Tentang Gue

Pertama-tama, terima kasih sudah mampir ke blog gue yang berantakan ini.

Gue Satu. Panjangnya Satu Cahaya Langit. Kelahiran Desember 1986. Profesi masih mahasiswa S2 computer science, sambil kerja sebagai support engineer di salah satu fintech di Stockholm, sambil jadi CEO start-up pariwisata bernama Kamar Pelajar. Hobi motret, hiking, nulis, main gitar, nonton film, ngobrol dan brainstorming, juga main badminton.

Suka juga dengan dunia volunteering dan bakti sosial. Karena menurut gue, salah satu makna kehidupan itu adalah untuk saling bantu. Kaya ada rasa “lengkap” yang cuma bisa dirasakan kalo kita bisa membantu orang yang membutuhkan banget. Pernah ga sih merasa kaya gitu? Ini juga datang dari bokap gue yang sejak gue kecil ngajarin gue untuk selalu berbagi ke orang yang kurang mampu (khususnya yatim piatu).

Selaras dengan itu, cita-cita gue adalah menjadi pejabat publik (menteri, DPR, gubernur, presiden?) biar gue bisa membantu orang lebih banyak lagi.

Gue juga suka ngajar. Masih senada dengan minat bantu-membantu, kalo bisa bikin orang lain lebih mengerti tentang sesuatu yang baik dan belum mereka mengerti, itu rasanya enak banget. Apalagi kalau itu sesuatu yang mereka bisa pake terus. Jadi cita-cita gue juga adalah jadi guru atau dosen paruh waktu. Dari 2010 gue udah sedikit ngajar anak-anak jalanan dan marjinal di Jakarta. Ngajar gitar dan fotografi juga pernah. Ngajar coding juga. Apa aja yang gue bisa lah pokoknya.

Musik gue itu lumayan variatif. Sesekali yang lembut kaya Kings of Convenience atau Aurora atau Keane. Sesekali yang keras kaya System of a Down atau Disturbed. Sesekali Jepang-jepangan kaya Tokyo Jihen atau L’Arc en Ciel. Sesekali 8bit kaya Professor Sakamoto atau YMCK. Sesekali Indie Indonesia kaya Zat Kimia dan Anomalyst.

Kalo traveling, gue suka banget destinasi alam. Kaya hiking di Swiss atau di Norway. Atau snorkeling di depan Pantai Merah di Pulau Komodo.

Sekarang lagi tinggal di Stockholm, Swedia, sama Suci (istri) dan Alunan (anak). Engga lama dan engga menetap, karena kan gue ceritanya mau balik dan kontribusi ke Indonesia.

Gue menganut beberapa aliran, misalnya Lagom dari Swedia. Yang artinya “tidak lebih, tidak kurang. secukupnya”. Yang bisa diaplikasikan di banyak banget aspek kehidupan. Kalau makan, engga banyak engga sedikit. Kalau punya rumah, engga terlalu besar, engga terlalu kecil. Mirip-mirip sama ajaran sederhana di Islam.