Film, Inspirasi, Psikologi, Ulasan

Jagoan Aksi Baik Hati di Film Equalizer 2

Buat gue, film aksi itu dari bobotnya, bisa dibagi ke dua kategori: ringan dan berat. Ringan itu misalnya kaya film Avengers, atau Fast and Furious. Bukan berarti tidak ada nilai moral yang bisa diambil, tentu saja ada. Tapi cenderung tidak sedalam di kategori kedua. The Equalizer 2 ini masuk ke jenis yang berbobot karena menurut gue sarat akan nilai baik, yang kalau tidak dicermati, bisa terlewati. Mari kita simak ulasannya!
Pertama-tama, buat yang suka film aksi, pasti udah engga asing dengan film semacam ini. Sebut aja Taken (1,2 dan 3), atau pun John Wick (1 dan 2). Dimana jagoan dengan piawainya seorang diri mengatasi banyak penjahat-penjahat. Kedengerannya klise dan tidak mungkin. Tapi gue termasuk orang yang percaya kalau ini mungkin-mungkin aja. Buat gue The Equalizer 2 ini lebih bagus dari Taken dan John Wick. Walaupun gue suka banget John Wick yang pertama, tapi tetap ada 1 hal yang engga ada di John Wick dan sarat adanya di The Equalizer 2, yaitu si jagoan yang juga membantu orang sekitarnya. Tapi kita spoiler-nya nanti aja dibelakang.
The Equalizer 2 bercerita tentang mantan polisi yang hidup sendiri dan mengisi kehampaan hidupnya dengan membantu orang disekitarnya. Dia hidup sederhana sebagai supir taksi, dan ketika dia melihat orang yang perlu dibantu, dia akan langsung membantu. Ga peduli bantuannya mulai dari membersihkan tembok yang dicorat-coret, sampai mengejar komplotan bandit di benua lain. Berharap dari menolong orang, dia bisa mengisi kekosongan hati setelah istrinya meninggal. Gaya hidup si Robert (jagoannya) sama seperti di film The Equalizer yang pertama. Setelah dia memalsukan kematiannya, engga ada orang yang tau kalau dia masih hidup, jadi hidupnya tenang sebagai warga biasa. Cuma ada 1 temannya yang tau dia masih hidup, yaitu Susan, seorang ketua interpol yang dulu pernah kerja bareng Robert. Ketika menyelidiki sebuah pembunuhan di Belgia, Susan masuk dalam sasaran target komplotan penjahat kelas atas, dan akhirnya terbunuh. Robert pun mulai menyelidiki kasus ini.
Dari jalan cerita, sebenarnya engga begitu baru dan spesial. Lumayan ketebak walau ada plot twist di awal hingga tengah cerita. Tapi tetap aja, “remahan” atau pelajaran-pelajaran kecil yang gue liat, itu berharga banget sih buat gue. Yang bikin gue harus nulis ulasan tentang film ini. Lebih dalamnya gue akan bahas di bagian spoiler dibawah. Tapi gue rasa baiknya kalian nonton dulu tanpa baca spoilernya.
Kartu nilai

  • Cerita: 7
  • Sinematografi: 8
  • Audio: 7.5
  • Aksi: 8
  • Film yang mirip: John Wick (1,2), Taken (1,2,3)
  • Rating umur: 18 keatas (banyak adegan sadis)

Tentang adegan sadis, emang agak banyak dan engga mild. Engga santai. Bagi kalian yang agak takut sama adegan sadis, harus siap-siap ketika udah berantem. Tapi buat yang udah biasa, enak sih justru. Soalnya hukuman-hukuman yang dikasih sama si Robert untuk penjahatnya, itu kaya sesuai sama porsinya. Ini gue bicara pake standar gue aja ya, standar orang bisa beda-beda.

2.JPG
Dari the economic times

Yuk bahas lengkap “remahan”-nya! (peringatan, bagian di bawah ini ada spoilernya)
Seperti gue uda bilang sebelumnya, John Wick itu keren banget dan padat aksi. Membela kebenaran juga. Tapi dia lebih ke membela dirinya sendiri. Robert di film The Equalizer ini, melakukan hal yang lebih keren. Sesuatu yang gue namain Random Act of Kindness. Aksi membantu orang tanpa direncanakan. Kita liat ada masalah dan seseorang ga bisa menyelesaikannya sendiri, si Robert akan bantu. Dan kerennya, bahkan dia diem-diem sampai si orang yang dibantu engga tau kalau itu si Robert yang membantu.
Aksi bantuan keren pertama, itu dia pergi ke Turki untuk mengambil kembali seorang anak yang diambil oleh bapaknya (dari ibunya). Padahal bapaknya anggota gembong penjahat. Dan setelah berhasil, dan si anak kembali pada ibunya di Amerika, ibunya pun engga tau siapa yang bawa anaknya pulang. Dan setelah beberapa adegan, kita tau kalau si ibu itu penjaga toko buku yang jadi langganan Robert. Jadi dia tau masalah anak diculik itu ketika nguping pembicaraan di toko aja. Disini gue uda mulai berbinar-binar.
Aksi kedua, ketika Robert jemput seorang cewe dari kondominium mahal. Cewenya keliatan kaya sakau dan mabok gitu. Laki-laki yang anter si cewe sampe ke mobil pun cuma berpesan, “tolong anter dia ke rumah ya”. Robert ngeliat dengan seksama, dan langsung tau kalau si cewe abis dicekokin narkoba trus diperkosa. Doi balik dong ke kondominium itu. Pura-pura bayaran taksinya ga berhasil (pake kartu kredit). Dan teori dia tentang narkoba benar. Si kelompok anak-anak muda tajir ini lagi pesta narkoba. Langsunglah dia mulai aksinya dan matahin tangan tiap anak muda yang ada disana. Robert bilang gini, “Biasanya di tiap kejahatan, gue nawarin kesempatan buat memperbaiki. Tapi kali ini engga. Duit bokap lo ga akan bisa nolong lo sekarang” Si cewe yang dianterin tadi, dia anter ke rumah sakit untuk dapet penanganan medis segera.
Banyak lagi deh hal-hal keren yang dilakukan Robert dalam membantu orang yang dia temuin dengan engga sengaja. Ada seorang kakek agak pikun yang jadi langganan dia untuk dianter dari rumah ke rumah sakit. Si kakek cerita tentang adeknya yang udah 60 tahun dia engga ketemu dan kehilangan kontak. Ketika orang lain termasuk perawat si kakek engga percaya dan engga mau bantuin nyari, si Robert tentu aja percaya dan bantuin. Sampe di akhir film, si kakek akhirnya ketemu sama adeknya. Pas liat adegan ini, gue langsung mikir, “bisa ga sih gue jadi orang kaya si Robert?” Nikmat banget pasti ya. Punya kehebatan kaya dia dan bantu orang tanpa pamrih, disaat orang lain ga mau bantu.

2.JPG
Dari Variety.com

Nilai paling pentingnya baru akan gue sebut: memberi harapan
Gue liat adegan-adegan diatas aja, rasanya udah suka banget sama filmnya. Dan ternyata masih ada lagi nilai yang lebih penting dari yang udah gue sebut diatas. Di film ini, sedemikian rupa penulis menggambarkan betapa “super hero” nya si Robert, dengan jadi orang yang memberikan harapan. Ada dua kejadian setidaknya yang gue sadarin.
Pertama ketika Robert nganter tentara yang akan bertugas ke Irak. Dinas pertamanya si anak muda ini. Karena pertama, dan di daerah perang, kita ga tau dong dia akan pulang apa engga. Si Robert bilang gini ke dia,
“Nanti ketika lo balik, gue akan jemput lo lagi di bandara”
Kedengeran sederhana, kalo kita ga sadar ada nilai harapan positif di kalimat itu. Dan menurut gue nilai ini penting banget banget. Nilai kalimat ini lebih dari kalimat yang umumnya disebutin orang tua kita, “Hati hati ya nanti disana. Jangan lupa makan. Harus cari yang aman-aman”. Kalimat si Robert sudah selangkah lebih maju, dan berasumsi kalau si tentara ini akan pulang dengan selamat.
Ada satu lagi yang lebih grande. Si Robert punya tetangga namanya Fatima. Ada adegan dimana si Robert nyapa dengan “Assalamualaikum” juga lagi. Nah suatu pagi, kebun nya Fatima ada yang acak-acak (ga ketauan siapa. Pagi-pagi uda berantakan). Dan tembok didepan kebunnya dicoret-coret. Robert pun ngajak anak muda yang kuliah desain, untuk bantu menghapus coretannya. Di akhir film, coretannya bukan cuma terhapus, tapi ditimpa sama gambar baru, tau ga gambar apa yang ada di tembok yang tadinya polos itu?
Gambar kebun luas yang lagi panen, dan banyak orang senang dapat hasil dari kebunnya, dan ada Fatima lagi senyum, di depan kebunnya.
Lagi-lagi, ini harapan. Sesuatu yang engga sederhana dan dampaknya masif buat yang orang kaya Fatima, yang abis kena kesulitan. Ini membuat orang merasa diperhatikan, didukung, dibilang “lo pasti akan bisa bangkit dan lompat lebih tinggi”
What a movie. What a value.
Terima kasih udah baca ulasan gue!
/SCL