataupun pemikiran.

Minoritas. Gambar dari bkmag.com
Minoritas. Gambar dari bkmag.com

Yang lebih keren dari mendukung minoritas: membela yang lemah

Ini udah diajarin dari kita kecil. Dalam pelajaran pendidikan moral di sekolah ada, di agama ada, di rumah diajarkan orang tua juga, di televisi diajarkan oleh pahlawan super pula. Menurut gue harusnya ini udah melekat di setiap orang. Tapi nyatanya ngga, dan gue ngerti banget kalo ngga semua orang bisa memahami nilai-nilai dasar yang harus kita pegang. Mungkin itu seninya hidup. Ngga mungkin semua orang baik.

Kalau sebelumnya kita mendukung minoritas agar haknya tetap didapat, kita belum berbicara variabel lain yaitu kekuatan sosial. Minoritas bisa aja sedikit dalam jumlah, tapi dalam pengaruh, dalam ekonomi, bisa aja lebih kuat. Dalam bagian ini, membela yang lemah itu memastikan kalau yang kita bela itu benar-benar yang membutuhkan pertolongan atau pembelaan. Misalnya antara warga desa yang mata pencahariannya terganggu karena limbah pabrik. Dimana dalam hukum, biasanya warga desa kalah kekuatan hukum. Atau yang mudah aja deh, kalau ada bully di sekolah. Geng nakal menganggu kutu buku untuk mendapatkan contekan. Itu harus kita bela.

Gambar dari giphy.com
Gambar dari giphy.com

Bisa naik level lagi? Bisa! Membela kebenaran

Ini juga udah disebut terus dari kita kecil. Ada satu lagi indikasi besar malahan yang seharusnya bisa membantu kita semua untuk membela kebenaran, yaitu hati nurani. Suatu komponen super canggih yang bisa otomatis membedakan hal yang baik dan buruk, hal yang benar dan salah, yang bisa kita gunakan ketika kita bingung. Tapi apalah daya, terkadang jalan menuju kesana sedikit berkabut sehingga kita sulit mencarinya.

Sebelumnya sudah ada minoritas atau jumlah sedikit, dan juga kuat lemahnya suatu kelompok yang kita harus bela atau dukung. Tapi keduanya belum tentu membuatnya menjadi otomatis benar. Jika salah, ya sudah pasti harus disebut salah. Tetap dijaga haknya, tapi tidak kita sebut benar. Tapi jika benar, nah inilah yang udah pasti membuat kita harus membelanya.

Cap, si pembela kebenaran. Gambar dari cinemagogue.com
Cap, si pembela kebenaran. Gambar dari cinemagogue.com

Misalnya saja, kita sebagai rakyat biasa yang setiap hari bekerja naik motor ke kantor. Jalanan semakin hari semakin macet. Himpitan ekonomi membuat kita menjadi pusing setiap hari dan harus bekerja di dua tempat dan beradu dengan waktu agar tidak terlambat. Satu cara yang kita gunakan agar cepat sampai adalah dengan melawan arus lalu lintas, naik ke jalur bis khusus, ataupun menerobos lampu merah. Kita bisa aja jadi kelompok yang lemah dan kelompok minoritas, tapi salah tetap saja salah.

Semakin banyak variabel yang kita ikutkan, akan semakin sulit menentukan pilihan harus berbuat apa. Apalagi di era informasi berlebihan seperti sekarang ditambah canggihnya mereka para ”juru setir situasi” untuk memainkan logika dan membuat sesuatu terasa benar, padahal masih dipertanyakan kebenarannya. Gue ngga punya jawaban mutlaknya untuk mencari kebenaran. Tapi kita bisa pake empati untuk banyak hal, termasuk hal ini. Dengan coba mikirin kalo jadi mereka, kalo jadi orang yang sedang ditekan, sedang dihukum, sedang dikecilkan.

Karena walaupun misalnya ngga mungkin semua orang di dunia akan jadi baik, atau perdamaian didunia itu ngga akan bisa terjadi, yang paling penting adalah kita berusaha.