Film, Inspirasi, Psikologi, Ulasan

Apa Benar Birdbox Sebagus Kata Orang?

Menurut orang pintar, kalau bingung dengan suatu pilihan, lihat saja statistik. Mungkin berlaku juga untuk film, dimana dalam ulasan gue kali ini, kita bahas Birdbox. Film yang sebenarnya udah ngehist satu atau dua bulan lalu, gue baru tonton hari ini. Kebanyakan orang bilang film ini bagus. Tapi apa itu benar?Bukan Satu namanya kalau langsung percaya tanpa mempertanyakan banyak hal disekitar suatu pendapat. Udah gitu gue juga cenderung anti-mainstream, jadi kalo banyak orang yang suka, gue lebih skeptis terhadap pendapatnya.
Seputar Birdbox
Buat yang belum nonton dan belum tau, Birdbox ini genre nya thriller. Menceritakan situasi apocalypse (kekacauan, mirip kiamat) dimana ada semacam wabah atau monster yang jika kita melihatnya, kita akan terhipnotis dan kemudian akan bunuh diri. Tokoh-tokoh di film pun kehilangan orang-orang yang mereka sayang. Kehilangan kepercayaan dengan orang lain juga. Kehilangan harapan hidup sih yang paling ga asik.
Film ini dimainkan oleh aktris senior kebanggaan kita semua, mbak Sandra Bullock. Udah ga perlu dipertanyakan lagi sih kalo mbak Sandra. Dan emang beliau mainnya bagus di film ini. Mungkin lebih bagus dari waktu dia main di Gravity.
Pernah denger ciri-ciri film horor bagus menurut gue? Yaitu ada dua unsur ini: drama dan anak-anak. Nah ternyata di film thriller syarat itu juga bisa dipake. Birdbox punya keduanya, dan engga di kadar yang tanggung-tanggung. Ada satu lagi kekuatan di film ini, yaitu nilai dibelakangnya. Nanti gue ceritain dibawah.
Score card / Kartu nilai

  • Storyline: 8.5
  • Sinematografi: 8
  • Akting: 8 (Mbak Sandra 9)
  • Audio: 7
  • Film lain yang mirip: A Quiet Place, The Happening

Singkat cerita, film ini gue rekomendasikan banget buat yang suka film psikologi dan thriller. Atau yang udah nonton A Quiet Place atau The Happening dan suka, nah bisa juga tuh nonton film ini karena feel-nya sama. Gue juga tadinya udah tau Birdbox akan mirip A Quiet Place, tapi sebagai penggemar Emily Blunt, gue menduga pasti hasil akhir perbandingan kedua film ini, akan dimenangkan oleh A Quiet Place.
Dan gue ternyata salah.

Dari indiewire.com
Dari indiewire.com

Ulasan cerita lebih dalam (berisi spoiler)
Mulai ulasan film edisi ini, gue mau tulis lebih jauh tentang cerita sebuah film dan dampak yang gue rasa. Karena gue rasa penting juga untuk bahas impresi dan nilai yang kita dapat dari suatu film, dan itu akan susah dilakukan kalau kita engga bahas ceritanya dengan lengkap. Jadi yang belum nonton filmnya dan engga mau baca spoiler, berenti baca yaaa.
Sebagai penyuka film bertema apocalypse, gue udah tertarik dari awal film. Ditambah lagi situasi mbak Sandra yang sebelum wabah datang, sedang hamil. Ditambah dia bukan jenis orang yang mendambakan anak pula. Jadilah konflik berlapis. Kakak yang sayang dan selalu dukung dia, gone juga karena wabah. Coba deh bayangin jadi dia, pusing banget kan tuh pasti. Putus asa.
Ada satu hal yang biasanya beda dengan film-film wabah lainnya: jagoannya langsung percaya di pandangan pertama. Ketika liat ada cewe jedot-jedotin kepala di rumah sakit, dia langsung punya asumsi kalau wabah yang tadinya cuma di Eropa dan Rusia, udah sampe ke kota mereka. Ini bisa jadi plus suatu film, bisa juga minus sih.
Nilai pertama yang gue petik: selalu liat pola disekitar, dan percaya insting kita.
Sifat-sifat di masa krisis
Ketika mbak Sandra berlindung di sebuah rumah bareng beberapa orang lain, udah biasa kan tuh ada karakter berbeda-beda. Ada yang ga percaya sama orang baru dan ga mau banget nerima orang luar masuk ke rumah. Ada yang baik banget, maunya semua orang diterima kedalam rumah. Ada tentara, ada nenek, ada anak bandel, dan lain-lain. Biar lengkap aja gitu kan. Ini standar lah. Yang seru adalah berpikir: kita jenis yang mana kalau di situasi itu?
Dalam krisis, kita kemungkinan besar engga bersifat sama kaya kita di kondisi normal. Dan mungkin kebanyakan dari kita belum tau sifat kita di kondisi krisis itu gimana. Menarik sih menurut gue untuk memikirkan kemungkinan ini.
Di film ini ditunjukkin empat kali orang rumah membuka pintu untuk orang luar. Dua yang pertama orangnya baik (termasuk mbak Sandra), yang ketiga jahat dan memakan 1 korban, dan yang keempat terlihat baik, padahal jahat (memakan 4 korban). Kalo gue sendiri memikirkan kemungkinan ngasih orang masuk kerumah, itu akan filter banget, dan kalo pun iya, akan di isolasi dulu beberapa saat. Sampai bisa dipercaya.

4.JPG
Foto dari Netflix

Hidup aman dan menetap sampai mati, atau mati sambil mencari tempat yang lebih baik?
Ini bukan cuma pertanyaan untuk film ini sih ya. Ini berlaku juga untuk situasi kehidupan kita pada umumnya. Beberapa orang nyebut opsi pertama sebagai comfort zone. Memilih opsi pertama tentunya ga lebih buruk atau lebih baik dari opsi kedua. Itu semua balik ke pilihan masing-masing. Kalau tujuannya untuk hidup aja, mungkin opsi pertama bagus (dalam konteks film Birdbox). Kalau tujuannya kemanusiaan, masa depan anak (agar anak-anaknya ketemu anak-anak lain), mungkin opsi kedua bagus juga dicoba, walaupun beresiko besar.
Ini berhubungan juga dengan yang mbak Sandra berantemin sama pacar barunya di garasi. Ketika si pacar cerita tentang mimpi yang indah ke anak-anaknya, sedangkan mbak Sandra menganggap bercerita tentang mimpi itu adalah kebohongan. Pemberi harapan palsu (PHP), karena udah jelas di situasi saat ini, ga akan ada lagi mimpi-mimpi indah. Wong bertahan hidup aja udah sulit. Si abang tentara ga setuju. Doi bilang kita semua itu harus punya mimpi, harapan, dan kita bisa maju karena ada mimpi itu. Jadi kita berusaha mewujudkannya, apalagi untuk anak-anak kita.
Ini sedikit mirip konsep Greater purpose yang gue baca di Quore beberapa hari lalu. Katanya, kalau kita mau bahagia, harus ada greater purpose (tujuan yang besar). Contohnya, kalau kita suka makan es krim sambil duduk di sofa menonton televisi, itu juga bikin bahagia, tapi tidak ada greater purpose-nya. Greater Purpose itu mungkin semacam, setelah orang tua kita meninggal karena kanker, kita bertekad menemukan obat kanker sehingga anak lain tidak kehilangan orang tua karena kanker. Gitu kali ya?
Nilai besar dari Birdbox
Sampai sebelum akhir film, gue masih menunggu-nunggu nih “nilai dari film ini apa sih?”. Ketika mbak Sandra sampai ke tempat perlindungan yang terakhir, dan tertulis disitu “School of the blinds” (sekolah anak-anak buta), baru deh gue sadar. Ini mungkin soktau dan nilai yang kalian resapi beda-beda, tapi gue jadi merasa pembuat filmnya itu pengen fokusin orang-orang buta ini sebagai orang yang selamat di dunia yang kondisi nya keras bagi orang-orang yang bisa melihat. Ketika penglihatan diambil, semua orang kesulitan, dan para orang buta yang justru selamat.
Menurut gue, nilainya adalah: kita bisa belajar dan sadar, kalau berjalan dalam gelap itu susah banget.
Jadi kita berempati maksimal sama mereka yang engga bisa melihat. Dunia di film Birdbox itu mungkin sedikit lebih enak, karena ke supermarket untuk ambil bahan makanan, jalanan kosong (semua yang ditabrak udah ga hidup). Tapi untuk dunia kita sekarang, orang-orang buta susah banget jalan di trotoar tanpa hambatan. Jumlah orang banyak banget. Kendaraan lalu-lalang. Hingar bingar lalu lintas. Belum lagi mereka yang suka mencerca dan nge-judge.
Menurut gue itu sih. Menurut lo gimana?