Jalan Jalan, Stockholm, Teman

Bermalam Di Alam Kota Stockholm

Dalam dunia wisata, kata “alam” dan “kota” jarang muncul berdampingan, karena biasanya didalam kota tidak ada alam, pun di alam tiada kota. Tapi di Stockholm, bahkan kotanya punya banyak area hutan. Namun jika melihat Swedia yang 97% nya adalah alam (danau, gunung atau hutan) yang tidak dihuni [1], hal ini tidak mengherankan.

Dekatnya alam jugalah yang membuat penduduk Swedia selalu datang dan melakukan berbagai aktifitas. Tidak terkecuali dengan kami, para pelajar Indonesia yang sedang tinggal di Stockholm. Malam minggu kemarin kami habiskan di sebuah hutan kecil di daerah Nacka. Ini bukan kali pertama teman-teman Persatuan Pelajar Indonesia di Stockholm (PPI Stockholm) berkemah di alam. Dari tahun ke tahun selalu ada satu atau dua kali perjalanan berkemah, namun jumlah pesertanya biasanya hanya 4-5 orang. Sabtu kemarin, ada 11 orang yang ikut. Termasuk 3 orang mahasiswa baru yang baru sekitar dua minggu tiba di ibukota.

Untuk saya sendiri, ini tanda yang sangat bagus. Tanda bahwa teman-teman PPI Stockholm membaur seperti orang lokal dan mencontoh kebiasaan baiknya. “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, kalau kata pepatah kita. Dari 11 orang kemarin, ada yang pertama kali berkemah di Swedia. Bahkan ada juga yang baru pertama kali berkemah seumur hidupnya. Ketika ditanya kesannya, semua teman-teman menikmati pengalaman berkemah kemarin.

zidni.jpeg
11 orang, 6 tenda. Foto oleh Gregorius Kristian
fahmi.jpeg
Tendas. Foto oleh Suci Layung Sari

Misalnya bagi Artika Farmita, yang walaupun sudah ke Kawah Ijen tiga kali, tapi belum pernah berkemah di alam Indonesia. “Di Indonesia jarang diajak, kalau di sini (Swedia) terasa lebih kebersamaannya dan saling mengajaknya”. Teman satu tenda Artika, Kiki Rizki, juga bangga akhirnya bisa berkemah untuk pertama kalinya. “Kita tibanya terlalu sore. Seandainya agak siang, kita mungkin bisa melakukan jerit malam di malam harinya”, jelasnya seraya tertawa. Kiki juga menambahkan, siap ikut jika akhir pekan depan akan diadakan kemah lagi.

Berkemah di Swedia dan Indonesia banyak juga perbedaannya. Bagi Gregorius Kristian-biasa disapa Ian-, perbedaan paling besarnya yaitu jarak dan kelembapannya. “Di Indonesia (Bandung) kalau mau berkemah harus berkendara jauh, disini dekat sekali lokasi kemahnya. Selain itu di sini juga lebih dingin, tapi bagus karena tidak ada nyamuk”, kata Ian. Maria berpendapat sedikit berbeda. Sudah menyukai kegiatan di alam sejak di rumahnya di Bali, menurut Maria suhunya sama saja. “Di Bali juga sama dinginnya, tapi betul, harus berkendara agak jauh dulu”, timpalnya lagi.

3.JPG
Kamar. Foto oleh Agys Badruzzaman.
deny.jpeg
Teman di air. Foto oleh Suci Layung Sari

Sabtu kemarin ketiga kalinya kami berkemah di musim panas ini. Dua minggu lalu, kami juga berkemah di tempat lain dan diikuti oleh Ela dan Rama. Kala itu, rutenye sedikit keluar kota, dan dari tempat pemberhentian bis, kami harus berjalan sedikitnya 5 kilometer ke titik perkemahan. Rama bilang jalurnya jauh dan melelahkan. Tapi kemudian ketika sabtu kemarin Rama ikut lagi, saya penasaran dan bertanya, “Apa tidak takut capek lagi seperti kali kemarin kita kemah?”

“Mumpung masih belum dingin”, jawab Rama singkat.

Memang waktu untuk bisa berkemah sebelum mulai dingin tidak terlalu lama lagi. Mungkin pertengahan September sudah mulai terlalu dingin dan memerlukan perlengkapan yang lebih baik lagi agar bisa terasa nyaman.

Tapi kenapa sih kita harus berkemah? Apa benar berkemah ini sebagus kedengarannya?

Jawaban saya pasti bias sih, karena saya suka alam dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan di alam. Tapi dulu saya juga tidak terbiasa, dan baru mulai suka ketika tinggal di Swedia sini. Kalau dari segi kesehatan, jelas berjalan itu kan sehat. Apalagi di alam itu udaranya lebih bersih. Berenang di danau juga olahraga, dan olahraga berarti sehat. Dengan berjalan di alam, mengajak teman dan keluarga (khususnya anak), kita bisa mempromosikan alam. Kalau semua orang suka alam, kita semua akan lebih menjaganya, dimanapun kita berada.

2.JPG
Wefie 11. Foto oleh Maria.

Dikembalikan sebentar ke Indonesia. Tadi sudah sempat saya ceritakan keuntungan bermain ke alam di Swedia, adanya hutan dan danau yang bagus juga menambah asyiknya bertualang di alam Swedia. Tapi kecantikan alam Swedia dengan Indonesia? sudah jelas Indonesia pemenangnya. Air terjun tertinggi di Swedia, hanya setinggi air terjun di Bogor. Gunung tertinggi di Swedia juga hanya 2100 meter, kalah jauh dari Rinjani dengan puncaknya yang 3726 meter. Pemandangan bawah lautnya apalagi. Poin saya adalah, Swedia itu tempat yang baik untuk “latihan”, sebelum nanti kalau kita pulang, kita jadi makin sadar kalau alam kita itu indah banget, dan mari kita jelajahi juga.

Karena dengan mengenal, maka kita menyayang.

/SCL
Sumber:
[1] https://sweden.se/nature/swedes-love-nature/